Minggu, 19 Agustus 2018

Bunuh Siswi SMK, Gadis Penjual Bedak Dituntut 15 Tahun Penjara

Rabu, 25 April 2018 16:50:56 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Bunuh Siswi SMK, Gadis Penjual Bedak Dituntut 15 Tahun Penjara

Malang (beritajatim.com) - Gadis penjual bedak online, Nadia Fegi Madona (19), warga Desa Kalisari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, akhirnya dituntut hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan hukuman penjara dalam Persidangan di PN Kepanjen, Senin (25/4/2018).

Nadia adalah pelaku tunggal yang tega menghabisi nyawa seorang siswi SMK berinisial FSR (16), warga Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, pada tanggal 29 Desember 2017 lalu hanya gara-gara bedak.

Tuntutan ini setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Malang menilai, terdakwa terbukti dalam persidangan dengan Ketua Majelis Hakim, Wiwin Arodawanti SH telah melakukan tindak kekerasan terhadap korban hingga mengakibatkan meninggal dunia di kawasan Pantai Ngliyep Donomulyo, Kabupaten Malang.

JPU Kejari Kabupaten Malang, Ari Kuswadi SH mengatakan, tuntutan terhadap terdakwa merupakan tutuntan maksimal sesuai UU Nomor35 tahun 2014 tentang perubahan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. "Untuk hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan, menyesali dan mengakui perbuatannya," beber Ari Kuswadi, Rabu (25/4/2018) dalam persidangan di PN Kepanjen.

Kata Ari, terdakwa dalam persidangan mengaku sempat melakukan pergumulan dan perkelahian hingga selama satu jam hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
"Tindakan hingga menyebabkan korban meninggal itu yang memberatkan terdakwa," tutur Ari.

Dalam persidangan di PN Kepanjen setelah mendengarkan pembacaan tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim HJ Wiwin Arodawanti meminta tanggapan terdakwa atas tuntutan JPU. "Bagaimana, terdakwa akan menyampaikan pembelaan," kata Wiwin Arodawanti.

Sidang di PN Kepanjen itupun akhirnya ditutup dan ditunda Majelis Hakim PN Kepanjen pekan depan dengan agenda pembacaan pembelaan terdakwa atas tuntutan JPU.

Sementara itu, Penasehat Hukum terdakwa, Abdul Halim SH mengatakan, tuntutan JPU terlalu tinggi dan memberatkan terdakwa. Ini dikarenakan dalam persidangan terdakwa belum terbukti secara sah melakukan tindakan pembunuhan seperti didakwaan JPU.

"Bila melihat dari rekonstruksi dan pengakuan terdakwa, tindakannya merupakan upaya membela diri. Bahkan dalam perkelahian dengan korban, terdakwa sempat kehabisan nafas. Dan nanti hal-hal itu yang akan kami sampaikan dalam pembelaan terdakwa," ungkap Abdul Halim.

Sebagai informasi, kasus kekerasan hingga menyebabkan korban, FRS  pelajar SMK, ditemukan meninggal dunia terjadi di kawasan hutan Pantai Ngliyep Kabupaten Malang, Jumat (29/12/2017).

Korban mengalami luka parah akibat sabetan senjata tajam sebelum meninggal dunia ketika tiba di Rumah Sakit. Kekerasan terhadap korban, diawali setelah terlibat perselisihan dengan terdakwa karena persoalan bedak seharga Rp 125 ribu yang dibeli secara online dan tidak kunjung diberikan oleh terdakwa kepada korban. (yog/kun)

Komentar

?>