Selasa, 24 Oktober 2017

Membaca Revolusi Islam Iran dari Buku Dr Nasir Tamara (7)

Tak Kembalikan Shah ke Iran Itu Perbuatan Lebih Jahat

Senin, 14 Agustus 2017 00:07:33 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Tak Kembalikan Shah ke Iran Itu Perbuatan Lebih Jahat
Sandera AS saat dibebaskan di Teheran, Iran tahun 1981. [Foto: wordpress.com/bj.com]

Satu babak penting revolusi Islam Iran adalah kejadian pada 4 Nopember 1979. Apa itu? Disanderanya sekitar 49 diplomat Amerika Serikat di kantor kedutaan besar mereka di Kota Teheran.

Yang melakukan penyanderaan adalah mahasiswa 'garis keras' Iran. Sebab, mereka tak terima dengan kebijakan pemerintahan Presiden Jimmy Carter: Mengizinkan Shah Iran, Reza Pahlevi untuk berobat dan bertempat tinggal di Amerika Serikat.

Kejadian ini mengguncang dunia. Mungkin ini baru pertama kali ada kantor kedutaan negara asing, apalagi Amerika Serikat, di satu negara, kantornya diduduki dan seluruh staf kedutaannya disandera. Kantor kedutaan negara asing adalah representasi kedaulatan satu negara di negara lain yang wajib dihormati dalam hukum internasional.

Banyak negara lain, khususnya negara-negara yang merasa hubungannya dengan Iran tak begitu mesra pasca revolusi Islam, merasa was-was dan khawatir, seperti Inggris, Kanada, Mesir, dan lainnya.

Dr Nasir Tamara dalam bukunya: Revolusi Iran (2017) menulis bahwa ketakutan negara lain pada kejadian penyanderaan mahasiswa Iran atas staf Kedubes Amerika Serikat di Iran tak beralasan. Sebab, hanya Kedubes AS yang dinilai wakil dari negeri yang memiliki peranan khusus selama bekas Shah Iran berkuasa di Iran.

"Bekas Shah diangkat ke tahtanya setelah perang dunia II, ketika ia masih muda sekali, menggantikan ayahnya yang dibuang ke Afrika Selatan oleh negara-negara sekutu," tulis Dr Nasir Tamara.

"Juga berkat bantuan AS dengan melibatkan CIA, sehingga bekas Shah Iran dapat berkuasa kembali dan mengkudeta Mohadeq di tahun 1953," tambah Dr Nasir.

Di domestik Iran sendiri, terutama di level pemerintahan dan Dewan Revolusi, panyanderaan dan pendudukan Kedubes AS oleh mahasiswa Iran tak selamanya direspon positif. Bani Shadr, mantan penasihat dan orang dekat Imam Khomeini sejak dalam pengasingan di Prancis, dan menjabat Menteri Ekonomi dan Keuangan di tahun 1979, mengatakan: Secara mayoritas Dewan Revolusi menghendaki agar para tawanan dilepaskan. Tapi tekanan rakyat yang begitu hebat yang menghendaki agar Kedubes AS terus diduduki sampai Shah Iran dikembalikan ke Iran.

Jika Bani Shadr tak sepakat dengan langkah penyanderaan oleh mahasiswa 'garis keras' Iran atas Kedubes AS dan stafnya di Teheran, tak demikian dengan Dr Yazdi, mantan Menlu Iran. Dalam bukunya, Nasir Tamara menyebutkan, Dr Yazdi berpandangan Khomeini mencerminkan pendapat dan sikap rakyat Iran. "Ketika kami melawan Shah, itu merupakan pencerminan keadaan rakyat yang amat ditekan. Waktu itu setiap orang menderita akibat kediktatoran Shah Iran dan polisi rahasia SAVAK," katanya.

"Melawan Amerika Serikat jauh lebih sukar karena negeri ini mempergunakan Shah Iran dalam campur tangannya di Iran. Melalui kampanye dikembalikannya Shah Iran yang dilindungi di Amerika Serikat, maka Imam Khomeini berhasil memobilisasi rakyat Iran melawan Amerika Serikat dan membuat mereka tahu bahwa Amerika Serikat bersalah. Iran harus melangkah jauh dan harus pandai-pandai memanfaatkan hasil kampanye ini untuk membangun kembali negaranya," tegas Dr Yazdi.

"Ketika Shah Iran meninggalkan Iran pada 16 Januari 1978, diduga harta kekayaan pribadinya tak kurang dari USD 1 miliar. Di akhir tahun 1978, Bank Sentral Iran telah menerbitkan uang yang diterima dan dikeluarkan Yayasan Pahlevi antara bulan Maret 1977 sampai Maret 1978. Pengeluaran tak kurang 890,6 juta ryal, sedang pemasukan sebesar 820 juta ryal," tulis Dr Nasir Tamara.

Tak banyak wartawan, terutama dari negara asing, yang diberikan kesempatan melihat langsung dari dekat Kedubes AS di Iran yang diduduki mahasiswa 'garis keras' pasca revolusi Islam. Dr Nasir Tamara berkesempatan masuk dan diberikan izin melihat langsung kondisi Kedubes AS di Teheran dan wawancara dengan kelompok penyandera.

Saat itu, Dr Nasir Tamara sempat menanyakan: Apakah kalian tak pernah berpikir bahwa Carter tak akan memberikan Shah pada kalian?

Apa jawaban mahasiswa penyandera? "Menerima Shah di Amerika adalah perbuatan jahat dan tak mengembalikannya ke Iran adalah jauh lebih jahat lagi," tegas perwakilan mahasiswa penyandera kepada Dr Nasir Tamara. [air/habis]

Tag : Iran

Komentar

?>