Selasa, 26 September 2017

Siksa Pembantu, 8 Putri Uni Emirat Arab Diadili di Brussel

Sabtu, 13 Mei 2017 10:00:09 WIB
Reporter : -
Siksa  Pembantu, 8 Putri Uni Emirat Arab Diadili di Brussel

Brussel (beritajatim.com) - Perlakuan tak senonoh itu diduga terjadi  9 tahun silam, tepatnya tahun 2008. Namun kasus pedagangan manusia dan penyiksaan para pembantu rumah tangga yang nelibatkan 8 (delapan) putri Uni Emrirat Arab baru disidangkan di Brussels.

Kasus ini disidang di Brussel karena  perdagangan manusia dan penyiksaan para pembantu itu terjadi saat mereka tinggal selama 8 (delapan) bulan di ibu kota Belgia itu.

Para putri dari Uni Emirat Arab itu sudah membantah semua tuduhan itu. Mereka ogah menghadiri persidangan hingga kasus ini disidang secara in absentia bersama dengan seorang kepala pelayan dari India.

Saat kejadian itu Sheikha Hamda al-Nahyan dan tujuh putrinya menyewa seluruh kamar satu lantai di sebuah hotel mewah. Para putri dari keluarga Raja al-Nahyan, yang berkuasa di Uni Emirat Arab itu, membawa rombongan lebih dari 20 pembantu yang di mengaku diperlakukan dalam kondisi yang mirip dengan perbudakan.

Pihak penggugat mengatakan mereka dilarang meninggalkan hotel dan dipaksa memakan makanan sisa para putri.

Jika terbukti bersalah, mereka terancam diharuskan membayar ganti rugi ratusan ribu euro dan bahkan hukuman penjara. Namun menurut para aktivis, hampir tidak mungkin Uni Emirat Arab bersedia mengekstradisi mereka untuk selanjutnya menjalani hukuman penjara di Belgia.

Namun demikian, langkah hukum ini akan "sangat signifikan" jika salah satu keluarga paling kaya di dunia secara terbuka dikaitkan dengan perdagangan manusia dan perbudakan, kata Nicholas McGeehan, seorang ahli masalah pekerja migran di Teluk yang bekerja untuk organisasi Human Rights Watch.

Dikatakannya bahwa walau sudah dihapus dari undang-undang, perbudakan di dalam rumah tangga masih berlangsung di negara-negara Teluk - "dikekalkan oleh elite yang berkuasa yang memiliki tujuan penting dalam masyarakat dalam meneguhkan status".

"Ini terjadi dari atas ke bawah dan ditoleransi," tambahnya.

'Tak diberi makanan dan air'

Kasus ini dibawa ke pengadilan pada Kamis dan tim pengacara terdakwa memberikan pembelaan pada Jumat pagi (12/05).

Kasus ini terungkap ketika salah seorang pembantu melarikan diri dari hotel. Salah seorang terduga korban mengatakan kepada televisi Belgia bahwa para perempuan yang menjadi pembantu putri keluarga al-Nahyan disekap di kamar-kamar hotel yang diamankan oleh pengawal pribadi dan dilarang keluar sama sekali.

Mereka harus senantiasa siap melayani perintah selama 24 jam sehari, tidur di lantai di kamar-kamar para putri dan dipaksa mengonsumsi makanan sisa.

Salah satu di antara mereka yang mengajukan gugatan diduga tidak diberi makanan dan air selama tiga hari.

Selain perlakuan tidak manusiawi, putri-putri Uni Emirat Arab itu juga dituduh gagal mencarikan visa dan izin kerja sebagaimana mestinya untuk pembantu-pembantu mereka. Mereka juga dituduh tidak membayar gaji para pembantu.

Tim terdakwa melakukan sejumlah perlawanan sehingga kasus ini baru sampai tahap persidangan sembilan tahun setelah kejadian perkara. Mereka, antara lain, mempertanyakan apakah polisi mempunyai mandat sah untuk memasuki kamar hotel para putri.

Sumber : bbc.com

Berita Terkait

    Komentar

    ?>