Kamis, 17 Agustus 2017

Gagal Puasa Bareng Keluarga

Tiga Perampok Nasabah Bank Sahur Perdana di Penjara

Sabtu, 27 Mei 2017 04:24:03 WIB
Reporter : Ragil Priyonggo
Tiga Perampok Nasabah Bank Sahur Perdana di Penjara

Surabaya(beritajatim.com) - Tiga pria yang tergabung dalam koplotan perampok nasabah bank harus melakukan makan sahur perdana di balik jeruji besi. Padahal, saat awal puasa mereka sudah merencanakan pulang kampung untuk menjalankan ibadah puasa di tengah keluarga.

Tiga orang ini masing-masing Achmad Yunus (36), warga Bulak Banteng; Mukhlis Slamet (38), warga Desa Prajan, Camplong, Sampang, Madura; dan Slamet (29), warga Desa Kebalen Timur, Socah, Bangkalan, Madura.

Harapan tiga pelaku untuk pulang kampung dengan harapan bisa menjalankan puasa bersama keluarga yang sudah lama ditinggal merantau untuk merampok nasabah bank di Jakarta, akhirnya pupus. Malah berganti rintihan untuk menghilangkan rasa sakit pada kaki karena tertembus timah panas tim Antibandit Polrestabes Surabaya.

"Untuk bisa lolos dari pengejaran​ tim anti bandit, maka anggota terpaksa melumpuhkan kaki ketiga pelaku," kata AKBP Shinto Silitonga, Kasat Reskrim Polretabes Surabaya, Jumat (26/5/2017).

Shinto menjelaskan, catatan ketiga pelaku dalam aksi perampok nasabah bank tidak hanya di Surabaya saja. Tapi juga merambah ke Jakarta, yang notabene tempat mereka merantau. "Ketiga pelaku ini saat beraksi kerap melukai korbannya yang berusaha melawan. Sedangkan Yunus dan Mukhlis merupakan seorang residivis," ujar Shinto.

Yunus adalah residivis setelah tertangkap saat melakukan perampokan di Mojokerto senilai Rp 140 juta. Sebelumnya, Yunus telah berulang kali melakukan aksinya di Surabaya pada 2010 dan 2011.

Seperti di tahun 2010 tepatnya bulan Juli, Yunus bersama kelompoknya beraksi di Jalan Patua, Bubutan dengan mendapatkan hasil Rp 50 juta. Sedangkan aksi pada 2011 bulan Maret di Jalan Kertajaya, tiga perampok ini berhasil menggasak nasabah yang membawa uang Rp 43 juta.

Selanjutnya sekitar Juni di Jalan Kayun, Genteng. Tiga sekawan ini juga mendapat hasil Rp 99 juta. Pada aksi ketiga di Jalan Raya Darmo Permai, tepatnya bulan Oktober mereka memperoleh uang tunai RP 97 juta. "Yunus ini kalau beraksi selalu ikut pada satu kelompok saja," lanjut Shinto.

Sampai akhirnya kasus perampokan nasabah yang sudah di tangani Polrestabes Surabaya, tepatnya bulan Desember 2011, Yunus bersama dua pelaku dari kelompok lain yakni Abdul Nasir dan Agus Sairi. Keberadaan yang digunakan untuk sembuyi dapat diketahui Polisi. "Waktu itu hanya dua temanya yang ditangkap, Yunus berhasil kabur," tutur Shinto.

Yunus pada akhirnya tertangkap oleh Polres Mojokerto dan dijatuhi hukuman 7 tahun 7 bulan penjara. Yunus hanya menjalani hukuman selama empat tahun. Ketika keluar pada Maret 2017 kemarin. Namun pengapnya ruang penjara tak membuat Yunus jera.

Selepas dari penjara, Yunus pergi ke Jakarta, untuk menemui Mukhlis dan Slamet. Selama merantau, komplotan ini melakukan dua aksi di Jakarta timur. Perampokan pertama dan kedua selama di Jakarta ini hanya berselang tiga hari.

Aksi pertama pada 25 April 2017 di Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur. Mereka merampok seorang nasabah bank dengan hasil Rp 200 juta. Tiga hari berselang atau 28 April 2017, mereka melakukannya lagi. Kali ini Yunus Cs beraksi di Jalan Pulo Lentut, Rawaterate, Cakung, Jaktim. Hasil pada aksi kedua ini Rp 108 juta.

Sebelum pulang kampung komplotan ini menyempatkan berbelanja oleh-oleh ke mall yang ada di Jakarta. Polrestabes mendengar kabar kalau Yunus cs akan pulang kampung. Sehingga, saat tim anti bandit menjumpai wajah Yunus Cs dan petugas langsung berusaha menangkapnya. Tiga pelaku nasabah ini memilih kabur lagi, agar buruan tidak kabur lebih jauh akhirnya diberi hadiah tembakan.

Dalam pemeriksaan tim penyidik, dari ketiga tersangka kasus terbanyak di Surabaya dilakukan Yunus. Maka penanganan tetap di Polrestabes Surabaya. Sedangkan Mukhlis dan Slamet, penanganan akan diserahkan kepada Polres Jakarta Timur. "Tersangka Mukhlis dan Slamet akan diserahkan ke Jakarta karena tak ada TKP-nya di sini," tandas Shinto. [gil/suf]

Komentar

?>