Kamis, 23 Nopember 2017

Sebelum Kuras ATM Korban, 8 Penipu Sebarkan Dokumen

Minggu, 29 Oktober 2017 21:07:33 WIB
Reporter : Ragil Priyonggo
Sebelum Kuras ATM Korban, 8 Penipu Sebarkan Dokumen

Surabaya (beritajatim.com) - Dari pengungkapan penipuan beromzet miliaran, Senin 23 Oktober 2017, Unit Pidek Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil mengamankan pelakunya yang berjumlah delapan orang.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Mohammad Iqbal mengatakan, modus penipuan pelaku membuat masyarakat khususnya kota Surabaya menjadi resah.

Apalagi jika pelaku sudah mendapatkan korbanya, maka korban tidak sadar, kalau pelaku akan menguras semua uang yang ada di ATM-nya. Sebab modus penipuan yang dilakukan oleh delapan tersangka tersebut ialah menyebar dokumen palsu berupa Surat Izin Usaha Perdangangan (SIUP), CV, dan cek senilai Rp 1,47 Miliar.

Dokumen tersebut dimasukkan kedalam amplop coklat dan disejumlah wilayah di Jatim, diantaranya Surabaya, Mojokerto, Pasuruan dan lain-lain. "Lokasi pernyebarakan dokumen palsu tersebut biasa dilakukan di rumah makan, atau komplek perumahan. Dengan menyebar dokumen tersebut, mereka ibarat memancing para korbannya," kata Mohammad Iqbal, Minggu (29/10/2017).

Setelah dokumen tersebut disebar, maka tinggal menunggu korban dan menelpon para tersangka melalui nomor telepon yang tercantum di dokumen. Kemudian jika ada korban yang mengaku menemukan, maka pelaku mulai menjalankan aksinya.

Dengan nada meyakinkan, tersangka meminta korban untuk mengembalikan dokumen tersebut dengan iming-iming akan diberikan imbalan senail Rp 100 juta. Korbanpun diminta untuk mengirimkan nomor rekeningnya kepada tersangka.

"Setelah itu tersangka menghubungi korban dan mengatakan jika uang Rp 100 juta sudah ditransfer. Korbanpun diminta untuk datang ke ATM dan mengecek saldo," lanjut Mantan Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya ini.

Namun saat dicek, korban tak mendapati saldonya bertambah. Kemudian dengan terus dibimbing oleh para tersangka untuk terus memastikan uang Rp 100 juta tersebut. Ketika korban mengetahui saldonya belum bertambah, tersangka mulai memperdaya korban untuk mentransfer uang ke rekening tarsangka yang sudah dipersiapkan.

"Tersangka meminta korban untuk kembali memasukkan kartu ke mesin ATM. Nah disana tersangka mulai memperdaya korbannya. Bukan untuk mengecek saldo melainkan cara pelaku untuk menguras uang yang ada di ATM korban. Proses tersebut terus diawasi oleh tersangka," jelasnya.

Perwira dengan dua melati di pundaknya ini menjelaskan agar proses transfer tersebut tidak disadari oleh korban, pelaku mengarahkan agar korban memilih bahasa inggris di mesin ATM. Kemudian, tersangka diminta memasukkan nomer rekening tersangka. Setelah itu, mengirimkan uang milik korban.

"Agar korban tidak mencurigai, nominal uang yang ditransfer tidak dengan angka nilai bulatkan. Misalnya, jika di ATM uang korban sebanyak Rp 5 juta, maka tersangka meminta korban untuk  memasukkan nominal 4, 367.778," papar mantan Kapolres Gresik dan Sidoarjo ini. 

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Leonard M Sinambel menjelaskan dalam menjalankan aksinya, delapan pelaku tersebut memiliki peran dan tugas masing-masing. Abdul Malik merupakan otak komplotan ini.

Dia yang adalah orang yang menyeidikan tempat untuk ke tujuh tersangka lain dan juga alat-alat yang digunakan untuk melancarkan aksinya. Kemudian tersangka Irsan, Reno, Jum Agus dan M Yusuf serta Supriadi merupakan tersangka yang bertugas menerima telepon dari korban dan urusan transfer.

"Sedangkan dua tersangka lain yakni Sapri, dan Adi bertugas untuk menyebarkan dokumen dan juga kupon berhadiah," ungkap AKBP Leonard.

Jadi selain menyebarkan dokumen palsu, tersangka ini juga menggunakan modus kupon berhadiah. Tujuannya sama, menggiring korban agar menuju ke mesin ATM dan mengguras uang korban.  

Sekedar diketahui, bahwa modus penipuan yang dilakukan oleh Malik cs ini telah berjalan selama empat tahun terakhir. Hasil penipuan delapan tersangka mampu meraup uang rata-rata Rp 50 juta setiap bulan. Jumlah tersebut, diperoleh dari tiga hingga sampai lima korban yang berhasil diperdaya.

"Kalau dikalkulasi dalam empat tahun ini, uang yang dikumpulkan uang sebanyak Rp 2,5 Miliar, dan menerut mereka uangnya dipakai untuk biaya hidup di Surabaya dan membeli sejumlah kendaraan mulai dari motor dan satu unit mobil," tandas Leo. [gil/suf]

Tag : penipuan

Komentar

?>