Senin, 18 Desember 2017

Terjerat Kasus P2SEM

Inilah Pengakuan Dokter Bagoes

Kamis, 30 Nopember 2017 15:05:04 WIB
Reporter : Nyuciek Asih
Inilah Pengakuan Dokter Bagoes

Surabaya (beritajatim.com) - Sempat menjadi buronan kelas wahid dalam kasus yang ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, akhirnya dokter Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo tertangkap petugas di Malaysia. Selama dalam pelarian, dokter spesialis jantung ini mengajar sekligus bekerja di sebuah Rumah Sakit.

Lalu apa kata dokter Bagoes terkait kasus korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang menjeratnya?

Asisten pidana khusus Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi menyatakan jika dokter Bagoes adalah saksi kunci dalam kasus ini.

“Nanti kalau memang dia (dr Bagoes) sebagai saksi kunci memberikan informasi. Dan tadi perintah Pak Kajati, ada kemungkinan bisa dibuka lagi (kasus P2SEM). Nanti akan dikembangkan lagi,” kata Didik.

Jaksa keliharan Bojonegoro ini menjelaskan, dr Bagoes mengaku bahwa posisinya dalam realisasi dana hibah P2SEM hanya sekedar membantu. “Tadi memang dia mengaku bahwa hanya membantu kalau bahasa dia,” katanya.

Bahkan Didik mengungkapkan bahwa dr Bagoes siap membantu Kejati Jatim untuk membuka kembali kasus korupsi yang merugikan negara sekitar Rp 17 miliar ini. “Nanti dia (dr Bagoes) akan mengatakan. Kita akan dalami lagi, kita tunggu dia sampai ngomong,” tegasnya.

Mantan Kepala Kejari Surabaya ini juga memastikan pihaknya akan melakukan kroscek atas data yang beberapa waktu lalu sempat diserahkan oleh Fathur Rasyid, mantan terpidana kasus korupsi P2SEM ke Kejati Jatim. “Semua akan kita lakukan,” katanya.

Dalam kasus ini, dr Bagoes bakal dieksekusi dan dijebloskan ke Lapas Porong untuk menjalani putusan pengadilan yang telah memvonisnya total selama 21,5 tahun penjara. Dr Bagoes sendiri telah dinyatakan sebagai buron sejak tahun 2011 silam.

Perlu diketahui, Dr Bagoes melakukan korupsi dana P2SEM dengan modus menjadi makelar untuk kampus-kampus di Jatim. Dalam prakteknya, dr Bagoes memakai proposal dan meminjam bendera lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) di beberapa kampus di Surabaya, Malang, Jombang, Ponorogo, dan Sidoarjo. [uci/but]

Komentar

?>