Selasa, 30 Mei 2017

Hamil 6 Bulan, PSK di Bawah Umur Ini Tetep Layani Pria Hidung Belang

Selasa, 27 Desember 2016 19:41:03 WIB
Reporter : Misti P.
Hamil 6 Bulan, PSK di Bawah Umur Ini Tetep Layani Pria Hidung Belang

Mojokerto (beritajatim.com) - MAS (16) warga Caruban, Kabupaten Madiun, terjaring razia gabungan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto bersama Satpol PP, TNI dan Polri, Selasa (27/12/2016). Meski tengah hamil enam bulan, namun ia masih melayani pria hidung belang.

Razia Pekerja Seks Komersial (PSK) kali ini digelar dengan sasaran warung remang-remang di Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dalam razia tersebut, petugas mendapati perempuan yang tenggah hamil enam bulan bersama sang adik sepupu, PAC (15).

Keduanya, mengaku menjadi PSK sejak beberapa bulan yang lalu lantaran masalah ekonomi. Di hadapan petugas, MAS mengaku dijual oleh kekasihnya yang merupakan sopir bus. Karena hamil, keluarganya tak mau menerima sehingga ia terpaksa menjadi PSK di Kabupaten Mojokerto.

"Saya baru empat bulan jadi PSK, awalnya karena pacar saya yang jual ke lelaki hidung belang. Karena saya hamil, keluarga saya tidak mau terima saya lagi. Saya kerja jadi PSK ikut salah satu warung di Awang-awang, dalam satu kali kencan tarifnya hanya Rp70 ribu," ungkapnya.

Meski mematok tarif sebesar Rp70 ribu, MAS mengaku tidak menerima secara utuh. Karena uang sebesar Rp70 ribu tersebut masih dipotong Rp20 ribu, Rp5 ribu untuk minuman keras (miras) dan Rp15 ribu untuk sewa kamar sehingga dalam satu kali kencan, ia hanya mengantongi uang sebesar Rp50 ribu.

"Saya terpaksa karena tidak bisa kerja lain lagi, saya nyampek di Mojokerto juga tidak sengaja. Saya terdampar disini karena sudah tidak mungkin pulang ke Caruban, keluarga saya sudah tidak mau menerima saya lagi setelah tahu saya hamil," ujarnya.

Dalam satu hari, MAS mengaku bisa melayani beberapa pria hidung belang meski ia dalam posisi hamil enam bulan. Sebelum petugas datang, MAS mengaku sudah melayani dua pria hidung belang. Menurutnya, hal tersebut dilakukan lantaran kebutuhan ekonomi.

Sementara, PAC (15) mengaku, ikut kakak sepupunya menjadi PSK di Mojokerto juga karena sang ayah tak mau mengurusinya setelah ditinggal sang ibu meninggal. "Saya kesini ikut mbak. Kalau ada kerjaan selain ini, saya mau. Tapi saya tidak punya ijazah. Saya sekolah SD saja tidak lulus," tuturnya.

Dibanding MAS, tarif PAC lebih mahal. Dalam sekali kencan, ia menerima uang dari pria hidung belang sebesar Rp100 ribu. Namun uang Rp100 ribu tersebut juga tak diterimanya utuh karena dipotong Rp20 ribu, Rp5 ribu untuk minuman keras (miras) dan Rp15 ribu untuk sewa kamar. [tin/suf]

Tag : prostitusi

Komentar

?>