Senin, 18 Desember 2017

Adik Kandung Laporkan Kakak Palsukan Nama di Sertifikat Tanah

Kamis, 07 Desember 2017 16:56:36 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Adik Kandung Laporkan Kakak Palsukan Nama di Sertifikat Tanah

Malang (beritajatim.com) - Misnandeni (46) warga Dusun Sumbertangkep Desa Sumbersuko, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang berencana melayangkan surat pengaduan ke Polres Malang dengan tembusan Polda Jatim, Mabes Polri, Divisi Propam dan Kompolnas.

Pengaduan itu terkait pemalsuan nama dalam sertifikat tanah yang dilakukan kakak kandungnya sendiri bernama Jamiatun.

Farida Wulandari, SH, kuasa hukum Misnandeni, pada wartawan, Kamis (7/12/201) sore menjelaskan surat pengaduan tersebut atas saran dari penyidik Satreskrim Polres Malang.
Petunjuk untuk membuat surat pengaduan itu setelah Misnandeni bersama Farida mendatangi Polres Malang siang hari ini.

"Kami datang ke Polres Malang untuk membuat laporan. Tetapi oleh penyidik Reskrim, diarahkan untuk membuat pengaduan. Alasannya karena bukan nama Misnandeni yang dipalsukan, melainkan nama Jamiatun sendiri dengan dua nama yang berbeda. Padahal faktanya, sertifikat tanah itu milik klien saya," terang Farida.

Kata dia, selain surat pengaduan soal pemalsuan nama, Farida juga akan melayangkan gugatan ke PTUN untuk pembatalan sertifikat palsu. Hal ini, karena sertifikat milik Misandeni diambil oleh Jamiatun, tanpa sepengetahuan korban.

Kemudian Jamiatun membuat akta hibah palsu ke salah satu Notaris di wilayah Kecamatan Dau. Dari akta hibah palsu itulah, kemudian digunakan merubah sertifikat dengan dua nama Jamiatun yang berbeda. Yakni Sri Dewi Jamiatun dan Sri Dewi Jamiatun Nisa.

"Dalam surat pengaduan nanti, kami juga akan menanyakan beberapa perkembangan kasus klien kami yang pernah dilaporkan. Selain kasus kebakaran rumah, ada kasus pencurian dan penganiayaan. Tetapi faktanya, beberapa laporan dari tahun 2013 sampai sekarang tidak ada tindaklanjutnya," beber Farida.

Kata dia, dugaan pemalsuan nama dalam sertifikat tanah yang dilakukan Jamiatun ini, berawal dari kasus pencurian kayu jati di lahan seluas 2850 M2 milik Misnandeni, pada 2013.
Saat itu Misnandeni melaporkan Jamiatun ke polisi terkait pencurian kayu itu.

Namun dalam perkembangan penyidikan,  Jamiatun mengatakan bahwa kayu jati itu diambil dari lahan miliknya. Ia menunjukkan akta hibah tanah, yang diakui dari Misnandeni.

"Padahal akta hibah itu palsu. Sebab, tanpa sepengetahuan Misnandeni, Jamiatun mengambil sertifikat tanah yang dijaminkan di Bank Danamon Unit Pasar Dampit," ujarnya.

Dari sertifikat itulah, lanjut Farida, Jamiatun membuat akta hibah yang kemudian membuat sertifikat baru dengan merubah namanya. "Pemalsuan nama dalam sertifikat inilah, yang sebenarnya kami laporkan. Jika nantinya terbukti, pasti beberapa laporan yang lama akan terbukti juga," pungkasnya. (yog/ted)

Komentar

?>