Sabtu, 17 Nopember 2018

Sidang Penipuan Investasi Bodong Kediri

Saksi Benarkan Adanya Cek Kosong Rp 1,7 M

Senin, 15 Oktober 2018 17:21:14 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Saksi Benarkan Adanya Cek Kosong Rp 1,7 M

Kediri (beritajatim.com) - Pengadilan Negeri Kota Kediri kembali menggelar sidang kasus penipuan berkedok investasi bodong di PT Brent Scurities Jakarta. Kali ini agenda sidang adalah pemeriksaan saksi.

Ada tiga saksi yang dihadirkan. Mereka, pasangan suami istri Hartono dan Cristina yang menjadi korban, serta pimpinan PT Brent Scurities Surabaya, Henry Candra.

Sidang dipimpin oleh hakim ketua Drs. H. Imam khanafi Ridwan dan dibantu oleh dua hakim anggota masing-masing, Dwi Hananta, SH. MH dan Dwi Melaningsih Utami, SH. MHum. Sementara terdakwa Direktur PT Brent Scurities Jakarta Yanti Suratna Gondo Prawiro hadir didampingi kuasa hukumnya Iksan Suprastian, SH.

Cristina dalam keterangan dihadapan majelis mengaku, menanamkan modal total terhadap perusahaan saham tersebut sebesar Rp 5,250 miliar. Korban tergiur dengan bunga yang ditawarkan sebesar 12 persen per tahun dan deposito berjangka selama enam bulan itu.

"Awalnya saya dibujuk oleh marketingnya bernama Laura Dwi. Saya mengenalnya karena Laura itu juga marketing di Wanna Arta Life. Laura tau masa jatuh tempo asuransi jiwa saya di Wanna Arta Life. Sehingga membujuk saya agar mengalihkan ke PT Brent Scurities dengan bunga yang lebih tinggi," beber Cristina.

Awalnya, Cristina tidak tergiur. Tetapi Laura terus membujuk dengan mendatangi rumahnya yang berada di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Laura meyakinkan korban dengan menyebut bahwa Direktur PT Brent Scurities Yandi Suratna Gondo Prawiro memiliki hubungan kerabat dengan perusahaan rokok besar di Indonesia serta Bank Panin.

"Laura menjelaskan kepada saya bahwa ini bukan asuransi, melainkan deposito, yang bisa diambil setiap saat. Dia tahu jatuh tempo asuransi saya di Wanna Arta Life. Dia bilang supaya dimasukkan saja ke Brent Sscurities karena bunganya tinggi. Akhirnya, saya cairkan dulu asuransi saya di Wanna Arta Life ke bank niaga. Kemudian saya masukkan ke Brent Scurities melalui transfer bank niaga ke BCA," bebernya.

Cristina kemudian menstransfer uangnya ke rekening PT Brent Scurities, pada akhir 2013 lalu itu. Dari catatan yang ia bawa di persidangan, transfer pertama berlangsung 17 Desember 2013 sebesar Rp 2 miliar. Kemudian transfer kedua, pada 6 Januari 2014 sebesar Rp 2 miliar.

Transfer ketiga, pada 15 Januari 2014 sebesar Rp 1miliar dan terakhir, pada 29 Januari 2014 sebesar Rp 250 juta. Totalnya sebesar Rp 5,250 miliar. Setelah transfer tersebut, korban mendapatkan bukti berupa lembaran Medium Term Note (MTN) atau surat hutang.

Cristina menambahkan, pada bulan Januari 2018 dia mulai menerima bunga. Tepatnya, pada 17 Januari 2014 kurang lebih Rp 22 juta. Kemudian, pada 6 Februari juga sekitar Rp 22 juta, dan ketiga pada 14 Februari sebesar Rp 10 juta. Lantas, pada 7 Maret 2014 kurang lebih Rp 19 juta. Sehingga totalnya sekitar Rp 98 juta.

"Bulan keempat saya sudah tidak menerima bunga. Setelah itu macet, saya langsung menghubungi marketing Laura Dewi dan Hery Candra. Bilangnya, akan diuruskan ke Jakarta," jelas Cristina.

Saksi kedua, Hartono yang juga suami Cristina mengaku, sempat bersikeras untuk mengurus langsung ke Jakarta paska terjadi gagal bayar. Tetapi, karena Cristina khawatir justru akan memperkruh persoalan tersebut. Akhirnya menunggu hingga dua minggu setelahnya.

"Pada April 2014 istri cerita bahwa uang yang dimasukkan ke PT Brent Scurities sepertinya tidak kembali. Uang itu sebesar Rp 5,250 miliar. Lalu, beberapa Minggu setelahnya, saya disuruh ke Jakarta, katanya akan diberi cek," jelas Hartono.

Sesampainya di Jakarta, Hartono melihat banyak nasabah yang melakukan protes serta menuntut pengembalian uangnya. Saat itu, Hartono diberi selembar cek senilai Rp 739 juta. Cek tersebut diserahkan oleh Hery Candra yang diakui berasal dari terdakwa Yandi Suratna Gondo Prawiro. Ternyata cek tersebut tidak bisa dicairkan.

"Kita cek ke bank ternyata ada penolakan dari bank. Disebut bahwa saldonya kosong. Lalu saya minta pertanggung jawaban kembali mengenai cek tersebut. Terdakwa mengaku tidak punya uang, karena masih menunggu hasil jual aset," bebernya.

Hartono terus mendesak upaya pengembalian uang milik istrinya. Akhirnya, pada 29 Agustus 2014 dia kembali diberi sebuah cek. Pemberinya langsung terdakwa dengan nilai Rp 1 miliar. Akan tetapi, saat dicairkan kembali ternyata gagal karena rekeningnya sudah ditutup.

Merasa telah ditipu, akhirnya Hartono bersama istrinya melapor ke Polres Kediri Kota. Laporannya tentang tindak penipuan. Pengusaha ban asal Kota Kediri ini menyerahkan bukti-bukti diantaranya, dua lembar cek kosong.

Saat proses penyelidikan berlangsung, terdakwa Yandi Suratna Gondo Prawiro terjerat kasus serupa di Batam dan Medan. Dia dibekuk polisi dan disidangkan di pengadilan negeri setempat. Terdakwa akhirnya dijatuhi vonis hukuman selama empat tahun. Hingga akhirnya dilayar di Kota Kediri atas laporan Hartono dan istrinya.

Saksi ketiga Hery Candra, yang juga pimpinan cabang PT Brent Scurities Surabaya mengaku terjadi gagal bayar terhadap para nasabah. Pihaknya mengatakan, sebagai bawahan dari perusahaan hanya menjalankan tugas, diantaranya mencari nasabah yang hendak mendepositokan uangnya.

Dalam keterangan di muka persidangan, Hery Candra selalu menyampaikan penjelasan kepada setiap calon nasabahnya tentang company profil PT Brent Scurities dan keuntungan yang didapat nasabah apabila mendepositokan uang. Dia menyebut bunga yang ditawarkan sebesar 13 persen per tahun, atau diatas rata-rata bunga bank.

"Bu Cristin langsung mentrasnfer uangnya ke rekening atas nama PT Brent Scurities. Bukan melalui saya," ujar Hery. Pihaknya juga menyampaikan pesan agar Cristina meningkatkan jumlah depositonya agar perolehan bunganya semakin besar.

Hery Candra menyebut, minimal investasi di PT Brent Scurites Rp 250 juta. Sementara dari deposito yang dilakukan Cristina, Hery mengakui mendapatkan fee kurang lebih Rp 20 juta. Adapun total fee dari seluruh nasabah yang berhasil diprospek sebesar Rp 50 juta setahun.

Iksan Suprastian, SH, selaku kuasa hukum terdakwa sempat bertanya kepada para saksi tentang upaya penyelesaian yang sudah dilakukan oleh terdakwa. Salah satunya melalui jalur PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang). Selain itu, Iksan juga menyinggung tentang tugas dan kewajiban Hery Candra sebagai pimpinan cabang PT Brent Scurities Surabaya terhadap persoalan tersebut.

Selama ikut penyelesaian melalui PKPU, beberapa korban menerima pembayaran. Untuk Cristina mendapatkan transfer pembayaran sebanyak dua kali. Berdasarkan catatanya, pembayaran pertama pada Juni 2017 sebesar Rp 60 juta dan kedua Rp 6 jutaan. Jumlah tersebut menurut Harono sangat minim dibandingkan dengan nilai tanggungan kurang lebih Rp 5 miliar.

"Kalau rescedul utang tersebut selama lima tahun. Setiap tahun seharusnya 20 persen. Ini sudah berlangsung dua tahun, tetapi progres pembayaran melalui PKPU tersebut hanya sekitar 2 persen. Artinya penyelesaian melalui PKPU jelas mencerminkan ketidak adilan. Sementara selain itu, kita ketahui aset aset yang dimiliki PT Brent Ventura sebagai emiten dari PT Brent Scurities yang mencari dana dari masyarakat banyak yang bodong," katanya.

Persidangan kasus penipuan berkedok investasi bodong ini akan diteruskan pada minggu yang ada datang dengan agenda lanjutan pemeriksaan saksi. Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebanyak tujuh saksi bakal dihadirkan bersamaan. (nng/kun)

Komentar

?>