Selasa, 22 Agustus 2017

Penegakam Hukum Disorot

Guru Ngaji yang Dilaporkan Curi Kayu untuk Mushola Belum Tentu Bersalah

Senin, 20 Maret 2017 19:16:20 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Guru Ngaji yang Dilaporkan Curi Kayu untuk Mushola Belum Tentu Bersalah

Malang (beritajatim.com) - Sidang lanjutan kasus guru ngaji asal  Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Ahmad Kusnen (48) yang dituduh mencuri kayu hutan untuk membangun musala memasuki agenda pledoi (pembelaan).

Dalam sidang di Kantor Pengadilan Negeri Kepanjen, Senin (20/3/2017), Kuasa Hukum Ahmad Kusnen menjelaskan klienya tidak terbukti melakukan penebangan apalagi pencurian.

Karena masih ada satu orang yang diduga melakukan penebangan pohon dan kini masih buron (DPO).

Dalam pledoi yang dibacakan, pengacara Ahmad Kusnen meminta supaya kliennya dibebaskan. Alasannya, karena bukti-bukti yang menjadikan Ahmad Kusnen bersalah tidak memenuhi unsur.

Pohon sengon yang ditebang, ternyata tidak berada di kawasan Perhutani. "Berdasarkan surat keterangan dari Kepala Desa Kedungbanteng, Kamdi, bahwa petak 70 q merupakan petak yang ada di buku leter C Kantor Desa Kedungbanteng. Bukan merupakan penetapan pemerintah sebagai kawasan hutan," ungkap Abdul Fatah, SH, salah satu pengacara Ahmad Kusnen dari LPBH NU Kabupaten Malang, Senin (203/2017).

Menurut Fatah, berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, huruf b nomor 295 K/Sip/1973 tanggal 9 Desember 1975, mereka yang telah membiarkan haknya sampai tidak kurang 20 tahun, maka pemilik dianggap telah meninggalkan haknya.

"Padahal pohon yang katanya ditebang oleh klien saya ini, adalah pohon sengon yang ditanam dan dirawat oleh ayahnya lebih dari 20 tahun," terangnya.

Tuduhan bahwa Ahmad Kusnen yang menebang atau menyuruh melakukan penebangan pohon, lanjut Fatah, juga tidak bisa dibuktikan. 

Hal itu dikarenakan yang menebang pohon bernama Harun. Sementara Harun sampai detik ini, masih kabur dan menjadi DPO aparat kepolisian.

 "Tuduhan apakah Ahmad Kusnen yang menyuruh menebang tidak terbukti. Karena Harun sendiri saat ini masih DPO. Jika sampai Harun tertangkap lalu mengatakan bukan Kusnen yang menebang atau menyuruh, pasti akan menjadi blunder. Karena itu kami meminta klien kami dibebaskan dari segala tuduhan," tegas Fatah.

Sekadar diketahui, Ahmad Kusnen dituduh mencuri kayu dan dituntut 1 tahun 3 bulan penjara oleh JPU Kejari Kabupaten Malang. JPU juga menuntut denda sebesar Rp 500 juta kepada terdakwa.

Tuntutan tersebut, karena terdakwa dinilai bersalah melakukan tindak pidana penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin pejabat berwenang. Terdakwa melanggar pasal 12 huruf b dan c UU nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.

Fakta lain, harga kayu yang didakwakan pada Ahmad Kusnen, tak sebanding dengan denda yang harus dibayar oleh terdakwa. Melihat semua ini, proses hukum di Kabupaten Malang semakin amburadul.

Menanggapi hal ini, Seketaris PCNU Kabupaten Malang, Abdul Holik SH mengatakan, Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang sepakat bahwa penegakan hukum harus dikedepankan. Hanya saja, penegakan hukum tentunya harus sejalan dengan tinjauan-tinjauan lain. Salah satunya adalah, aspek sosiologi serta aspek hukum lainya.

"Terkait kasus itu, kami mengimbau kepada aparat penegak hukum dan Perum Perhutani untuk lebih mengedepankan komunikasi atas kasus yang menimpa saudara Ahmad Kusnen, yang merupakan warga NU. Dan pendampingan yang dilakukan LPBH NU Kabupaten Malang murni karena panggilan hati untuk menyelesaikan perkara ini secara baik dan komunikatif dengan menolak imbalan dalam bentuk apapun dari para pihak," pungkasnya.(yog/ted)

Tag : guru ngaji

Komentar

?>