Senin, 18 Desember 2017

Kisah Brigadir Rochmat, Rawat Anak Broken Home Hingga Yatim Piatu

Selasa, 21 Nopember 2017 23:42:31 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Kisah Brigadir Rochmat, Rawat Anak Broken Home Hingga Yatim Piatu

Madiun (beritajatim.com) - Tidak banyak polisi yang memilih jalan hidup seperti Brigadir Rochmat Tri Marwoto. Dia rela mengasuh, merawat, dan membesarkan belasan anak yatim di rumahnya yang sempit.

Ya, rumah Brigadir Rochmat yang ada di Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun tidak bisa dibilang besar. Hanya terdiri dari ruang tamu, ruang tengah dan memiliki tiga kamar.

Tentu tak bisa dibayangkan bagaimana suasana di sana? Apalagi, jumlah anak asuh Brigadir Rochmat ada 15 anak. Lalu, anak kandung Brigadir Rochmat ada dua orang. Jadi ada 17 orang yang tinggal di rumah kecil tersebut.

Walau demikian, kehidupan Brigadir Rochmat sama seperti keluarga lainnya. Mereka hidup rukun, layaknya sebuah keluarga besar.

Tak ada perbedaan apapun. Keluarga besar ini makan yang sama. Jika Brigadir Rochmat makan tempe, anak asuhnya juga makan tempe. Jika makan ayam, semua juga makan ayam. Semua hidup layak, sejajar tidak ada perbedaan.

Yang menggelitik, ternyata anak kandungnya sendiri ternyata sering tidur di ruang tengah. Semua hidup rukun, meski jalur hidup anak asuh Brigadir Rochmat tidak mulus.

Dia mencontohkan, semisal ada yang berantem dengan pacarnya. Juga ada yang berselisih paham karena rebutan wanita. "Seperti anak pada umumnya," terangnya.

Ada pula, terkena kasus narkoba. Dia mengisahkan, saat masuk, si anak asuh biasa. Akibat salah pergaulan, malah terperosok ke lembah hitam narkoba. Namun demikian, semua itu diselesaikan dengan baik, kekeluargaan, seperti dia memperlakukan dua anak kandungnya sendiri.

Begitupun dengan urusan uang saku. Semua sama rata. "SMP dan SMA sepekan kami beri Rp 30 ribu. Uang bensin Rp 20 ribu. Untuk TK semintanya si anak," katanya.

Brigadir Rochmat bercerita, semua aktivitas itu bermula pada 2007. Ketika itu dirinya masih berpangkat Bripda. Anggota Polri ini bertemu seorang anak broken home di Pacitan. Anak itu, ikut dengan neneknya yang tidak berkecukupan.

Pertemuan Brigadir Rochmat dengan anak perempuan itu terjadi ketika ia mengunjungi rumah sahabatnya. "Saya ambil, saya sekolahkan di SD sampai lulus kuliah. Dan alhamdulillah lulus. Dari situ, banyak anak yang kemudian saya asuh," jelas pria kelahiran Madiun ini.

Walau demikian, Brigadir Rochmat izin terlebih dulu dengan istri dan anaknya. Sejak itu pula anak asuh Brigadir Rochmat terus bertambah. Ada saja momen di mana dia bertemu anak asuhnya.

Jika tadi dia bertemu anak asuh perempuan di Pacitan, adapula yang ia temui ketika mengajar ekstra kurikuler pramuka. "Biasanya beda, anak kekurangan dan mampu. Saya bicara dari hati ke hati," terangnya

Ada pula, anak asuh yang memang ia temui di jalan. Ayah si anak tersebut merupakan kekerasan di Madiun. Sedangkan sang ibunya memilih jalan lain. "Termasuk kakaknya yang sempat ikut dengan saya. Memilih keluar karena bekerja. Adiknya masih saya asuh," kisahnya.

Yang juga unik adalah pertanyaan Brigadir Rochmat kepada mereka yang akan ia asuh. Dia selalu menanyakan: Pilih sate atau ketela?

"Semua bisa menikmati sate, tapi harus usaha. Harus mau menyembelih, membersihkan. Tidak seperti ketela rebus yang tinggal ambil," katanya.

Brigadir Rochmat menjelaskan, sate atau ketela merupakan doktrin yang berarti untuk mencapai sesuatu itu tidak mudah. Jika memilih ketela rebus sangat mudah.

Begitu juga, untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak setelah ditinggal orang tua. Semua bisa dicapai dengan mau usaha, doa dan belajar.

Itu juga sudah dia buktikan dengan keberhasilan mengasuh 64 anak yatim dan anak kurang mampu selama 10 tahun. Sekarang yang tersisa hanya 15 anak. Lainnya sudah bisa mandiri.

Sekadar diketahui, sebagai polisi berpangkat Brigadir, dia hanya menerima gaji tidak mencapai angka 5 juta perbulan. Untuk mencukupi kebutuhan itu, dia berhutang ke bank, lalu hasilnya dibelikan kebun jagung, kebun cengkeh, kebun jahe.

Dia kemudian berhasil. Kebunnya berbuah, mulai jagung, jahe, cengkh, durian. "Jika panen, semua dijual. Kemudian uangnya untuk menghidupi anak asuh saya. Untuk kebutuhan beras saya juga beli gabah. Baru saya giling sendiri," tambahnya.

Usaha lain, lanjut dia, membuka kios buah, kios-kios perancangan. Dimana, jika pagi hari dijaga istrinya, Hilmiya. Siang dan Sore gantian dijaga anak asuhnya.

Selasa (21/11/2017) pagi, Brigadir Rochmat mendapat penghargaan dari Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, berkat anak asuhnya tadi. "Kami ingin dengan mengasuh anak menyatukan NKRI. Semua timbul dari diri kami dan kami tularkan kepada mereka," begitu pesan Brigadir Rochmat kepada anak asuhnya. [mit/suf]

Tag : polisi

Komentar

?>