Selasa, 26 September 2017

50 Anggota Kongres AS Boikot Pelantikan Donald Trump

Rabu, 18 Januari 2017 12:41:14 WIB
Reporter : -
50 Anggota Kongres AS Boikot Pelantikan Donald Trump

Wangshinton (beritajatim.com) - Beberapa hari sebelum tanggal pelantikan pada Jumat (20/01), jumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat yang menyatakan akan memboikot pelantikan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump telah lebih dari 50 orang.

Boikot pelantikan Presiden terpilih Donald Trump di Capitol AS pada 20 Januari terkait perselisihan antara presiden terpilih itu dan aktivis hak-hak sipil dan anggota Kongres, John Lewis.

Inilah empat hal yang mungkin Anda tak terlalu sadari tentang aksi bokiot -yang terus meningkat- terhadap upacara pelantikan Presiden terpilih Donald Trump pada 20 Januari nanti.

Mengapa ada boikot?


John Lewis adalah figur perjuangan hak-hak sipil AS yang sangat dihormati, dan tokoh perjuangan 1960 terakhir yang masih hidup. Ia memicu kontroversi pada Jumat lalu ketika menyebut kemenangan Trump tidak absah karena dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden.

Presiden terpilih membalas di Twitter, menyerang anggota parlemen dari Georgia sebagai orang yang "hanya bicara, bicara, bicara - tidak ada tindakan atau hasil," yang memicu gelombang kemarahan dari orang-orang yang mengatakan tokoh berusia 76 tahun itu sudah membuktikan perjuangannya selama ini dengan tindakan nyata lebih dari siapa pun.

Kicauan Trump langsung mematik reaksi, salah satunya Keith Ellison dari Minnesota. Ia bercuit, "Saya tidak akan merayakan orang yang mengkhotbahkan politik perpecahan dan kebencian."

"Absen dari pelantikan. @RepJohnLewis pahlawan hak-hak sipil. Tanggung jawab yang sangat besar untuk menjadi POTUS (President of the United States). Saya menghormati jabatan itu, tapi tidak bisa mentolerir sikap tidak hormat," anggota parlemen yang mewakili Maryland Anthony G Brown juga bercuit.

"Ketika Anda menghina anggota Kongres John Lewis, maka Anda menghina Amerika," kata Yvette Clarke, salah satu dari lima anggota Kongres dari New York.

"Bagi saya, keputusan pribadi untuk tidak menghadiri pelantikan cukup sederhana: Apakah saya mendukung Donald Trump, atau saya mendukung John Lewis? Saya mendukung John Lewis," kata Ted Lieu, anggota Kongres dari California.

Jauh sebelum John Lewis mengumumkan akan memboikot pelantikan Trump, anggota Kongres dari Illinois, Luis Gutierrez, tercatat sebagai anggota Kongres pertama yang menyatakan pemboikotan pada Desember 2016.

Pekan lalu seorang wakil dari Massachusetts, Katherine Clark, menyatakan akan turut memboikot pelantikan presiden.

"Keluarga-keluarga di distrik saya takut jika antiperempuan, antiimigran, anti-Muslim dan janji-janji yang memecah belah yang mengisi kampanye Trump akan menjadi kebijakan-kebijakan yang akan berpengaruh pada kesehatan dan keselamatan setiap warga Amerika," kata Clark.

Jumlah yang memboikot bertambah lebih dari 40 selama liburan Martin Luther King, tapi itu tidak membuat Trump berhenti menyerang ikon hak-hak sipil John Lewis.

Presiden terpilih itu pada Selasa (17/1) bercuit bahwa Lewis telah memberikan pernyataan palsu bahwa ini akan merupakan pertama kalinya ia absen dari pelantikan presiden sejak terpilih di Kongres pada tahun 1987.

"SALAH (atau dusta)!" Trump bercuit, dan mengatakan Lewis juga meluputkan pelantikan George W Bush pada tahun 2001.

Kantor Lewis mengukuhkan bahwa ia memang meluputkan upacara pelantikan Bush. "Ketidakhadirannya pada saat itu juga merupakan suatu pernyataan," kata juru bicaranya Brenda Jones.

"Dia tidak percaya hasil pemilihan itu, termasuk kontroversi di sekitar hasil di Florida dan intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Mahkamah Agung AS."

Pernahkah hal ini terjadi sebelumnya?


Meskipun segala sesuatu terkait dengan Presiden Donald Trump tampaknya belum pernah terjadi sebelumnya, ini bukan pertama kalinya partai oposisi memboikot pelantikan presiden dalam jumlah yang cukup besar.

Menurut sejarawan Brooks Simpson dari Arizona State University, 80 anggota parlemen absen dari upacara pengambilan sumpah Richard Nixon tahun 1973.

John Lewis, anggota Kongres yang lantang mengritik Trump dan berencana untuk tinggal di rumah pada hari pelantikan Jumat mendatang, juga absen dari acara pengambilan sumpah George W Bush tahun 2001, bersama dengan sejumlah anggota Kongres dari Kaukus Kulit Hitam.

Memang tak ada yang bisa dibandingkan dengan sorotan media saat ini yang sangat gencar, dan liputan atas protes politisi saat ini makin diperkuat oleh reaksi cepat akun Twitter Donald Trump terhadap kritik.

Seperti halnya sikap pembangkangan partisan lain, ada risiko bahwa hal ini justru akan menyebabkan para pendukung Partai Republik bersatu mendukung presiden mereka yang sedang jadi bulan-bulanan.

Pada titik ini - dengan kaum konservatif memegang kekuasaan di Washington, DC - persatuan partai mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam apakah Partai Republik akan berhasil memberlakukan agenda kebijakan mereka.

Kendati pertunjukan boikot pelantikan mungkin bisa menjadi momen menyenangkan bagi kaum liberal dengan sejumlah agenda politik mereka, ke depannya keberhasilan mereka akan tergantung pada bagaimana menemukan cara untuk memecah politikus Partai Republik, bukan justru membuat mereka menemukan momentum untuk makin memperkuat diri.

Adakah yang lain yang turut membokot?

Diperkirakan antara 800.000 hingga 900.000 orang akan membanjiri ibukota negara pada hari Jumat untuk pelantikan, tetapi tidak jelas apakah mereka akan berada di sana dalam perayaan atau protes, kata para pejabat.

Pelantikan Presiden Barack Obama delapan tahun lalu menarik 1,8 juta orang untuk datang ke Washington turut merayakan pengambilan sumpah.

'Tingkat antusiasme' dan permintaan kamar hotel belum mencapai tingkat seperti pelantikan sebelumnya, menurut Elliott Ferguson, presiden Destination DC, sebuah biro konvensi dan pariwisata Washington .

Justru sebaliknya, beberapa hotel malah mengurangi persyaratan minimum menginap dari empat malam menjadi hanya dua malam.


Hotel-hotel lain hanya terisi 50%, tapi hotel kelas atas ternyata mendapatkan pemesanan lebih, tambahnya.

"Ini jauh, jauh lebih rendah dari yang diperkirakan orang untuk suatu pelantikan presiden di masa jabatan pertama," kata Ferguson pula.

Pelantikan Trump terjadi di tengah apa yang tampak sebagai perpecahan Amerika setelah pemilihan presiden.

Meskipun Trump menyapu electoral college, lawannya, Hillary Clinton memenangkan suara populer dengan keunggulan hampir 2,9 juta pemilih.

Bagaimana angka dukungan pada Trump?


Jajak pendapat baru-baru ini juga menunjukkan tingkat dukungan paling rendah dalam sejarah untuk suatu transisi kepresidenan.

Sebuah jajak pendapat terbaru ABC News/Washington Post menunjukkan bahwa hanya 40% orang Amerika melihat Trump secara positif dibandingkan dengan 79% pendapat postitif terhada Presiden Obama pada tahun 2009.

Sebuah survei CNN/ORC dirilis pada hari Selasa juga menunjukkan Trump hanya mendapat 40% peringkat persetujuan dibandingkan dengan 84% yang diperoleh Obama pada tahun 2009.

Sebuah jajak pendapat Gallup yang dilakukan dua minggu sebelum pelantikan menemukan 51% responden tidak setuju pada cara Trump menangani transisi presiden dibandingkan dengan 44% yang setuju.

Tapi presiden terpilih itu pada Selasa menepis jajak pendapat sebagai 'palsu' dan 'dicurangi,' dan bersikeras bahwa 'orang-orang berbondong-bondong datang ke Washington dalam jumlah yang memecahkan rekor.'

Sekitar 200.000 orang juga diperkirakan berkumpul di Washington sehari sesudah pelantikan untuk acara Pawai Perempuan di Washington.

Hampir 200 organisasi dan kelompok aktivis menyatakan akan mendukung pawai akar rumput itu.

Acara itu diselenggarakan sebagai unjuk rasa untuk kesetaraan ras dan jenis kelamin, layanan kesehatan terjangkau, hak aborsi dan hak bersuara - masalah yang dirasakan berada di bawah ancaman dari kepresidenan Donald Trump.

Sumber : bbc.com

Komentar

?>