Selasa, 11 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Aspidsus Kejati Sulut: Saya Malu Dibentak-bentak

Minggu, 11 Maret 2018 20:55:36 WIB
Reporter : M. Ismail
Aspidsus Kejati Sulut: Saya Malu Dibentak-bentak
Aspidsus Kejati Sulut M Rawi (kiri). [Foto: Ismail/bj.com]

Sidoarjo (beritajatim.com)--Buntut dari perlakuan tidak mengenakkan dan pelayanan tidak baik yang diberikan Maskpai Lion Air saat akan berangkat dan gagal terbang di Bandara Internasional Juanda menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado Sulaesi Utara, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulawesi Utara, M Rawi, berniat akan melayangkan gugatan terhadap Lion Air.

"Saya menyiapkan gugatan untuk menyikapi permasalahan ini. Saya diperlakukan tidak baik di depan umum dan dirugikan secara materiil dan imateriil," kata M. Rawi saat beristirahat di Ibis Hotel Juanda, Minggu (11/3/2018).

Dia menambahkan, dia merasa malu karena dimaki dan dibilang akan dilaporkan polisi oleh pegawai Lion Air. Rawi hanya diam dan tidak menunjukkan jati dirinya meski disalah-salahkan oleh petugas gate Lion Air tersebut.

"Saya malu, Mas. Merasa tidak bersalah dan dirugikan gagal terbang dan tidak bisa tugas menyambut hari kerja pertama Kajati Sulut besok, malah dibentak-bentak," imbuhnya.

Disinggung soal penyebab akan dilaporkan polisi, karena petugas Lion Air merasa dipukul dengan tas miliknya, Rawi mengaku tidak memukul. Tas tangan yang dibawanya dikibaskan kena petugas karena ditanya soal jadwal pesawat terbang, tapi petugas Lion Air itu tak menghiraukan.

"Saya bawa tas tangan untuk kantong ponsel. Saya sentuhkan menegur karena tidak memperhatikan pertanyaan saya. Siapa yang memukul, saya berani disuruh menyaksikan CCTV yang merekam semua kejadian yang ada di bandara," tutur mantan Kajari Perak Surabaya itu.

Dia juga tidak keberatan pihak Lion Air melaporkannya ke polisi. Ia juga menantang, silakan dilaporkan ke polisi agar jelas siapa yang salah. "Saya sangat senang jika kasus ini dibawa ke ranah hukum," tegasnya.

Sementara itu, Asisten Manager Lion Air di Bandara Internasional Juanda, Dyan Eko, mengatakan bahwa masalah tersebut hanya persoalan kesalahpahaman. Dyan mengaku telah menawarkan solusi dan kebijakan soal penerbangan, tapi Rawi tidak mau.

Soal ancaman laporan ke polisi oleh petugas Lion kepada Rawi, katanya, itu urusan pribadi yang bersangkutan. "Itu urusan intern (pribadi) yang bersangkutan dengan staf kami, bukan atas nama peruasahaan," tukas Dyan. [isa/air]

Komentar

?>