Selasa, 25 September 2018
Dibutuhakn Wartawan Kriminal untuk ditempatkan di Surabaya Kirim Lamaran ke beritajatim@gmail.com

Kemalisme, Erdoganisme, dan Militer Turki (2)

Jalan Terjal Erdogan Menundukkan Militer Turki

Selasa, 03 Juli 2018 14:39:33 WIB
Reporter : Anita Tri Rahayu
Jalan Terjal Erdogan Menundukkan Militer  Turki
Presiden Turki, Tayyip Recep Erdogan.

Kemenangan AKP, partai mengusung Presiden Reccep Tayip Erdogan dalam pemilihan umum Turki, dipengaruhi beberapa faktor. Krisis ekonomi yang melanda Turki tak mampu diatasi rezim sebelumnya, bahkan korupsi merajalela.

Di saat yang sama, AKP hadir. Kader Erbakan, dikenal publik berintegritas dan jauh dari korupsi. Termasuk, Erdogan yang pernah sukses membenahi Istanbul mampu menjadi harapan baru.

Dalam buku yang ditulis M Alfan Alfian (2018), berjudul: Militer dan Politik di Turki, yang diterbitkan Penjuru Ilmu Jakarta, profil religius dan berintegritas cocok dengan menguatnya kelas menengah religius baru dan kalangan Islam tradisional lama. Sedangkan track record Erdogan saat menjadi Walikota Istanbul dan visi prodemokrasi dan propasar bebas yang dibawa AKP juga cocok bagi kalangan Sekuler-Demokrat.

Bila Erbakan membawa Turki condong bekerja sama dengan negara Arab, Erdogan mencoba membawa Turki kembali menjadi anggota Uni Eropa. Syarat-syarat demokratisasi yang harus dipenuhi anggota Uni Eropa, di antaranya HAM dan kontrol pemerintahan sipil terhadap militer, coba dimanfaatkan AKP. Larangan bagi penggunaan jilbab, misalnya, coba disentuh dengan retorika HAM. Pun intervensi militer coba ditundukkan dengan prasyarat dari Uni Eropa tersebut.

Erdogan mencoba menafisrkan ulang Sekulerisme, agar tak menjadi ideologi represif bagi aktivitas masyarakatnya. Sekulerisme pasif yang ditawarkan Erdogan, misalnya, memposisikan penggunaan jilbab bagi perempuan di universitas atau kantor pemerintahan sebagai bentuk ekspresi pribadi yang tidak boleh diintervensi negara. Atau terkait kebebasan beragama dijamin dalam rangka bagian dari demokrasi. Hingga majalah TIME menyebut Erdogan “seorang Islamis Moderat dan tegas membela demokrasi Sekuler”.

Namun, AKP juga menjalin hubungan yang seimbang dengan Timur Tengah, karena merupakan mitra strategis dalam perdagangan dan energi. Dukungan Erdogan terhadap permasalahan di Timur Tengah di antaranya, menolak landasan udara Turki untuk serangan Amerika Serikat ke Irak, dukungan terhadap Arab Spring di Mesir, dan dukungan terhadap Palestina dengan mengirimkan bantuan lewat parade Freedom Flotila.

Citra Erdogan di dunia Islam pun naik pesat, menjadi simbol kesuksesan politisi muslim dalam mengelola negara. Turki selama kepemimpinan AKP, berhasil membangun ekonomi bahkan di saat ekonomi Eropa diterpa krisis, mampu menjaga stabilitas politik dengan terus menang pemilu sebagai partai penguasa, dan mencegah militer melakukan kudeta.

Hubungan AKP dengan militer tak selamanya mulus, berlangsung adanya negosiasi demokrasi. Negosiasi demokrasi menjadi hal yang lumrah terjadi dalam konsolidasi demokrasi. Negosiasi demokrasi ditandai adanya konfrontasi, akomodasi, dominasi, hingga kompromi.

Perkembangan terakhir, Perdana Menteri Endogan, sebelum terpilih sebagai Presiden berdasar konstitusi baru hasil referendum 2015, pada akhir Juni 2013 dan parlemen berhasil merevisi Pasal 35 Undang-Undang Internal Militer yang sering dijadikan celah militer masuk ke ranah politik.

Di mana “Tugas angkatan bersenjata adalah untuk melindungi tanah air Turki terhadap ancaman dari luar negeri, untuk menjamin pemeliharaan dan kekuatan militer.” [aan/air/bersambung]

Tag : turki

Komentar

?>