Hukum & Kriminal

Sidang Jalan Raya Gubeng Ambles

Saksi Sebut Pelaksana Proyek Tidak Laksanakan Saran Tim Peneliti

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur Dini Ardhani, Rahmat Hari Basuki mendatangkan saksi Ir Sugeng Setiawan dari PT Testana Enginering, perusahan yang khusus melakukan penelitian tanah dalam sidang kasus amblesnya jalan Raya Gubeng Surabaya.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai R Anton Widyopriyono, saksi yang juga sebagai pemilik CV Testana Enginering mengatakan, awalnya PT Testana Enginering sebagai perusahan yang khusus melakukan penelitian tanah menerima kontrak kerja dari PT Saputra Karya (SK) untuk melakukan survey 12 titik tanah di lokasi di jalan Raya Gunung untuk dilakukan pengeboran pembangunan Rumah Sakit Siloam.

“Ukuran yang di survei adalah 70 x 70 meterpersegi, yang meliputi 7 buah titik zondir,” kata Sugeng diruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (10/10/2019).

Menurut Sugeng ke tujuh titik koordinat zondir tersebut sesuai pesanan dari PT SK selaku kontraktor pembangunan, sebab PT SK sebelumnya sudah mendapatkan nasehat teknis dari konsultan mereka yakni PT Ketira Enginering.

“Survey tujuh titik zondir tersebut lazim dilakukan. PT SK kan sudah punya konsultan sendiri yaitu PT Ketira Enjinering, sebab PT Ketira Engineringlah yang memberikan nasehat teknis terkait tujuh titik koordinat Zondir tersbut,” tandasnya.

Dikatakan Sugeng, kesimpulan dari observasi pelapisan-pelapisan tanah yang dia lakukan di lapangan, didapatkan fakta bahwa diatas titik koordinat tanah di jalan Raya Gubeng No 88 hanya untuk bangunan 3 basemen dan 7 lantai saja.

” Pondasi itu hanya untuk 3 basemen dan 7 lantai. Sebab pada saat disurvei tidak ditemukan lapisan tanah keras,” kata Sugeng lagi.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai R Anton Widyopriono, Sugeng menyatakan bahwa rembesan air dikawasan jalan Raya Gubeng cukup besar, akibat derasnya aliran sungai Kayun yang ada di sekitar proyek. Sehingga pihaknya mengeluarkan 5 kesimpulan yakni, tidak disarankan penggunaan beton pracetak.

Disarankan agar menggunakan Bor Pile. Soal elevasi tanah yang cukup tinggi diperlukan tindakan-tindakan khusus agar dikakukan perhitungan terhadap galian dengan menggunakan Zonder Pile. Pekerjaan harus menggunakan instrumentasi pengamanan.

“Rembesan air dikawasan itu cukup besar. Sehingga debit air sungai yang ada disekitarnya perlu juga diperhitungkan, misalnya, diperbesar Bor Pilenya, atau ditambahi instrumen penyangga. Semua kesimpulan dari kami tidak dilakukan sepenuhnya oleh kontraktor pelaksana pembangunan,” pangkas Sugeng. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar