Rabu, 26 September 2018
Dibutuhkan Wartawan Bidang Hukum dan Kriminal untuk ditempatkan di Surabaya, kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Pemilu Turki 2018

Hitungan Sementara: Erdogan 59 Persen, Muharrem 27 Persen

Minggu, 24 Juni 2018 23:36:48 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Hitungan Sementara: Erdogan 59 Persen, Muharrem 27 Persen
Kampanye Erdogan dalam Pemilu Turki 2018. [Foto: Getty Images/BBC]

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungguli saingan utamanya, Muharrem Ince, berdasarkan penghitungan awal sekitar sepertiga dari total jumlah kertas suara, lapor media resmi negara itu, Minggu (24/06/2018).

Sebagaimana dilansir BBC, untuk sementara Erdogan memperoleh 59% suara, dan saingan terberatnya, Muharrem Ince, mengantongi 27%.

Jika Erdogan memperoleh lebih dari 50% total suara, maka ia akan dinyatakan sebagai pemenang dan tidak perlu pemungutan suara putaran kedua.

Sebanyak 60 juta rakyat Turki mempunyai hak pilih dan dapat memberikan suara mereka sebanyak dua kali mulai pukul 08.00 waktu setempat. Satu suara untuk pemilihan legislatif, lainnya untuk pemilihan presiden.

Pada pemilihan presiden, Erdogan merupakan sosok yang diprediksi bakal menang. Namun, dia menghadapi persaingan ketat dari kandidat Partai Republik Rakyat (CHP), Muharrem Ince.

Apa yang dikatakan kedua kandidat? Baik Erdogan maupun rival utamanya, Muharrem Ince, sama-sama menggelar pawai besar-besaran pada Sabtu (23/06)—hari terakhir kampanye—dan saling menuding bahwa lawannya tidak pantas memimpin Turki.

Ince, yang kampanyenya telah menggalang kembali kekuatan oposisi, berjanji membuat Turki tidak terperosok ke dalam kekuasaan otoriter di bawah Erdogan. "Jika Erdogan menang, ponsel-ponsel Anda akan terus dikupingi… Ketakutan akan kembali berjaya. Jika Ince menang, pengadilan akan independen," cetusnya di hadapan sekitar sejuta orang di Istanbul.

Ince juga mengatakan bahwa jika dirinya terpilih, dia akan mencabut status darurat dalam 48 jam. Status darurat yang diterapkan Erdogan saat terjadinya kudeta membuat pemerintah dapat melangkahi parlemen.

Di lain pihak, Presiden Erdogan—yang menjabat perdana menteri selama 11 tahun sebelum menjabat presiden pada 2014—menggunakan metafora dalam kampanyenya. "Apakah kita akan memberikan mereka tamparan Ottoman (teknik untuk menjatuhkan seseorang) besok?"

Dia menuduh Ince—mantan guru dan anggota parlemen selama 16 tahun—tidak punya keahlian untuk memimpin. "Satu hal untuk menjadi guru fisika, tapi beda lagi untuk memimpin negara. Menjadi presiden perlu pengalaman," sebutnya.

Erdogan kemudian berjanji kepada para pendukungnya untuk menciptakan proyek infrastruktur besar untuk mendorong ekonomi, jika dia terpilih kembali. [BBC/air]

Sumber : BBC
Tag : turki

Komentar

?>