Rabu, 18 Oktober 2017

Ibu Digugat 2 Anak Kandung Kini Numpang Tinggal Bersama Anjal

Kamis, 21 September 2017 10:27:48 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Ibu Digugat 2 Anak Kandung Kini Numpang Tinggal Bersama Anjal
Sumiati saat ditemui di rumah singgah anjal

Kediri (beritajatim.com) - Paska ditendang dari rumahnya di Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri karena diekskusi oeh bank, Sumiati (70) terpaksa tinggal bersama anak-anak jalanan (anjal). Dia numpang di rumah Karya, sebuah rumah yang disediakan Pemerintah Kota Kediri untuk membina anak-anak jalanan dan dari komunitas Punk.

Janda lima orang anak ini menempati rumah yang ada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Bersama keluarga anak bungsunya Enik Murtini (32), menantunya Mohammad Faisol (36), suami Enik dan dua orang cucunya, anak Enik.

Ketika ditemui, Sumiati tampak sangat bersedih. Tangisnya pecah saat ditanya perihal keberadaannya di rumah itu. Sambil menangis, perempuan tua ini menjawab tiga bulan ia numpang, sejak Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri mengeksekusi rumahnya.

"Sebenarnya saya tidak betah disini. Meskipun rumahnya bagus, tetapi lebih nyaman di rumah sendiri," ucap Sumiati sambil mengusap air matanya. Sesekali ia sesenggukan. Tetapi berusaha tegar karena tidak ingin memperlihatkan kesedikan dimata anak-anaknya yang lain.

Eksekusi pengosongan rumah dilakukan PN Kabupaten Kediri, pada 17 April 2017. Sepuluh hari menjelang pelaksanaan, pengadilan mengirimkan surat pemberitahuan. Ada tiga termohon eksekusi yaitu, Bambang Hartono, Enik Murtini dan Sumiati. Bambang Hartono adalah perantara peminjaman kredit ke bank asal Dusun Pilangbango, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Sebenarnya Sumiati tidak tahu proses ekskusi. Sebab sebelumnya, ia sudah dibawa oleh Enik pergi dari rumah. Waktu itu Enik khawatir ibunya bakal syock berat melihat rumahnya diambil paksa bank.

"Saya disembunyikan. Sehingga tidak tahu pelaksanaan eksekusi. Tahu tahu barang dari dalam rumah sudah dikeluarkan. Banyak barang yang rusak, banyak yang pecah," kata Sumiati sembari meneteskan air mata.

Baginya rumah berdinding merah di tepi jalan gang di Desa Ngablak itu sangat berharga. Bahkan tak ternilai dengan apapun. Rumah itu meninggalkan banyak kenangan bersama almarhum suaminya Muradi dan anak sulungnya Emi Asih yang kini memperkarakannya di PN Kota Kediri.

"Rumah itu kami bangun dengan susah payah. Saya bersama almarhum suami dan Emi Asih. Dia yang setiap pagi saya ajak ke pasar membawa belanjaan. Kami kumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membangunya. Jika saya mengingat itu, rasanya sangat sedih," tambah Sumiati dengan mata berkaca kaca.

Kini perasaan Suamiti bercampur aduk. Antara sedih karena kehilangan rumah penuh sejarah, dan kebingungan lantaran digugat oleh anak-anaknya sendiri. Bahkan, sebelum gugatan dilayang ke pengadilan, Sumiati sempat dibentak oleh kedua penggugat perihal rumahnya yang berpindah tangan kepada orang lain.

"Saya dibentak. Kenapa tidak memberitahukan masalah tersebut kepada mereka. Tetapi ini sudah terlanjur. Demi rasa sayang saya terhadap anak yang bontot ini (Enik Murtini). Ingat melihat dia bisa memulai usaha. Bisa menyusul sukses bersama kakak-kakaknya," terus Sumiati.

Meskipun dirundung kesedihan yang teramat mendalam, tetapi Sumiati sadar bahwa kasih sayangnya terhadap semua anaknya harus sama. Tidak hanya kepada Enik Murtini saja, tetapi kepada keempat saudaranya, termasuk kepada Emi Asih dan Lalan. Dia menyadari semua anaknya memiliki hak yang sama, termasuk hak waris peninggalan almarhum suaminya.

Sumiati berharap, masih ada keadilan baginya. Dia menginginkan rumah itu kembali ke tangannya dan bisa ditempati bersama anak anaknya. Harapan itu sudah wajar bagi setiap orang yang sudah berusia senja. Ingin menikmati masa tuanya dengan anak anak dan cucunya.

Diberitakan sebelumnya, sungguh tega. Kata itu sepertinya tepat untuk menggambarkan peristiwa yang sedang dialami oleh seorang ibu tua di Kabupaten Kediri. Dia digugat oleh kedua orang anak kandungnya sendiri hanya gara-gara persoalan warisan.
 
Nasib tragis ini dialami Sumiati (70) warga Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Janda tua ini harus berhadapan dengan dua orang anaknya Emi Asih, anak sulung dan Lalan Suwanto, anak keempatnya di muka majelis Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Selasa (19/9/2017). [nng/suf]

Komentar

?>