Hukum & Kriminal

Satu Lagi, Tersangka Kasus Kredit Fiktif BRI Dijebloskan ke Tahanan

Surabaya (beritajatim.com) – Satu lagi tersangka kasus korupsi Kredit Modal Kerja (KMK) senilai Rp 10 miliar ditahan oleh penyidik Pidana khusus Kejaksaan Negeri Surabaya, Rabu (11/9/2019). Tersangka yang diketahui bernama Yano Octavianus Albert Manopo ini adalah seorang debitur palsu, hal itu disampaikan Kajari Surabaya Anton Delianto saat jumpa pers.

Dikatakan Anton, tersangka menggunakan identitas palsu untuk permohonan KMK dan bekerjasama dengan Mantan Associate Account Officer (AAO) pada BRI Cabang Surabaya Manukan Kulon, Nanang Lukman Hakim. Nanag lebih dulu ditetapkan tersangka. “Tersangka berinisial YOAM ini telah menikmati uang pencairan dana KMK sebesar seratus juta rupiah,” kata Anton.

Usai ditetapkan sebagai tersangka, pria yang tinggal di Jalan Bronggalan Sawah Surabaya ini langsung ditahan di Rutan Kelas I Surabaya di Kejati Jatim. “Tersangka kami tahan selama dua puluh hari kedepan untuk mempermudah proses penyidikan,” terang Anton.

Sementara saat ditanya terkait dugaan keterlibatan Mantan Pimpinan Cabang BRI Surabaya Manukan Kulon, Nur Azza Karim dalam proses pencairan kredit KMK tersebut, Anton mengaku masih mendalaminya. “Sementara itu dulu, kita masih mengembangkan lagi,” pungkasnya.

Untuk diketahui,Yano Octavianus Albert Manopo adalah orang ke empat yang ditetapkan sebagai tersangka kasus kredit KMK di Bank BRI Cabang Surabaya Manukan Kulon.

Sebelumnya, Penyidik Pidsus Kejari Surabaya telah menetapkan 4 orang lainnya sebagai tersangka. Mereka adalah Mantan Associate Account Officer (AAO) pada BRI Cabang Surabaya Manukan Kulon Nanang Lukman Hakim, Lanny Kusumawati Hermono debitur BRI yang diketahui sebagai pemilik panti pijat CC Cantik dan Nur Cholifah mantan pegawai Bank BRI (DPO) dan Agus Siswanto selaku debitur.

Kasus ini berawal pada 2018. Ceritanya, di BRI Cabang Surabaya Manukan Kulon terdapat proses pemberian Kredit Modal Kerja (KMK) Ritel Max Co kepada sembilan debitur. Pemberian kredit ini diberikan tersangka Nanang Lukman Hakim yang saat itu menjadi AAO. Saat proses pemenuhan persyaratan kredit, Nanang Lukman Hakim bersekongkol dengan tersangka Lanny untuk membuat kredit fiktif.

Dengan modus itu indentitas debitur dipalsu, legalitas usaha Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) debitur diduga juga palsu digunakan untuk mark up (penggelembungan) agunan dan penggunaan kredit tidak sesuai dengan tujuan kredit. [uci/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar