Kamis, 18 Oktober 2018

Sekjen PBB: Kebebasan Pers Menyusut di Myanmar

Jum'at, 15 Desember 2017 10:05:33 WIB
Reporter : -
Sekjen PBB: Kebebasan Pers Menyusut di Myanmar

Washington (beritajatim.com) - Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan penahanan dua wartawan Reuters di Myanmar merupakan isyarat bahwa kebebasan pers menyusut di negara itu.

Berbicara di Washington, AS pada Kamis (14/12/2017) waktu setempat, atau Jumat (15/12/2017) dini hari WIB, Guterres mengungkapkan keprihatinannya mengenai pelanggaran HAM di negara bagian Rakhine.

"Kedua jurnalis itu kemungkinan ditangkap karena mereka melaporkan tragedi kemanusiaan di sana," kata Gutteres seperti dikutip dari VOA.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditangkap Selasa (12/12/2017) malam, di Yangon dan dituduh melanggar UU Kerahasiaan Negara. Dewan Pers Pemerintah Myanmar menuding, kedua wartawan itu berencana mengirim dokumen-dokumen keamanan penting mengenai pasukan keamanan di Rakhine ke badan-badan asing di luar negeri.

Istri Wa Lone mengatakan kepada VOA, keluarganya tidak menerima informasi apapun terkait kondisi suaminya.

Direktur Pelaksana Komisi Perlindungan Wartawan (CPJ) Joel Simon mengatakan kepada VOA, organisasinya telah meminta pihak berwenang membebaskan kedua wartawan itu tanpa syarat dan dengan segera. Ia mengatakan, penangkapan mereka berlangsung di tengah-tengah aksi penumpasan yang meluas, yang membatasi kemampuan jurnalis untuk meliput berita yang penting bagi dunia.

Bagian utara negara bagian Rakhine adalah fokus utama operasi militer minoritas Muslim Rohingya mengungsi ke negara tetangganya, Bangladesh. Operasi yang dimulai Agustus sebagai pembalasan atas serangan militan terhadap pos-pos polisi itu dikecam PBB sebagai pembersihan etnis. [inilah.com]

Tag : jurnalis

Komentar

?>