Senin, 16 Juli 2018

Memahami Tayyip Recep Erdogan (2)

Ini Cara Erdogan Jinakkan Militer Turki

Rabu, 04 Juli 2018 15:29:21 WIB
Reporter : Anita Tri Rahayu
Ini Cara Erdogan Jinakkan Militer Turki

Dalam Pemilu 2018 ini, Tayyip Recep Erdogan terpilih kembali sebagai Presiden Turki. Politikus dengan karakter Islam yang kuat ini mengandaskan 4 kompetitornya. AKP, partai yang dibesutnya, juga menang meski di bawah suara mayoritas. Erdogan dipandang sosok antitesis Mustafa Kamal Atartuk, Bapak Turki Modern. Siapakah Erdogan?

Dari hari ke hari Turki mengalami perubahan dan melepaskan baju Westernisasinya untuk kembali kepada prinsip-prinsipnya dan bangga dengan identitas-identitas, peradaban dan posisi sejarahnya di antara negara-negara Timur Tengah, Asia Tengah, dan Eropa.

Banyak orang berpendapat bahwa setelah pemimpin historisnya Mustafa Kemal Attaturk, rakyat Turki tidak mengenal orang seperti Erdogan. Yang lain menambahkan bahwa Erdogan mampu meruntuhkan patung Attaturk tanpa melakukan penggulingan kekuasaan, tanpa menyentuh lembaga militer sebagai penjaga madzhab sekuler yang disucikan.

Syarif Taghian (2015), intelektual Turki dalam bukunya berjudul: Erdogan; Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, menanyakan, apakah arah politik luar negeri yang disusung Erdogan ini tercapai karena koordinasi yang sempurna antara militer dan pemerintah memaksakan pendapatnya terhadap kepemimpinan militer?

Masalahnya adalah: Militer ingin menghabisi Partai Buruh Kurdistan atau memecah-belahnya. Militer juga menginginkan agar pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan menyelesaikan masalah ini dengan cara mempersempit hak-hak rakyat Kurdistan.

Artinya, terdapat perbedaan antara pandangan militer dan pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan. Terdapat juga perbedaan antara prediksi militer, prediksi partai yang berkuasa dan penantian orang-orang Kurdi. Dapat dikatakan bahwa sesungguhnya pemerintah sekarang ingin melemahkan kekuatan militer atau unsur-unsur militer secara terbuka kepada negara-negara Arab. Hal ini karena militer dalam pandangan madzhab Kemal Attaturk menentang hubungan-hubungan ini secara umum.

Tampak jelas bahwa pukulan telak yang diterima militer Turki sejak Partai Keadilan dan Pembangunan menduduki puncak kekuasaan tahun 2002 dan berhasil membatasi pengaruh militer dalam panggung politik nasional. Keberhasilan tersebut merupakan cerminan dari kemampuan Erdogan yang berkompeten dalam pengolaan administrasi secara terpadu dengan diplomasi politik luar biasa yang memungkinkan mengubah semua persenjataan dan berbagai alat tempur, yang tadinya untuk menghancurkan kelompok Islam berubah menjadi pendukung utamanya.

Pemerintah juga mengambil kebijakan politik luar negeri yang bijak, di mana Turki berupaya memperbaiki hubungan-hubungan internasionalnya dengan negera-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat tanpa harus mengekor atau menghamba dari keduanya. Sehingga hubungan Turki dengan kedua pihak tersebut semakin meningkat, memberikan warna, dan menyenangkan.

Keberhasilan pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan ini tentunya menaikkan citra mereka dalam tataran lokal maupun internasional, yang berhasil mendapat dukungan Barat dan menetralisir pengaruh militer dalam panggung politik, dan memperkokoh demokrasi di negara tersebut. [ann/air/bersambung]

Tag : turki

Komentar

?>