Senin, 18 Juni 2018

Gelar FGD, Cara Polres Malang Tekan Intoleransi

Selasa, 13 Maret 2018 17:05:20 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Gelar FGD, Cara Polres Malang Tekan Intoleransi

Malang (beritajatim.com) - Forum Grup Discussion (FGD), dalam rangka Harkamtibmas, digelar di Gedung Sanika Satyawada, Polres Malang, Selasa (13/3/2018) siang.

Dihadiri seluruh tokoh dan pemangku kebijkan se Kabupaten Malang, FGD dalam rangka Harkamtibmas mengantisiasi Intoleransi, Radikalisme, Menangkal Isu Hoax dan Teror Kepadaa Ulama.

Hadir dalam FGD Pasi Ops Kodim 0818 Wil Malang Batu KAPT. INF. Panji Wismono, Kasat Pol PP H.Holidin, Direkai RSJ Lawang Anang Harwiyono, Ketua PCNU Kabupaten Malang dr Umar Utsman, Kepala Kesbangpol, Kadin Kesehatan, Kadin Sosial, Kabag Kerjasama, Kabaghukum dan Kabagkesra Kabupaten Malang.

FGD juga diikuti Rektor Universitas Raden Rahmad (Unira) Kepanjen Hasan Abadi, Ketua Banser, Ketua Jamaah Jafarmania, Ketua Jamaah Riyadhul Jannah, Ketua Jamaah Al Hikmah, Ketua Jamaah Al Maghbul, Ketua Jamaah Wahidiyah, Ketua Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Pakisaji dan Koordinator Keamanan Ponpes se Kabupaten Malang.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung dalam FGD menyampaikan, kegiatan ini sebagai tindak lanjut silaturohmin daalam rangka menjaga kamtibmas. Serta, mengantisipasi Inteolransi dan rasikalisme sekaligus menangkal isu hoax dan teror kepada ulama.

“Jangan sampai gupuh, atau tergesa-gesa dalam menghadapi situasi ini dan kita harus  bisa lebih cerdas menganalisa. Kita lakukan tabayun dulu jika mendengar kabar yang belum tentu kebenarannya. Dan Alhamdulillah masyarakat Kabupaten Malang sangat cerdas,” ungkap AKBP Ujung, Selasa (13/3/2018).

Hasil inventarisir issu dari 45 se Indonesia, beber Ujung, hanya ada 4 kasus yang benar-beenar nyata dan sudah terungkap. Dimana pelaku nya memang orang gila dan yang mampu menyatakan gila hanya pihak RSJ.

“Contohnya di Kecamatan Lawang ada penyerangan kepada ulama ternyata memang benar pelaku nya adalah orang gila dan sudah clear. Jangan sampai kemudian disusupi kabar hoax,” tutur Ujung.

Ujung menjelaskan, ajakan Ketua PBNU dan Uztad Somad  bahwa kita harus  cerdas menggunakan medsos dalam kebaikan dan siar. Pernyataan dari Kapolri bahwa  Hasil survey diseluruh Indonesia juga tidak ada kegiatan apapun yang menyerang Ulama.

Untuk antisipasi hal negatif tersebut, pihaknya sudah memerintahkan kepada seluruh Bhabinkamtibmas dan koordinasi dengan pihak Desa dan Babinsa. Agar keluarga dari orang diduga sakit jiwa, supaya lebih menjaga keluarganya yang sakit tersebut dan terus berkoordinasi dengan Dinsos Kabupaten Malang.

Sementara antisipasi dari adanya  issu PKI bangkit, tegas Ujung, haruslah melihat sejarah masa lampau. “Kita tetap waspada atas faham PKI, lihat semua dengan fakta bahwa penulis  Francis Fukuyama menyatakan pemenangnya adalah faham demokrasi dan mulai 2002, justru faham sosialis sudah bubar dengan ciri-ciri diantaranya runtuhnya Uni sovyet , Tembok Berlin dan sekarang China telah menuju arah lebih Liberal lagi,” papar AKBP Ujung.

Masih kata Ujung, hasil sambang tokoh dengan KH Prof Tolkhah Hasan mantan Menteri Agama bahwa tantangan kita lebih berat karena  adanya berita bohong , rasa kebencian karena  perbedaan agama dan suku kepercayaan.

“Jangan gupuhan dan laksanakan tabayun melihat sesuatunya dan segera laporkan serta serahkan kepada Polri dalam bidang Kamtibmas,” kata Ujung.

Sementara itu, Rektor UNIRA Kepanjen, Hasan Abadi melanjutkan, asal usul kata Hoax juga harus dipahami. Menurut Robert Nares Inggris pada abat 18 yang artinya Hocus benar-benar menipu.Hocus atau Hoax nama pesulap Inggris. Dalam Islam Berita Hoax Iblis juga dialami Nabi Adam. Serta hoax syetan kepada Qobil dan Abdullah Bin Ubay terhadap Aisyah terkait kabar bohong perselingkuhan.

“Jadi berita hoax awalnya memang dari Syetan. Era saat ini perang tidak perlu lagi berhadapan, namun dengan teknologi misalnya perang menggunakan cara proxy, perdagangan bebas atau WTO diseluruh dunia,” ujar Hasan.

Ia menambahkan, negara-negara maju apabila akan melakukan upaya untuk kepentingannya, sudah menggunakan survey, penelitian dan data yang akurat.  Sedangkan negara berkembang masih dengan cara tradisional.

Misalnya dibidang ekonomi, launching barang mewah diadakan di Indonesia, karena Indonesia merupakan market yang luar biasa bagi negara asing. “Antisipasi pola-pola tertentu yang menggunakan orang diduga gila di ponpes dengan menggunakan medsos sebagai medianya dengan menggunakan issu baik secara nasional dan issu lokal. Misalnya seperti pelaku kelompok  MCA  dan analisa kedepannya dengan tujuan tertentu dalam pilgub dan Pilpres 2019,” pungkasnya. [yog/but]

Tag : hoax

Komentar

?>