Selasa, 25 April 2017

Jelang Penggusuran Eks Lokalisasi Semampir

Prostitusi di Kediri, Walikota Kumpulkan Ulama dan Tokoh Masyarakat

Kamis, 08 Desember 2016 19:43:54 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Prostitusi di Kediri, Walikota Kumpulkan Ulama dan Tokoh Masyarakat

Kediri (beritajatim.com) - Menjelang deadline pengosongan eks Lokalisasi Semampir, Jumat (9/12/2016) besok, Walikota Keiri Abdullah Abu Bakar mengumpulkan para tokoh masyarakat (tomas) dan tokoh agama di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri. Di dalam pertemuan tersebut, mayoritas mendukung upaya penggusuran eks Lokalisasi Semampir sebagai langkah pemberantasan terhadap prostitusi.

Dukungan ini berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kediri dan para toga tomas. Namun, demiian, ulama mempertanyakan dampak sosial dari rencana penggusuran yang bakal dilakukan, pada 10 Desember 2016 nanti.

"Kami ingin tahu bagaimana langkah Pemkot Kediri untuk mengatasi persoalan sosial paska penggusuran nantinya. Bagaimana tentang nasib tempat tinggal mereka, sekolah anak-anak mereka,?" tanya Jamal, selaku Wakil II MUI Kota Kediri.

Pertanyaan tersebut diajukan kepada Walikota Kediri, karena memang ada sekitar 200 kepala keluarga KK yang menempati Eks Lokalisasi Semampir saat ini. Warga yang telah ber KTP Kota Kediri ini juga memiliki anak yang bersekolah di Kota Kediri. Tentu, dampak sosial ini perlu diselesaikan pemerintah daerah.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menjawab, bahwa Pemkot sudah memikirkan persoalan tersebut. Diantaranya, pemerintah telah membangun posko di Eks Lokalisasi Semampir. Petugas posko bakal mencatat dan membatu warga yang ingin berpindah tempat maupun memindahkan sekolah anak-anaknya. Selain itu, pemkot memberikan uang kerokhiman sebesar Rp 2,5 juta yang dapat dipergunakan untuk mencari tempat tinggal baru.

"Mereka bisa kos atau kontrak dengan uang kerokhiman yang kami berikan. Mereka juga bisa menempati Rusunawa Kelurahan Dandangan, karena apartemen rakyat ini memang diperuntukkan bagi masyarakat empat kelurahan diantaranya Kelurahan Semampir. Namun, demikian mereka harus memenuhi persyaratan, diantaranya adalah warga kurang mampu," tegas Abdullah Abu Bakar.

Seusai pertemuan, Mas Abu, panggilan akrab Walikota Kediri menyatakan tegas untuk tetap melanjutkan rencana penggusuran terhadap Eks Lokalisasi Semampir, meskipun kalangan DPRD telah mengeluarkan rekomendasi agar Pemkot menunda penggusuran hingga proses hukum selesai. Pemkot semakin percaya diri setelah mendapat dukungan dan arahan dari para toga dan tomas.

"Mereka tinggal disana sebagai penyewa. Masa sewa mereka sudah habis dan tidak kami perpanjang sejak tahun 2014 lalu. Pemerintah Kota akan mengambil kembali untuk kepentingan umum yaitu, pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH)," tandas Mas Abu.

Mas Abu menyadari, bahwa program alih profesi terhadap warga eks Lokalisasi Semampir khususnya pekerja seks komersial (PSK) sulit dilakukan. Pemerintah telah memberikan pelatihan menjahit kepada mereka, namun peminatnya terbilang sangat sedikit. Sementara, aktifitas prostitusi hinga kini tetap berlangsung.

"Program penutupan Eks Lokalisasi Semampir ini sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah kota jauh sebelum saya. Tetapi kenyataanya, praktek prostitusi masih saja berlangsung. Selain itu, data dari KPAD Kota Kediri, ditemukan beberapa kasus HIV/AIDS disana. Ini sudah sangat mengkhawatirkan sekali," kata Mas Abu.

Masih katanya, kali ini Pemkot tegas untuk melakukan penutupan dengan melakukan penggusuran. Mas Abu yakin tidak ada terjadi kericuan saat petugas meratakan bangunan-bangunan disana. Selain karena sudah dipersiapkan dengan matang, pihaknya juga meminta bantuan pengamanan dari aparat terkait. [nng/but]

Komentar

?>