Senin, 22 Oktober 2018

Tangis Tahanan Narkoba Pecah di Depan Penghulu

Kamis, 09 Agustus 2018 16:10:36 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Tangis Tahanan Narkoba Pecah di Depan Penghulu

Jombang (beritajatim.com) - Alunan salawat nabi terdengar lirih di Masjid Jannatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (9/8/2018). Seorang pria berpeci hitam diarak memasuki masjid tersebut. Di sampingnya, nampak perempuan berkerudung warna hijau warna telur asin.

Dua sejoli ini lantas duduk bersimpuh. Di depannya seorang petugas penghulu dari KUA (Kantor Urusan Agama) sudah bersiap untuk memulai proses ijab kabul. Keringat dingin menetes dari pria berpeci hitam dan wanita berkerudung itu.

Ya, mereka menjalani ijab kabul. Menikah di masjid Polres Jombang. Adalah Novianto (20), pria asal Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kodya Mojokerto, yang menjadi tahanan Polres Jombang karena kasus narkoba. Sedangkan yang wanita adalah Ella Novianti (18), warga Desa Balonglombok, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Kedua mengikat janji untuk menjadi suani istri. Usai ijab kabul dilakukan, Novianto tak bisa membendung air matanya. Dia menangis menyesali perbuatannya hingga menjadi tahanan polisi karena kasus narokaba. Akibat itu pula, warga Meri ini harus menikah di penjara.

Sementara Ella tak banyak bicara. Sejak diarak ke masjid untuk ijab kabul, dia lebih banyak menunduk. Begitu juga usai proses pernikahan. Dia hanya sempat menunjukkan surat nikah untuk dipotret wartawan setelah ijab.

"Saya menyesal. Karena terjerat narkoba akhirnya menjalani proses pernikahan di kantor polisi. Selama ini saya hanya ikut-ikutan," kata Novianto sembari meneteskan air mata.

Pria yang akrab disapa Nopek ini hanya berharap sang istri sabar menunggu hingga dirinya keluar dari penjara. "Saya tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi. Bergelut dengan narkoba," sambungnya.

Kasat Reskoba Polres Jombang AKP Muhammad Mukid ikut mendampaingi Nopek saat ijab kabul. Usai acara dia mengatakan, Nopek dibekuk petugas dalam kasus peredaran pil koplo jenis dobel L. Awalnya petugas menangkap seorang bandar dengan barang bukti berupa 25 ribu pik koplo.

Setelah dilakukan pengembangan, akhirnya muncul nama Nopek. Dalam jaringan tersebut, Nopek juga ikut menjadi pengedar. "Dia menjadi kaki tangan bandar tersebut. Nopek juga kita tangkap berikut barang bukti," kata Mukid.

Atas perbuatannya, pria yang menjalanu ijab kabul di Polres Jombang itu dijerat UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Ancamannya, 15 tahun penjara.

Usai menjalani ijab-kabul, Nopek digelandang kembali ke tahanan Polres Jombang. Sejumlah kerabat serta sang istri juga ikut mengantar Nopek ke balik jeruji besi. Namun sebelum itu, layaknya pesta pernikahan, mereka menikmati kue yang dibawa dari rumah. [suf/but]

Tag : napi

Komentar

?>