Selasa, 11 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Penangkapan Lobster Undersize di Banyuwangi Masih Marak

Senin, 16 April 2018 20:24:54 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Penangkapan Lobster Undersize di Banyuwangi Masih Marak

Banyuwangi (beritajatim.com) - Tertangkapnya Jefri Agustinus Angka Wijaya (30) asal Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar bersama barang bukti ratusan ekor lobster menandakan penangkapan secara masal masih sering terjadi. Lobster itu juga menjadi komoditi yang paling laku menjadi bahan transaksi.

Beruntung, Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Banyuwangi berhasil mengendus praktek transaksi itu. Jefri ditangkap bersamaan bukti 133 ekor lobster yang ditampung dalam tambak udang milik almarhum Bambang Mulyadi yang berlokasi satu desa dengan tersangka.

Dari 133 ekor lobster itu, 119 ekor dalam kondisi hidup dan 14 ekor telah mati. Semua lobster yang diamankan ukuran karapasnya kurang dari 8 cm dan beratnya belum mencapai dari 200 gram atau 2 ons.

Menurut Kapolres Banyuwangi Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman, lobster itu didapat dari para nelayan di Pantai Muncar. 

Ikan itu kemudian dikirim ke Bali tiap dua minggu sekali melalui jalur darat. Lobsterundersize tersebut dibeli dari para nelayan Rp 100 ribu. 

Lobster yang disita terdiri dari tiga jenis, yakni mutiara, bambu dan pasir.“Sekali kirim bisa mencapai 20 kilogram. Dalam sebulan bisa mengirim kurang lebih 40 kilogram dengan jumlah nominal uang yang menggiurkan. Bisnis pelaku kita hentikan karena ijinya tidak ada dan menjual lobster yang belum dewasa,” terang Kapolres.

Sesuai Pasal 7 Permen No. 56 Tahun 2016, ukuran minimal karapas untuk lobster adalah 8 cm dan berat 2 ons. Kurang dari itu, pengepul maupun pemasoknya dapat ditindak secara hukum. 

“Untuk Kepiting (Scylla) dan Rajungan (Portonus Pelagicus) ukuran yang boleh ditangkap harus memiliki lebar karapas 15 cm. Terkait lobster budidaya harus mendapat ijin dari instansi terkait karena proses pemiaraannya harus mendapat pengawasan ketat dari petugas,”  kata Penanggung Jawab Wilayah Balai Karantina Ikan Banyuwangi yang berkantor di Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Indah Praptiasih, Senin (16/4/2018).

Menurut keterangan, lobster asal Banyuwangi ini ternyata banyak yang dipasok ke Pulau Dewata. Salah satu lokasi yang dijadikan pusat transaksi adalah Pasar Badung, Denpasar, Bali. Sayangnya, lobster yang diperdagangkan ada yang masih undersize atau di bawah ukuran Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.56 Tahun 2016.

Di pasaran harga lobster dewasa bisa mencapai Rp 3 juta perkilogram. Bisnis ini diakui Jefri baru digeluti selama satu tahun. 

Kadang kala proses pengiriman dilakukan tiap minggu sekali. Itu dilakukan saat musim lobster sedang bagus. “Pengiriman barang kadang satu minggu, terkadang dua minggu sekali. Tergantung musim lobster lagi baik atau tidak. Usai ditampung, lobster kemudian kita kirim ke Bali melalui jalur darat. Tujuannya adalah Pasar Badung. Disana sudah ditunggu para pedagang yang biasa memasok ke hotel dan restoran,” ungkap Jefri di Markas Satpolairud.

Pasca dilakukan press release,  119 ekor lobster yang masih hidup langsung dilepas liarkan di Perairan Ketapang, tepatnya di belakang Markas Satpolairud. 

Pelepasan dilakukan petugas dari Polisi Perairan, Dinas Perikanan dan Kelautan serta Balai Karantina Ikan Banyuwangi. 

Sedangkan 14 ekor yang mati dibawa oleh petugas Balai Karantina Ikan Banyuwangi untuk dimusnahkan. (rin/ted)

 

Tag : lobster

Komentar

?>