Senin, 18 Juni 2018

Pelatih Atlet Peselancar Dituntut 6 Tahun

Selasa, 08 Mei 2018 19:26:06 WIB
Reporter : Nyuciek Asih
Pelatih Atlet Peselancar Dituntut 6 Tahun

Surabaya (beritajatim.com) - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Linda B Karundeng menuntut pidana penjara selama enam tahun pada Muh.Danand Fadel alias Fadlan, Selasa (8/5/2018). Selain hukuman badan, terdakwa juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar. Apabila tidak mampu dibayar maka diganti dengan pidana penjara selama tiga bulan.

Tuntutan yang sama juga diajukan Linda pada terdakwa Kuswanto yang masih rekan di club atlet peselancar tersebut.

Usai sidang, Fariji kuasa hukum Kuswanto mengaku lega atas tuntutan tersebut. Pimpinan LBH Lacak ini berharap agar hakim menjatuhkan hukuman lebih ringan karena menurutnya terdakwa Kuswanto sudah mengakui perbuatannya.

"Mudah-mudahan nanti hukumannya minimal," ujar Fariji.

Dalam persidangan minggu lalu, terdakwa Fadlan mengaku tertekan waktu menjalani pemeriksaan di pihak kepolisian. Di hadapan majelis hakim yang diketuai Slamet, Fadlan mengaku jika apa yang tertuang di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di kepolisian tidak sesuai dengan keterangan yang dia utarakan.

"Saya hanya disuruh mengakui apa yang diterangkan Kuswanto (terdakwa lainnya) pak hakim, saya terus ditekan disuruh mengakui," ujar pelatih atlet peselancar ini, Rabu (2/5/2018).

Fadlan yang didampingi kuasa hukumnya Sunarno Edy Wibowo ini menyatakan dia tidak permah melakukan apa yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Linda, bahwa dia merupakan satu sindikat dengan terdakwa Kuswanto.

"Saya tidak pernah menyabu dan saya juga tidak pernah membeli sabu. Saya dibonceng Kuswanto untuk mencari truk yang mau saya sewa untuk pertandingan peselancar atlet saya. Jadi saya tidak mengetahui kalau waktu itu Kuswanto mau membeli sabu," bebernya.

Kuswanto menambahkan, Kuswanto yang merupakan anak buahnya di tempat dia melatih peselancar ini awalnya minta tolong pada dirinya meminjami uang Rp 150 ribu untuk membeli pempers anaknya.

"Saya kemudian sama dia (Kuswanto) ke ATM untuk mengambil uang Rp 150 ribu, kemudian saya dan dia berboncengan untuk mencari truk sebagai kendaraan atlet saya yang mau tanding. Dan saya betul-betul tidak mengetahui kalau Kuswanto mau membeli sabu," ujarnya.

Untuk itu dirinya mencabut keterangan dia yang di BAP.

Waktu itu, usai sidang, kuasa hukum terdakwa Sunarno Edy Wibowo menyatakan jika kasus yang dialami kliennya adalah tekanan dari penyidik. Terlebih lagi, tidak ada bukti apapun yang ada di kliennya. " Semua negatif, urinenya juga negatif," ujar dosen Universitas Narotama ini.

Dalam dakwaan JPU Linda disebutkan, terdakwa Kuswanto dan terdakwa Muh. Danand Fadel Alias Fadlan pada hari Selasa tanggal 14 Nopember 2017, sekira pukul 11.30 WIB di Breakshoot Jl. Raya Kenjeran Surabaya, kedua terdakwa yang berboncengan motor didapati petugas sedang membawa 1 (Satu) poket narkotika jenis sabu-sabu dengan berat kurang lebih 0,43 gram beserta pembungkusnya. Setelah dilakukan pemeriksaan dan penimbangan Laboratorium Forensik dengan berat bersih 0,071 gram digenggaman tangan kanan terdakwa Kuswanto.

Bahwa narkotika jenis sabu-sabu tersebut didapatkan dengan cara membeli dari seorang yang tidak di kenal di daerah Sidotopo Pasar Surabaya dengan harga Rp. 150.000 dengan menggunakan uang milik terdakwa Muh Danand Fadel dimana sebelum membeli narkotika jenis sabu-sabu tersebut awalnya terdakwa Kuswanto dan terdakwa Muh Danand mempunyai ide untuk mengkonsumsi narkotika jenis sabu-sabu bersama yang saat itu berada di rumah terdakwa Kuswanto di Jl. Sukolilo Lor Gg. VI No. 6 RT 05 RW 03 Kel. Sukolilo Baru Kec. Bulak Kenjeran Surabaya yang akhirnya mereka terdakwa berangkat membeli narkotika jenis sabu-sabu. [uci/but]

Tag : narkoba

Komentar

?>