Rabu, 19 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Korupsi Proyek Kementan, Warga Madiun Dijebloskan ke Rutan Ponorogo

Kamis, 15 Nopember 2018 23:31:40 WIB
Reporter : D. Istimora
Korupsi Proyek Kementan, Warga Madiun Dijebloskan ke Rutan Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Kejaksaan Negeri Ponorogo menjebloskan seorang warga Kabupaten Madiun, Wanda Kristina, ke Rutan Ponorogo dengan sangkaan melakukan tindak pidana korupsi. Wanita ini dinilai telah merugikan keuangan negara hingga Rp 1,3 miliar.

Kepala Kejaksaan Negeri Ponorogo Hilman Azizi, Kamis (15/11/2018) malam mengatakan, pihaknya terpaksa melakukan penahanan terhadap Wanda Kristina sebab Wanda dinilai tidak kooperatif.

"Awalnya kita periksa sebagai saksi dan hari ini tadi kita tetapkan sebagai tersangka. Dan, kita sudah periksa dia sebagai saksi tiga atau empat kali dalam kasus ini," ujar Hilman tanpa menyebut info awal pihaknya 'menggarap' kasus ini.

Yang jelas, kasus ini diawali munculnya sebuah program di Kementerian Pertanian RI lewat Dinas Pertanian Provinsi yang ditujukan untuk kelompok tani di sekitar lahan Perhutani atau yang disebut Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Program itu adalah pengadaan benih kedelai yang bersumber dari dana APBN-P 2017 yang pelaksanaanya di awal 2018. Sebanyak 72 LMDH di Ponorogo mendapatkan bantuan dana untuk membeli benih kedelai, rhizobium dan sarana produksi (saprodi).

Sebelum pencairan dana diadakan beberapa kali rapat sosialisasi oleh Wanda. Wanda disebut Hilman menggiring kelompok tani untuk hadir dalam sosialiasi dan memberikan uang bensin. Sosialiasi sempat dilaksanakan di Kodim Ponorogo dan di Madiun. Sempat hadir pula staf dari Dinas Pertanian Provinsi Jatim dan Perhutani.

"Dia mengatakan dalam sosialisasi itu bahwa dia adalah orang kementerian atau vendor kementerian," kata Hilman.

Pada akhir 2017, dana cair sebesar Rp 3,9 miliar. Dana turun secara bertahap pada Desember 2017,  Januari 2018 dan Februari 2018. "Dana itu dia atur sedemikian rupa sehingga overbooking ke rekening dia (Wanda). Sementara petani sudah mengharapkan (benih kedelai) itu, dan mereka teriak mana benih kedelainya," jelas Hilman.

Lalu, Wanda mengirim benih sebanyak 58 ton dari jatah seharusnya 160 ton. Ada kekurangan 100 ton lebih. Obat dan sarana produksi (saprodi) sudah dikirim lebih dulu. Keberadaan saprodi tanpa benih dinilai tidak berguna.

"Nah, lalu kita cek. Ternyata rekening dia itu sudah habis. Dia gunakan uang itu. Kemarin saya berhasil mengecek rekening koran dia, ternyata uang di rekening dia sudah habis di bulan lima (Mei) lalu. Sampai hari ini bibit yang kurang itu tidak datang-datang. Hitungan sementara kerugian negara Rp 1,3 miliar lebih," ujar Hilman.

Dalam pemeriksaan, Wanda mengaku sebagai penyedia benih tapi Wanda sendiri tidak punya benih. Wanda berdalih dia membeli benih dari pihak lain. "Tapi uang ini masuk ke dia semua. Disebut dirinya vendor. Tapi saya katakan dia ini broker tanpa modal," kata Hilman.

Wanda sendiri dinilai tidak kooperatif saat diperiksa sebagia saksi. Ketika ditanya Wanda sering mengecoh. Ia mengatakan beli ke penangkar di sebuah daerah, tapi waktu penangkar tersebut dipanggil nyatanya tidak berani datang.

Wanda mengaku dia sudah membayar benih dengan uang tunai sebesar Rp 500 juta ke penangkar tersebut. Namun Wanda tidak bisa melakuka menunjukkan kuitansi pembayarannya. Karena dana yang besar, pihak Kejari Ponorogo berasumsi dana tersebut ditransfer. Namun lagi-lagi Wanda tidak bisa menunjukkan bukti transfer.

"Kami coba kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya dengan berbagai upaya. Saya sangat hati-hati karena menyangkut hidup seseorang. Kita anggap ibu Wanda ini tidak koorperatif. Sebab sewaktu kita panggil sebagai saksi, alasan ke Jakarta, ke sana ke sinilah. Kadang kita panggil main telpon saja. Sudah itu mengkondisi-kondisikan sana sini," ujarnya.

Hilman menganggap saat ini pihaknya sudah memiliki bukti yang cukup yaitu dua alat bukti. Ia juga menyatakan tindak pidananya ada. "Dan hari ini sudah temukan tersangkanya dia. Untuk sementara waktu kemungkinan masih dia sendiri dulu, kita lihat perjalanan kasus ini nanti. Hari ini kita belum bisa buktikan kalau kasus ini melibatkan pihak lain secara nyata," kata Hilman.

Disebutkannya, kalau keterlibatan belum ada, ia melihat kemungkinan adanya kelalaian. Sebab cukup mengherankan, Wanda yang merupakan orang luar dan bukan orang pemerintahan bisa masuk dalam sosialisasi tersebut dan mengatur-atur dana.

Wanda dikenai sangkaan melanggar pasal 2 dan pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 jo UU 20 2001 tentang pemberantasan korupsi. Ia ditahan untuk 20 hari ke depan. "Sambil kita nanti minta saksi dari Dinas Pertanian Provinsi Jatim dan Perhutani Divre Jatim. Ke pusat (Kementan RI) belum," ucapnya. [dil/suf]

Tag : korupsi

Komentar

?>