Senin, 15 Oktober 2018

Kecewa, Aspidsus Kejati Sulut Gugat Lion Air

Rabu, 23 Mei 2018 15:00:54 WIB
Reporter : M. Ismail
Kecewa, Aspidsus Kejati Sulut Gugat Lion Air

Sidoarjo (beritajatim.com) - Kecewa dengan layananan maskapai penerbangan Lion Air,  Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulawesi Utara, M Rawi melayangkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo.

Dalam gugatan itu, M Rawi menuding maskapai Lion Air melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan konsumen. Gugatan perdata mantan Kejari Perak, Surabaya tersebut diwakili dua Kuasa Hukum M Rawi, Arif Fathoni dan Indrarian Polii.

"Ya kemarin Selasa (22/5/2018) kami sudah mendaftarkan gugatan ke PN Sidoarjo. Tujuan klien melakukan gugatan ini agar Maskapai Lion Air memperbaiki pelayanan kepada calon penumpanya," kata Arif Fathoni Rabu (23/5/2017).

Arif bercerita, kronologis kejadian yang menimpan kliennya (M Rawi red,) pada Minggu (11/3/2018) lalu itu.

Kliennya merasa dikecewakan oleh maspakai penerbangan Lion Air karena gagal terbang akibat delay dua kali.

Tak hanya itu kliennya juga diancam akan dilaporkan ke pihak polisi oleh pegawai atau staf Lion Air karena melakukan tindakan kekerasan saat itu.

Kliennya saat itu rencananya akan terbang dari Surabaya menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, dengan menumpang pesawat Lion Air JT036V yang jadwal terbangnya pukul 13.30 WIB.

Ternyata pesawat delay pukul 14.00 WIB. Mengetahui pesawat yang hendak ditumpanginya delay, kliennya memutuskan keluar dari ruang tunggu dengan maksud jalan-jalan menghilangkan kejenuhan.

"Saat pesawat mau terbang, kliennya masuk ruang tunggu lagi, dan  mendapati pesawat delay lagi atau delay yang kedua kalai sampai pukul 14.40 WIB," katanya mengisahkan.

Arif menambahkan mengetahui pesawat yang akan ditumpangi delay, kliennya memutuskan untuk tetap menunggu diruang tunggu penumpang.
Namun saat sedang menunggu itu, Rawi mengaku tiba-tiba mendengar panggilan terakhir kepada penumpang pesawat yang ditumpanginya untuk tujuan Manado kalau sudah terbang.

"Klien saya heran, belum ada panggilan sebelumnya, kok sudah final call. Bahkan klien kami sempat menanyakan ke petugas jaga berinisial AI dan W, apakah pesawat tujuan Manado sudah berangkat? Petugas itu menjawab belum. Klien kami sempat tanya dua kali waktu itu," jelasnya.

Masih kata Arif, saat itulah klien kami komplain kepada petugas maskapai yang tengah berjaga. Namun, petugas maskapai tidak memberikan penjelasan yang memuaskan dan malah tidak menghiraukan keluhan Pak Rawi.

Merasa tidak dihiraukan, Pak Rawi kemudian mengibaskan tas kecil yang dibawanya secara perlahan ke arah petugas dengan maksud agar petugas tersebut kembali mengindahkan pertanyaanya.

"Bukannya sadar, petugas maskapai tersebut malah muntab dan mengancam bahwa klien kami akan dilaporkan ke pihak kepolisian atas tuduhan melakukan kekerasan. Saat itu ada sedikit keributan karena klien kami sempat diperlakukan tidak nyaman didepan banyak orang, tapi klien kami tetap diam saja. Mengetahui klien kami adalah jaksa, akhirnya pihak management Lion Air  meminta maaf dan mengajak Pak Rawi untuk berdamai," ungkap Arif.

Pihak maskapai saat itu, sambung Arif, menawarkan solusi tiket pengganti penerbangan ke Manado melalui Jakarta, tapi klien kami tidak mau, karena kliennya sudah merasa dilecehkan didepan umum.

"Atas hal tersebutlah klien kami menggugat Maskapai Lion Air di PN Sidoarjo ini," tegas Arif.

Saat ditanya isi gugatan tersebut, Arif Fatoni menegaskan jika jaksa senior itu meminta pihak Lion Air memasang iklan permohonan maaf sebanyak 3 (tiga) kali di media massa nasional.

Tak hanya itu pihaknya  juga menuntut kerugian material Rp 103 juta dan imaterial sebesar Rp 1 miliar kepada pihak Maskapai Lion Air.

"Klien kami menggugat lantaran tidak adanya iktikad baik dari pihak Lion Air.  Tujuan klien kami lakukan gugatan ini agar ke depannya maskapai penerbangan di Indonesia, khususnya Lion Air lebih baik lagi," pungkasnya. (isa/ted)

Tag : lion air

Berita Terkait

    Komentar

    ?>