Minggu, 24 Juni 2018

Aspidsus Kejati Sulut Kecewa Pelayanan Lion Air Bandara Juanda

Minggu, 11 Maret 2018 20:15:18 WIB
Reporter : M. Ismail
Aspidsus Kejati Sulut Kecewa Pelayanan Lion Air Bandara Juanda

Sidoarjo (beritajatim.com) - Pelayanan yang tidak mengenakkan dari maskapai penerbangan Lion Air sepertinya dirasakan Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, M Rawi saat akan terbang dari Terminal 1 Bandara Internasional Juanda tujuan Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Minggu (11/3/2018).

Ia marah karena merasa dikecewakan oleh petugas Lion Air. Pelayanan yang dialami, selain delay dua kali, gagal terbang, malah diancam akan dilaporkan ke polisi oleh staf Lion Air.

Ceritanya, mantan Kajari Perak Surabaya itu hendak terbang dari Surabaya menuju Bandara Manado Sulawesi Utara, dengan menggunakan Lion Air JT036V dengan jadwal terbang 13.30 WIB. Dari kediamannya di Malang, dia tiba di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda pukul 12.00 WIB.

Begitu tiba di Bandara Internasional Juanda, Rawi langsung masuk ke ruang tunggu karena jadwal pesawat terbang 13.30 WIB. Ternyata setelah ditunggu pesawat delay pukul 14.00 WIB. Ia menunggu lagi sambil terus melihat layar monitor jadwal penerbangan sesudah delay yang pertama.

"Pas mau terbang, delay kedua saya masuk ruang tunggu lagi, ternyata delay lagi sampai pukul 14.40 WIB," katanya di sela-sela melakukan protes di kantor maskapai Lion Air Bandara Internasional Juanda.

Dia menuturkan, di sela-sela menunggu, Rawi tidak mendengar panggilan apapun dari bagian gate untuk tujuan Manado. Rawi heran, belum ada panggilan sebelumnya, tapi sudah final call. "Lalu saya tanya petugas Lion yang jaga di pintu, jawabnya untuk tujuan Manado belum. Saya tanya lebih dari satu kali dan dibilang belum berangkat," tandasnya.

Jadi masalah setelah Rawi bertanya kepada petugas Lion laki-laki bernama Ahamd Irawan Customer Servise Officer (CSO) dan supervisor  Wildan AZ. "Dia tidak menghiraukan ketika saya tanya, makanya saya sapa sambil mengibaskan tas saya ke dia. Dia marah. Lalu datang petugas lain dan mengancam laporkan saya ke polisi," cerita dia.

Keributan pun sempat terjadi. Pihak manajemen Lion Air lantas meminta maaf dan mengajak Rawi untuk berbicara dan berdamai. Lion menawarkan solusi tiket baru penerbangan ke Manado melalui Jakarta. "Saya tidak mau, karena selaku konsumen saya diperlakukan tidak nyaman di depan banyak orang," kata Rawi.

Saat menunggu untuk penerbangan Senin (12/3/2018) yang sudah dibelinya, Rawi mengaku tidak gentar ancaman yang sempat dilontarkan pegawai Lion Air itu. Dirinya tidak takut karena merasa tidak bersalah. "Saya tegaskan didepan pihak Lion Air, silakan lapor ke polisi. Saya malah senang, siapa yang bersalah dalam hal ini. Silakan CCTV yang ada dikeluarkan untuk menjadi bukti permasalahan ini," tukasnya meminta.

Masih kata Rawi, ia tidak bisa membayangkan kalau pelayanan atau perlakuan yang diberikan Lion Air terhadap orang awam, seperti kasus yang ia alami. Pasti orang awam itu bisa dianggap akan bersalah sendiri. "Padahal saya menilai pelayanannya yang tidak bagus. Semoga saja kasus yang saya alami ini tidak menimpa orang awam," tuturnya berharap.

Sementara itu, Asisten Manager Lion Air di Bandara Internasional Juanda, Dyan Eko, mengatakan bahwa masalah tersebut hanya persoalan kesalahpahaman. Dyan mengaku telah menawarkan solusi dan kebijakan soal penerbangan, tetapi Rawi tidak mau. Soal ancaman laporan ke polisi oleh petugas Lion ke Rawi, Eko berucap, "Itu urusan intern (pribadi) yang bersangkutan dengan staf kami bukan atas nama peruasahaan," kilah Dyan. (isa/kun)

Komentar

?>