Rabu, 21 Nopember 2018

Aniaya Anak Tiri Hingga Tewas, Wisnu Terancam Hukuman 15 Tahun

Kamis, 08 Nopember 2018 17:51:32 WIB
Reporter : Nyuciek Asih
Aniaya Anak Tiri Hingga Tewas, Wisnu Terancam Hukuman 15 Tahun

Surabaya (beritajatim.com) - Wisnu Cokro Buono warga Jalan Sidotopo Wetan Mulyo Surabaya ini hanya bisa pasrah saat didudukkan di kursi pesakitan di ruang Sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (8/11/2018).

Pria kelahiran 35 tahun silam ini diadili lantaran melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya yang masih umur dua tahun hingga korban tewas.

Dalam sidang kali ini, selain mengagendakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chalida K Hapsari dari Kejari Tanjung Perak, Surabaya juga menghadirkan kedua saksi yakni Nining Listiani (ibu korban) dan Muriadi (bapak mertua terdakwa).

Dalam sidang, Nining selaku ibu korban mengatakan, terdakwa tidak bersalah dan tanpa ada kesengajaan. Selain itu Nining juga memohon kepada Majelis hakim Dewi agar suaminya dihukum ringan.

"Saya mengikhlaskan, mohon suami saya dihukum ringan. Sekarang saya juga hamil," kata Nining, dihadapan Majelis hakim.

Sementara, Muriadi mertua terdakwa mengaku dan menyaksikan sendiri bahwa dibadan korban, ada bekas luka aniaya. "Iya saya melihat, dibadan cucu saya ada luka memar. Saya meminta agar dihukum se'adil-adilnya," akunya, didengar hakim dan JPU Chalida.

"Iya sabar pak, terdakwa akan dihukum dengan hukuman yang setimpal," jawab hakim Dewi.

Diketahui dalam dakwaan, MR usia dua tahun dianiaya oleh bapak tirinya yang bernama Wisnu Cokro Buono, hingga meninggal dunia. Berawal pada Rabu (20/6/2018) sekitar pukul 16.30 wib, terdakwa tidur pulas, dan tidak lama tidur, Terdakwa terbangun, dikarenakan anak tirinya yakni MR itu menangis keras.

Disaat itulah terdakwa emosi, untuk meredam emosi. Terdakwa berusaha menenangkan tangisan korban dengan cara memandikannya. Karena kebetulan, Nining (ibu kandung korban) sedang pergi untuk halal bihalal.

Tapi, usaha Wisnu untuk menenangkan korban gagal. Darisanalah Wisnu emosi dan memukuli korban di bagian kepala dan perut hingga korban sesak nafas dan demam. Selain dianiaya fisik, terdakwa juga sempat memasukan kepala korban kedalam air sekitar 10 detik.

Setelah istri Wisnu pulang dan mendapati anaknya deman tinggi dan sesak nafas, kepada istrinya Wisnu tidak mengakui bahwa keadaan anaknya itu atas ulahnya. Dari kos-kosan mereka di Jl Kedung Mangu Timur No 130 Surabaya, pasutri (pasangan suami istri) ini kemudian membawa korban ke RSUD dr Soewandi.

Tapi sayangnya, ketika sampai IGD Rs Soewandhi Suranaya, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia dan dimakamkan di TPU (tempat pemakaman umum) Wonokusumo Surabaya. Karena ada yang janggal, paman korban melaporkan kejadian itu ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Akibat perbuatannya, terdakwa Wisnu dijerat dengan Pasal 80 UU NO 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara.[uci/ted]

Tag : penganiayaan

Komentar

?>