Rabu, 23 Mei 2018

Sejarah Program Lompatan Jauh ke Depan di China Era Mao Zedong (2)

Antara Ambisi Besar Mao dan Hinaan Stalin

Minggu, 11 Maret 2018 20:38:41 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Antara Ambisi Besar Mao dan Hinaan Stalin
Mao Zedong (kiri) dan Joseph Stalin (kanan). [Foto: Getty Images]

Setelah proklamasi pada Oktober 1949, Mao Zedong sebagai pemimpin China modern yang telah berhasil mengalahkan kubu Nasionalis hingga menyingkir ke Taiwan, langsung membuat gebrakan besar dan ambisius. Mao ingin China mampu menandingi Inggris dengan melakukan lompatan ekonomi luar biasa.

Jika Uni Sovyet bertarung secara politik dan ekonomi versus Amerika Serikat, maka China versus Inggris adalah garis kontinum lain, di tengah kuatnya perang ideologi politik pasca perang dunia II: Marxisme-Komunis versus Liberalisme-Kapitalisme.

Lompatan Jauh ke Depan atau Great Leap Forward adalah program ambisius Ketua Mao dan Partai Komunis China (PKC) yang berlangsung pada 1958 sampai 1962. Tujuannya, membangkitkan ekonomi China melalui industrialisasi secara besar-besaran dengan memanfaatkan jumlah tenaga kerja murah yang jumlahnya ratusan juta.

China modern yang tak sampai 10 tahun setelah menyatakan kemerdekaannya tak memiliki apa-apa, terkecuali tenaga kerja yang jumlahnya ratusan juta, mengingat tingkat demografinya sangat besar dan terbesar di dunia. China tahun 1950-an merupakan negara miskin, mengandalkan bantuan teknologi dan keuangan dari Uni Sovyet: Sekutu utamanya karena kesamaan ideologi politik: Komunisme-Marxisme. Negara ini menjalankan kebijakan luar negeri tertutup, terutama kepada negara-negara Barat dan Amerika Serikat, yang dalam perspektif ideologi politik, merupakan lawan politiknya.

Mao, orang kuat China modern dan tokoh sentral PKC, menggagas dan mengimplementasikan program Lompatan Jauh ke Depan dengan menjiplak sistem yang telah dilakukan Uni Soviet, dengan memasukkan unsur tradisional China: sektor ekonomi agraris, yang melibatkan ratusan juta tenaga kerja. Dalam pelaksanaannya, program ini memakai dua jalur. Pertama, peningkatan produksi baja sebagai bahan baku. Kedua, pendirian industri ringan dan konstruksi.

Program Lompatan Jauh ke Depan China yang dijalankan secara ketat oleh Mao dengan back up PKC secara total, dalam perspektif geostrategis, bermakna ekspektasi tinggi China, khususnya Mao, untuk tak terus-menerus bergantung kepada Uni Sovyet sebagai kiblat utama negara-negara Komunis di dunia. China dengan kekuatan demografinya ingin tampil sebagai 'kiblat lain' dari dunia Komunis di era perang dingin di tataran global.

Frank Dikotter (2010), dalam bukunya berjudul: Kelaparan Hebat di Masa Mao (Sejarah Bencana Paling Dahsyat di China, 1958-162), antara lain menulis: Kematian Joseph Stalin pada tahun 1953 menjadi momen pembebasan bagi Mao. Selama lebih dari 30 tahun, Mao harus berperan sebagai pihak yang memohon-mohon kepada pemimpin Komunis itu. Sejak usia 27 tahun, saat pertama kali menerima gaji pertamanya dalam bentuk uang tunai sebesar 200 yuan dari seorang agen Sovyet untuk menutup ongkos perjalanannya menghadiri rapat pendiri Partai Komunis China di Shanghai, kehidupan Mao berubah lewat uang dari orang Sovyet itu.

"Mao adalah petani, penganut ajaran Marxisme dari gua," begitu pendapat Stalin setelah membaca terjemahan dari tulisan-tulisan pemimpin-pemimpin China yang disebutnya feodal. Karakter pemberontak dan keras kepala pada diri Mao terbaca secara jelas di mata Stalin.

Frank Dikotter lebih lanjut menulis: Mao tak pernah melupakan penghinaan dan betul-betul marah melihat Stalin memperlakukan dirinya. Namun, dia tak punya siapa-siapa lagi untuk meminta dukungan. Mao membuat kebijakan harus bersandar di satu kubu dan harus menelan harga dirinya untuk mendapatkan kembali dukungan dari Uni Sovyet dalam pembangunan ekonomi dan militer negaranya. [air/bersambung]

Tag : china

Komentar

?>