Senin, 18 Juni 2018

Bunuh Siswi SMK, Gadis Penjual Bedak Divonis 14 Tahun Penjara

Rabu, 23 Mei 2018 20:29:06 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Bunuh Siswi SMK, Gadis Penjual Bedak Divonis 14 Tahun Penjara

Malang (beritajatim.com) - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, akhirnya memvonis terdakwa penganiayaan hingga tewas, Nadia Figa Madona (19) warga Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare,  Kabupaten Malang, dengan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan hukuman penjara.

Vonis itu dijatuhkan Majelis Hakim setelah dalam persidangan dengan mendengarkan keterangan para saksi, dianggap memberatkan terdakwa dan terbukti terdakwa menganiaya hingga korban anak usia 16 tahun meninggal dunia.

Ketua Majelis Hakim dalam d Persidangan di Kantor PN Kepanjen Malang,  Wiwin Arodawanti SH menjelaskan, dari keterangan saksi kalau kasus tersebut berawal dari persoalan kosmetik bedak seharga Rp 125 ribu dan asmara terbukti dalam persidangan. Dimana dari kasus tersebut berujung pada penganiayaan terhadap korban anak hingga meninggal dunia setelah terluka oleh senjata tajam. "Terdakwa menganiaya terhadap korban hingga meninggal dunia, itu yang memberatkan terdakwa," kata Wiwin Arodawanti dalam persidangan, Rabu (23/5/2018).

Sementara hal yang meringankan menurut Wiwin Arodawanti, terdakwa masih muda dan belum pernah terlibat perkara hukum. Dengan vonis 14 tahun hukuman penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan penjara itu, terpaksa dijatuhkan karena terdakwa terbukti bersalah di persidangan.

"Terdakwa terbukti bersalah sesuai Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 76 C UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak," tegas Wiwin Arodawanti dalam persidangan.

Sementara itu, JPU Kejari Kabupaten Malang, Ari Kuswadi SH atas vonis terhadap terdakwa oleh Majelis Hakum meminta waktu pikir-pikir. "Kami pikir-pikir dulu majelis atas vonis terhadap terdakwa," tutur Ari Kuswadi.

Dimata Ari Kuswadi, vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim lebih ringan setahun dari tuntutan JPU terhadap terdakwa dengan hukuman penjara selama 15 tahun. Ini dikarenakan perbuatan terdakwa dinilai cukup sadis dalam menganiaya korban yang masih anak-anak tersebut hingga tewas. "Dalam seminggu ini kami akan tanggapi keputusan vonis Majelis Hakim itu," ucapnya.

Terpisah, Penasehat Hukum terdakwa, Abdul Halim SH juga pikir-pikir atas vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim kepada terdakwa. Ini dikarenakan tindakan yang dilakukan oleh terdakwa lebih sebagai saling mempertahankan hidup. Dimana apabila pisau itu ada di tangan korban maka terdakwa yang bisa tewas.

Memang, diakui Abdul Halim, dalam perkara penganiayaan hingga tewas yang dilkukan terdakwa berawal dari persoalan kosmetik bedak dan asmara. Dimana dalam perkelahian cukup lama tersebut akhirnya dimenangkan terdakwa. Hingga terjadilah penganiayaan dialami kirban hingga meninggal dunia. "Kami menilai vonis Majelis Hakim yang dijatuhkan kepada terdakwa terlalu memberatkan," pungkas Abdul Halim. (yog/kun)

Komentar

?>