Kamis, 17 Agustus 2017

Tebang Pohon untuk Renovasi Musala, Justru Didenda Rp500 Juta

Kamis, 16 Maret 2017 10:32:33 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Tebang Pohon untuk Renovasi Musala, Justru Didenda Rp500 Juta

Malang (beritajatim.com) - Maksud hati memperbaiki tempat ibadah berupa mushola di kampungnya, seorang warga di Kabupaten Malang justru di penjara. Ia pun terancam harus membayar denda setengah milyar rupiah.

Adalah Ahmad Kusen (49), warga Desa Kedungbanteng RT020/ RW08, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang itu, kini menjadi pesakitan karena dituding mencuri kayu milik perhutani pada tanggal 24 Nopember 2016 lalu. Sampai saat ini, Ahmad Kusen masih menjalani proses persidangan di Kantor Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang.

Dalam sidang Rabu (8/3/2017) lalu, JPU (Jaksa Penuntut Umum) Juni Ratnasari SH menuntut Kusen dengan tuntutan hukuman 1 tahun 3 bulan penjara serta denda Rp500 juta subsider 2 bulan kurungan penjara. Denda dan tuntutan yang tidak sebanding dengan fakta sesungguhnya inilah, melahirkan ketimpangan keadilan dari aparat berwajib di Kabupaten Malang.

Menanggapi tuntutan dan denda yang sangat tinggi oleh JPU, Kuasa Hukum Ahmad Kusen sangat menyesalkan sekaligus menyayangkan. "Seharusnya kemarin pak Kusen sidang lanjutan. Tapi Pak Kusen sedang sakit, sehinga tidak bisa menghadiri sidang, mungkin beliau merasa kaget mendengar tuntutan jaksa yang dirasa beliau terlalu berat," ungkap Galuh Redi Susanto, Kuasa Hukum Ahmad Kusen, Kamis (16/3/2017).

Galuh membeberkan, yang disangkakan kepada Kusen tidak sepenuhnya benar. Jika Kusen memang memotong pohon yang ada di area hutan produksi milik Perhutani, di Desa Kedungbanteng. "Ini kan ketidaktahuan orang desa mas, maaf tingkat pendidikan mereka rendah, jadi tidak mengetahui bagaimana proses perijinan meminta pohon ke Perhutani seperti apa. Anggapan mereka meminta ijin secara lisan kepada Ketua Kelompok Tani pengelola lahan garapan Perhutani, Pak Sukadi, sudah cukup," terangnya.

Kusen sendiri menurut pengakuannya kepada pengacaranya, sengaja memotong dua pohon mahoni milik Perhutani untuk kepentingan warga. Sebagai guru mengaji di kampungnya, Ahmad Kusen tidak tega melihat kondisi Musala Al Ikhlas di Desa Kedungbanteng, tempat sehari-hari dia mengajar ngaji, yang memprihatinkan. Kondisinya memang mengenaskan, kuda-kuda bangunan nyaris roboh, karena lapuk dimakan usia, dan tidak mempunyai pintu.

Kondisi inilah yang akhirnya membuat Ahmad Kusen dengan persetujuan warga akhirnya menebang pohon mahoni milik perhutani, dengan maksud kayu dari pohon tersebut nantinya untuk renovasi Mushola Al Ikhlas.

Pertimbangan selanjutnya menurut Kusen, pohon itu ditanam oleh ayah mertuanya, yang sudah mengarap lahan Perhutani itu sejak tahun 1971. "Menurut Pak Kusen lahan itu memang benar milik Perhutani, tapi masyarakat sekitar juga ikut mengelola salah satunya Pak Sumarto, ayah mertua Pak Kusen, yang ikut mengelola dan menanam pohon mahoni yang ditebang klien kami tersebut," tegas Galuh.

Pihak penasehat hukum Ahmad Kusen menilai kasus ini semestinya bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tidak harus ke meja hukum menginggat tujuan Kusen menebang pohon Perhutani bukanlah untuk kepentingan pribadinya.

"Kami awalnya sudah melakukan mediasi dengan pihak Perhutani, namun buntu. Sementara denda lima ratus juta dari jaksa penuntut itu sangatlah berlebihan. Karena harga kayu dipasaran juga tidak lebih dari sepuluh juta," papar Galuh.

Ia menambahkan, hasil investigasinya dilapangan, harga untuk satu batang pohon mahoni dengan ukuran sama yang ditebang Kusen adalah Rp 1.450.000 dengan diambil di tempat. Sedangkan di pasar kayu di Kepanjen, harga pohon mahoni dengan ukuran sama mencapai Rp 2.750.000. Anehnya pihak Perhutani menilai pohon mahoni yang ditebang Kusen senilai Rp 5.700.000. "Hal ini kan aneh, tinggi banget harga yang dipatok Perhutani," pungkasnya. [yog/suf]

Tag : pencurian

Komentar

?>