Sabtu, 16 Desember 2017

Sejarah di Palestina, Faksi Hamas dan Fatah Rujuk

Rabu, 04 Oktober 2017 12:52:19 WIB
Reporter : -
Sejarah di Palestina, Faksi Hamas dan Fatah Rujuk
Pimpinan faksi Fatah dan Hamas bertemu di Jalur Gaza. [Foto: AFP/BBC]

Perdana Menteri Palestina menyerukan persatuan saat mengawali kunjungan langka di Gaza, sebagai bagian dari upaya mengakhiri sengketa antara Fatah dan Hamas.

PM Rami Hamdallah memimpin delegasi Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat, yang menjadi seteru Hamas selama ini. "Kami datang ke Gaza untuk mewujudkan rekonsiliasi dan persatuan nasional, dan untuk mengakhiri dampak perpecahan yang sangat meyakinkan, dan untuk membangun lagi Gaza, bata demi bata," kata PM Hamdallah.

Dikatakannya, prioritasnya sekarang ini adalah mengentaskan kemiskinan dan menangani penderitaan penduduk Gaza.

Berbagai upaya rekonsiliasi sebelumnya gagal, dan berbagai perbedaan tetap merintangi jalan bagi persatuan dua kelompok dominan Palestina ini. Wilayah Palestina di Gaza dan Tepi Barat dikelola secara terpisah sejak meletusnya kekerasan antara kedua belah pihak pada tahun 2007.

Pada tahun 2006, Hamas memenangkan pemilihan parlemen di kawasan pendudukan, dan menegakkan kekuasaan di Gaza setelah mengusir para pengikut Fatah dari sana.

Ribuan orang memenuhi jalanan Gaza, melambai-lambaikan bendera Palestina menyambut tibanya iring-iringan mobil Hamdallah di Gaza hari Senin kemarin, yang merupakan kunjungan pertamanya dalam dua tahun terakhir.

Hamdallah mengatakan, pemerintahnya akan mulai menangani masalah administratif Gaza, serta 'tanggung-jawab keamanan dan perlintasan prbatasan."

Dia juga berjanji memprioritaskan program bantuan untuk dua juta penduduk Gaza, yang oleh Sekjen PBB António Guterres Agustus lalu disebut menderita "salah satu krisis kemanusiaan paling dramatis" yang pernah dilihatnya.

Hamdallah kemudian berjumpa dengan pemimpin Hamas Ismail Haniya dan pemimpin Gaza, Yahya Sinwar. Bulan lalu, mereka sepakat untuk membubarkan Komite Administrasi Hamas yang selama ini menjalankan pemerintahan di Gaza, dan akan menggelar pemilu pertama sejak 2006.

Langkah itu difasilitasi Mesir, yang hubungannya dengan Hamas membaik beberapa waktu terakhir. Selama ini Kairo memadang Hamas sebagai ancaman keamanan dan mengambil langkah-langkah keras menghadapinya. Namun belakangan muncul isyarat perbaikan hubungan antara kedua negara.

Delegasi yang terdiri dari pejabat Mesir, Koodinator khusus PBB untuk roses perdamaian Timur Tengah, Nickolay Mladenov, juga berangkat ke Gaza untuk menyaksikan proses transisi ini.

Masih belum jelas, seberapa jauh Hamas akan mengizinkan otoritas Palestina mengambil alih peran keamanan dan bagaimana nasib ribuan pegawai negeri di Gaza yang tak terdaftar dalam sistem Otoritas Palestina selama ini.

Israel juga sangat menentang segala bentuk keterlibatan Hamas dalam otoritas Palestina karena sikap dasar Hamas yang menolak Israel dan mencanangkan penghancuran negara itu. Israel menganggap Hamas dan sejumlah organisasi lain sebagai kelompok teroris, dan menyatakan tak akan berurusan dengan otoritas Palestina jika ada anggota Hamas di dalamnya.

Mladenov mengatakan bahwa ia 'optimis secara berhati-hati' tentang upaya rekonsiliasi itu. [BBC/air]

Sumber : BBC
Tag : palestina

Komentar

?>