Minggu, 18 Nopember 2018

MBS, Jamal Khashoggi, dan Jenderal Ahmed al-Assiri

Selasa, 23 Oktober 2018 09:57:58 WIB
Reporter : Ainur Rohim
MBS, Jamal Khashoggi, dan Jenderal Ahmed al-Assiri
Letjen Ahmed Al-Assiri, Wakil Kepala Badan Intelijen Arab Saudi. [Foto: AFP/BBC]

Setelah 17 hari secara keras menyangkal, Arab Saudi, melalui televisi nasional, akhirnya mengakui bahwa wartawan veteran Jamal Khashoggi, tewas "dalam perkelahian di kantor konsulat" Saudi di Istanbul, Turki.

Sebagaimana dilansir BBC, Senin (22/10/2018), ini untuk pertama kalinya pihak berwenang Saudi mengakui Khashoggi telah meninggal dunia.

Terungkap pula bahwa Wakil Kepala Badan Intelijen Arab Saudi, Ahmed al-Assiri dan penasehat media kerajaan Saud al-Qahtani, yang dikenal dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), dipecat Raja Salman.

Letnan Jenderal Ahmed al-Assiri adalah salah satu tokoh kunci di lingkaran dalam Putra Mahkota. Namanya meroket saat diangkat menjadi juru bicara Saudi dan koalisi pimpinan Saudi yang melancarkan perang di Yaman pada Maret 2015.

Selama dua tahun kemudian, ia menjalin kedekatan dengan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan menjadi arsitek perang di Yaman.

Jenderal Assiri fasih berbahasa Arab, Inggris, dan Prancis dan pintar menjelaskan argumen Saudi saat menjawab tuduhan bahwa militer Saudi semena-mena melakukan pengeboman di Yaman.

Pada Maret 2017 ia menghadiri konferensi internasional di London. Sejumlah pemrotes mencoba menahannya dan melempar telur ke arah Jenderal Assiri sebelum ia memberikan sambutan.

Rekaman video memperlihatkan, ia sangat marah dan menunjukkan jari tengah untuk mengirim "pesan provokatif" kepada para pemrotes.

Tak lama setelah kunjungan di London ini, ia diangkat menjadi wakil kepala badan intelijen Saudi.

Penunjukkan sebagai orang nomor dua di badan intelijen dianggap sebagai penghargaan atas kariernya yang cemerlang di militer. Pencapaian yang luar biasa bagi seseorang yang berasal kota kecil Muhayil di Provinsi Assir, di Saudi Barat.

Di dinas kemiliteran ini, Assiri dilaporkan pernah mengenyam pendidikan di akademi militer bergengsi, seperti di Sandhurst (Inggris), West Point (Amerika Serikat), dan St Cyr (Prancis).

Sebagai perwira tinggi, Jenderal Assiri punya wewenang taktis untuk mengambil keputusan, namun sejauhmana perannya dalam pembunuhan Jamal Khashoggi belum jelas benar.

Menurut satu sumber yang dikutip media Amerika Serikat, The New York Times, Jenderal Assiri diperkirakan mendapatkan otorisasi lisan dari Pangeran Mohammed bin Salman untuk menangkap Khashoggi dan membawanya ke Saudi untuk diinterogasi.

Sebelum kabar pemecatannya terungkap hari Sabtu (20/10/2018), The New York Times memberitakan bahwa Saudi akan menjadikan Jenderal Assiri sebagai "kambing hitam" tewasnya Khashoggi agar perhatian tak mengarah kepada MBS. Sementara itu, sebagaiman dilansir BBC, Selasa (23/10/2018), pejabat senior AS melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, meskipun muncul keprihatinan tentang keterlibatan Arab Saudi dalam pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin bertemu Mohammed bin Salman di Riyadh pada Senin (22/10/2018). Media pemerintah Saudi melaporkan bahwa Menteri Keuangan Amerika dan Putra Mahkota sama-sama menekankan pentingnya kemitraan strategis antara kedua negara.

Sebelumnya, Presiden Trump mengatakan ia tidak puas dengan penjelasan Saudi terkait dengan kematian Khashoggi. Minggu lalu, Steven Mnuchin, bersama dengan banyak pejabat dan pengusaha, mengumumkan tidak akan menghadiri konferensi investasi di Riyadh pekan ini sebagai tanggapan atas pembunuhan Khashoggi.

Para pejabat Turki mengatakan Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul setelah dia mengunjunginya pada awal Oktober lalu.

Semula sejumlah pejabat Saudi memberikan berbagai keterangan yang saling bertentangan. Tetapi belakangan mereka menyebut pembunuhan Khashoggi sebagai "operasi ugal-ugalan", tetapi bukan atas perintah Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dia akan mengungkapkan "kebenaran apa adanya" terkait pembunuhan Khashoggi di parlemen pada Selasa.

Apa yang diketahui dari pertemuan di Riyadh? Media pemerintah Saudi melaporkan bahwa Menteri Keuangan Amerika dan Putra Mahkota sama-sama menekankan pentingnya kemitraan strategis antara kedua negara. Pertemuan yang digelar di ibukota Saudi itu dilakukan secara tertutup dan AS sejauh ini belum memberikan penjelasan terkait isi pertemuan tersebut.

Walaupun belum ada penjelasan dari pertemuan itu, Mnuchin - seperti halnya juga sejumlah politisi dan pengusaha Barat lainnya - telah menyatakan tidak akan menghadiri forum investasi yang digelar pekan ini di ibu kota Saudi.

Dan pernyataan terbaru Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS belum memutuskan sikap terkait perkembangan terbaru kasus Khashoggi. "Saya tidak puas dengan apa yang saya dengar," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Tetapi dia menambahkan: "Saya tidak ingin kehilangan semua investasi yang sudah dibuat di negara kita." Hal itu mengacu pada kesepakatan pembelian senjata dengan Arab Saudi.

Trump juga mengatakan bahwa dia telah membahas persoalan ini dengan putra mahkota Saudi, yang dianggap sebagai sosok berpengaruh di negara itu.

Otoritas keamanan Saudi mengatakan mereka telah menangkap 18 orang, memecat dua orang pembantu Muhammad bin Salman dan mendirikan semacam badan, di bawah kepemimpinannya, untuk mereformasi badan intelijen menyusul terungkapnya kasus pembunuhan Khashoggi.

Bagaimana Arab Saudi berubah? Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam komentar terbaru mengatakan bahwa pembunuhan itu merupakan "operasi ugal-ugalan".

"Kami bertekad untuk mengetahui semua fakta dan kami bertekad untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini," katanya.

"Orang-orang yang melakukan aksi pembunuhan ini di luar lingkup otoritas mereka," tambahnya.

"Jelas ada kesalahan besar yang dibuat, dan kesalahan itu menjadi bertambah karena ada upaya menutupi."

Dia mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak mengetahui di mana jasad Khashoggi. Jubeir berkeras bahwa tindakan pembunuhan itu tidak diperintahkan oleh putra mahkota.

Tetapi, Yeni Safak, media yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Turki, mengatakan, pihaknya memiliki informasi yang menunjukkan bahwa kantor putra mahkota menerima empat panggilan telepon dari konsulat setelah pembunuhan itu.

Kantor berita Reuters melaporkan, hari Minggu lalu, pihaknya telah berbicara dengan seorang pejabat Saudi yang mengatakan Khashoggi tewas akibat dicekik setelah menolak dikembalikan ke Arab Saudi. Tubuhnya kemudian digulung dalam karpet dan diberikan kepada "operator" lokal untuk dibuang.

Seorang agen intelijen Saudi dilaporkan mengenakan pakaian Khashoggi dan meninggalkan gedung konsulat, ungkap CNN. Dalam perkembangan lain, polisi Turki menemukan sebuah mobil milik konsulat Saudi yang ditinggalkan di lokasi parkir bawah tanah di Istanbul.

Media Turki juga mengunggah rekaman video yang tampaknya memperlihatkan seorang staf konsulat Saudi di Istanbul membakar dokumen sehari setelah hilangnya Khashoggi.[BBC/air]

Komentar

?>