Kamis, 16 Agustus 2018

92 Negara Tak Punya Kebijakan Cuti Paternitas Berbayar Nasional

Kamis, 14 Juni 2018 09:53:59 WIB
Reporter : Ibnu F Wibowo
92 Negara Tak Punya Kebijakan Cuti Paternitas Berbayar Nasional

New York (beritajatim.com)--Hampir dua pertiga anak-anak di dunia berusia kurang dari 1 tahun, atau sekitar hampir 90 juta jiwa, hidup di negara-negara, di mana ayah mereka tidak berhak secara hukum untuk mendapatkan satu hari cuti paternitas berbayar.

Menurut analisis terbaru UNICEF, 92 negara tidak memiliki kebijakan nasional yang memastikan para ayah baru mendapatkan waktu luang yang cukup dengan bayi mereka yang baru lahir. Di antaranya adalah India dan Nigeria, yang semuanya memiliki populasi bayi yang tinggi.

Sebagai perbandingan, ada beberapa negara-negara lain dengan populasi bayi yang tinggi seperti dan Brasil dan Republik Demokratik Kongo, yang semua memiliki kebijakan cuti paternitas berbayar nasional, meskipun hanya menawarkan hak yang relatif hanya bersifat jangka pendek.

“Interaksi yang positif dan bermakna dengan ibu dan ayah sejak awal membantu membentuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak-anak seumur hidup, membuat mereka lebih sehat dan bahagia, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk belajar. Itu semua adalah tanggung jawab kami untuk memungkinkan mereka mengisi peran ini,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta H. Fore.

Bukti riset menunjukkan bahwa ketika ayah membangun ikatan dengan bayi mereka sejak awal kehidupan, mereka lebih mungkin memainkan peran yang lebih aktif dalam perkembangan anak mereka.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika anak-anak berinteraksi secara positif dengan ayah mereka, mereka memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik, harga diri dan kepuasan hidup dalam jangka panjang.

Untuk itu, UNICEF mendesak pemerintah untuk menerapkan kebijakan ramah keluarga nasional yang mendukung perkembangan anak usia dini, termasuk cuti paternitas berbayar, untuk membantu menyediakan waktu dan sumber daya serta informasi yang dibutuhkan oleh orang tua untuk merawat anak-anak mereka.

Awal tahun ini, UNICEF memodernkan pendekatan yang digunakan terhadap ketentuan cuti untuk orang tua, dengan cuti berbayar hingga 16 minggu untuk ayah di seluruh kantor UNICEF di seluruh dunia.

Langkah ini juga menjadikan mereka menjadi lembaga PBB pertama yang memperpanjang cuti tersebut melampaui standar empat minggu.

“Kami tidak bisa mewujudkan 'Untuk Setiap Anak,' jika tidak mampu menjadi 'Untuk Setiap Orang Tua'. Kita harus bertanya lebih banyak kepada pemerintah dan lebih banyak pengusaha jika kita akan memberi ayah dan ibu waktu serta sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengasuh anak-anak mereka, terutama selama tahun-tahun awal kehidupan seorang anak,” kata Fore.

Di seluruh dunia, momentum untuk kebijakan ramah keluarga semakin meningkat. Sebagai contoh di India para pejabat mengusulkan RUU Manfaat Paternitas untuk dipertimbangkan dalam sesi Parlemen berikutnya, yang akan memungkinkan ayah mendapat cuti paternitas berbayar hingga tiga bulan.

Namun, masih banyak pekerjaan yang tersisa. Di delapan negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, yang merupakan rumah bagi hampir 4 juta bayi, -tidak ada kebijakan cuti melahirkan untuk ibu (maternitas) atau paternitas berbayar.

Analisis baru ini membentuk bagian dari kampanye Super Dads UNICEF, sekarang memasuki tahun kedua, yang bertujuan untuk memecahkan hambatan yang mencegah ayah memainkan peran aktif dalam perkembangan anak-anak mereka.

Momen kampanye merayakan Hari Ayah Internasional ini diakui di lebih dari 80 negara pada bulan Juni dan berfokus pada pentingnya cinta, bermain, perlindungan dan nutrisi yang baik untuk perkembangan otak anak-anak yang sehat.

Kemajuan dalam ilmu saraf telah membuktikan bahwa ketika anak-anak menghabiskan tahun-tahun awal mereka, terutama 1.000 hari pertama dari pembuahan hingga usia dua tahun dan dalam lingkungan pengasuhan terstimulasi serta koneksi saraf baru terbentuk pada kecepatan optimal.

Koneksi saraf ini membantu untuk menentukan kemampuan kognitif anak, bagaimana mereka belajar dan berpikir, kemampuan mereka untuk mengatasi stress dan bahkan dapat mempengaruhi berapa banyak yang akan mereka hasilkan sebagai orang dewasa.

"The Lancet's Series, Advancing Early Childhood Development: from Science to Scale, diluncurkan pada bulan Oktober 2016, mengungkapkan hampir 250 juta anak di bawah usia 5 tahun berada pada risiko perkembangan yang buruk karena stunting dan kemiskinan ekstrim.

Seri ini juga mengungkapkan bahwa program yang mempromosikan perawatan pengasuhan - kesehatan, nutrisi, perawatan yang responsif, keamanan dan keselamatan serta pembelajaran usia awal – menelan biaya 50 sen per kapita per tahun bila dikombinasikan dengan layanan kesehatan yang ada," pungkas Fore.[ifw/air]

Tag : unicef

Komentar

?>