Selasa, 25 September 2018
Dibutuhakn Wartawan Kriminal untuk ditempatkan di Surabaya Kirim Lamaran ke beritajatim@gmail.com

Kemalisme, Erdoganisme, dan Militer Turki (3)

Bagaimana Bentuk Kompromi Militer dan Partai Besutan Erdogan? Ini Gambarannya

Selasa, 03 Juli 2018 15:59:04 WIB
Reporter : Anita Tri Rahayu
Bagaimana Bentuk Kompromi Militer dan Partai Besutan Erdogan? Ini Gambarannya

AKP dan militer juga melakukan kompromi. Kehadiran generasi baru yang lebih mapan dan religius, juga berimbas pada militer.

Walau tradisi Kemalis masih sangat kuat dalam tubuh militer, sehingga misalnya masih ada larangan beribadah bagi anggotanya saat bertugas, namun, menurut beberapa pengamat, militer semakin religius, seperti menggenggam tasbih.

Dalam buku yang ditulis M Alfan Alfian (2018), berjudul: Militer dan Politik di Turki, yang diterbitkan Penjuru Ilmu Jakarta, disebutkan, kudeta 1997 dan efek instabilitas politik dan krisis ekonomi yang mengikutinya, membuat militer terpecah dalam kaitannya dengan kudeta. AKP walau disinyalir membawa ideologi islam, namun justru membawa Turki merapat ke Uni Eropa.

Prasyarat demokrasi Uni Eropa dan pengungkapan kasus Ergenekon yang menyeret militer, membuat militer mencoba berkompromi.

Kepala Staf Gabungan TSK Hilmi Ozkok yang menjabat tahun 2002-2006, misalnya, memberikan kesaksian dalam persidangan kasus Ergenekon tentang upayanya mencegah jenderal lain melakukan kudeta. Militer menilai Ozkok terlalu lunak terhadap AKP. AKP selamat dari kudeta militer di tahun-tahun awal pemerintahan, salah satunya berkat Ozkok.

Jenderal moderat lainnya adalah Necdet Ozel, yang terpilih sebagai Kepala Staf Gabungan TSK karena banyaknya jenderal lain yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes atau terlibat kasus Ergenekon. Ozel selalu menghindar dari politik.

Di masa Ozel juga peringatan Hari Kemenangan Turki 30 Agustus 2013 yang dilaksanakan di Istana Presiden, bisa dihadiri Kepala Staf Gabungan TSK. Dengan merapatnya Turki ke Uni Eropa yang mensyaratkan kontrol sipil terhadap militer, dan kerugian akibat instabilitas politik akibat kudeta, serta fakta keberhasilan AKP dalam mewujudkan stabilitas politik dan ekonomi, membuat militer melihat demokrasi sebagai pilihan yang harus didukung.

Kompromi lainnya antara AKP dan militer, akibat efek dari mencuatnya kasus korupsi pemerintahan. Pada 2013 kasus korupsi menyeruak, dengan ditangkapnya General Manager Halkbank Suleyman Aylan, pengusaha Iran-Azerbaijan Reza Zarrab, anak dari Menteri Perekonomian Zafer Caglayan, anak dari Menteri Dalam Negeri Muammer Guler, dan dua puluh tersangka lainnya.

Kasus ini membuat Menteri Perekonomian dan Mendagri mundur, serta Menteri Lingkungan dan Perencanaan Perkotaan Erdogan Bayraktar mengaku dipaksa mundur.

Erdogan menduga kasus ini merupakan plot untuk menjatuhkan pemerintah yang dirancang aktor internasional dan kolaborator dalam negeri. Erdogan menuduh pengikut Gulen, Hizmet, di balik kasus ini. Kepala Polisi Istanbul dan 400 polisi yang mengusut kasus ini, diberhentikan dan bahkan ditangkap. Hizmet dituduh melakukan inflitrasi dalam lembaga negara dan masyarakat untuk menjatuhkan pemerintah.

Lembaga-lembaga terkait Hizmet mulai diinvestigasi, seperti surat kabar, sekolah, dan lainnya. Para pendukung Gulen yang menjadi anggota parlemen dari AKP pun ramai-ramai keluar, termasuk Wakil Ketua AKP Mohammed Cetin. Ada juga bocoran dokumen dari MGK yang ditulis pada 2004 tentang permintaan MGK kepada pemerintah untuk mengawasi aktivitas Hizmet.

Dokumen tersebut ditandatangani para pejabat, baik sipil maupun militer, saat itu: Presiden Sezer, PM Erdogan, Menlu Gul, para anggota kabinet, dan Kepala Staf Gabungan TSK Ozkok dan Kepala Staf masing-masing kesatuan.

Di saat pecah kongsi Erdogan-Gulen, pihak militer meminta peninjauan kembali peradilan terhadap anggota militer dalam kasus Ergenekon dan lainnya. Erdogan memberi respon, dengan memberi ruang jika hal itu dibolehkan konstitusi, bahkan bila harus merubah konstitusi, Erdogan siap membantu amandemen konstitusi.

Sikap Erdogan ini banyak dipengaruhi Yalcin Akdogan, penasihat pribadi presiden. Akdogan menduga ada manipulasi dari pengikut Gulen yang berada dalam Kepolisian, Kejaksaan, dan Peradilan.

Kompromi militer-Erdogan terlihat saat gagalnya kudeta pada tahun 2016. Kudeta yang diduga direncanakan beberapa Jenderal Angkatan Darat TSK dan mantan Kepala Staf Angkatan Udara TSK, gagal karena perlawanan dari militer yang mayoritas menolak kudeta, dan massa rakyat yang turun ke jalan-jalan menolak kudeta militer di Turki. [ann/air/habis]

Tag : turki

Komentar

?>