Hukum & Kriminal

Rekonstruksi Pembunuhan Preman Kampung di Malang Jalani 11 Adegan

10 orang tersangka pengeroyokan saat menjalani rekonstruksi tewasnya Juari di Polres Malang, Selasa (8/1/2019) siang.

Malang (beritajatim.com) – Kasus pengeroyokan terhadap Juari (41), warga Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, dilakukan rekonstruksi, Selasa (8/1/2019) siang. Reka ulang adegan penganiayaan berujung kematian terhadap Juari yang dianggap warga sebagai preman kampung, digelar di lapangan tenis Polres Malang. Rekonstruksi diperagakan oleh sepuluh orang pelaku.

Tujuh orang pelaku sudah menjalani masa tahanan di Polres Malang, sejak awal Desember 2018 lalu. Mereka yakni Suhartono, Khoirul alias Ndoweh, Eko Wahyudi, Kholik, Sadu Daroini, Mat Sair dan M Rudik alias Sarbo. Semuanya warga Desa Tumpukrenteng, Turen.

Sedangkan tiga pelaku lainnya, diperankan oleh penyidik Satreskrim Polres Malang. Pasalnya, sampai saat ini, ketiga pelaku masih buron. Yaitu Sulton, Suliono dan Sawi. Ketiganya ini diketahui sebagai otak kasus pengeroyokan tersebut. “Ketiga pelaku masih dalam perburuan. Makanya untuk perannya digantikan oleh penyidik,” ujar Kanit Idik III Satreskrim Polres Malang, Ipda Afrizal Akbar Haris, Selasa (8/1/2019) usai memimpin jalanya reka ulang.

Ada 11 adegan yang diperagakan oleh para pelaku pengeroyokan, dalam rekontruksi tersebut. Dari reka adegan, menggambarkan para pelaku terlihat sadis ketika mengeroyok korban Juari. Mulai dari para pelaku berkumpul, hingga akhirnya membubarkan diri usai melakukan pengeroyokan.

Eksekusi terhadap korban Juari, dimulai pada adegan keempat. Para pelaku masuk rumah yang langsung memukul korban saat sedang tertidur. Dengan potongan kayu mereka memukuli secara bertubi-tubi.

Kemudian para pelaku menyeret tubuh korban keluar rumah. Saat di jalan kampung, kembali mereka memukuli korban hingga akhirnya meninggal dunia. “Total ada sebelas adegan. Eksekusi pengeroyokan terhadap korban hingga akhirnya meninggal dunia, dimulai pada adegan keempat,” beber Afrizal Akbar.

Dikatakannya, para pelaku pengeroyokan ini masih bisa bertambah. Karena saat ini, kasusnya masih terus didalami sembari memburu tiga pelaku yang masih buron. “Setelah tiga pelaku yang buron tertangkap, kemungkinan pelakunya bisa bertambah. Karena saat kejadian pengeroyokan, ada banyak orang yang berada di TKP,” tandasnya.

Selama menjalankan reka adegan, para pelaku terlihat tenang. Mereka menjelaskan masing-masing perannya kepada penyidik. Para pelaku mengakui bahwa tindakannya memang salah. “Apa yang kami lakukan memang salah. Kami ikuti dan jalani proses hukumnya,” ucap salah satu pelaku.

Sekadar diketahui, Minggu (25/11/2019) dini hari lalu, Juari meregang nyawa. Dia dikeroyok kelompok orang tak dikenal, ketika berada di rumah adiknya, Farida, di Jalan Madura, Desa Tumpukrenteng, Turen. Juari dipukuli secara membabi buta di hadapan Jamiatul Masamah, istrinya serta adiknya, Farida.

Juari menjadi korban pengeroyokan, sesaat setelah menonton kuda lumping di Wajak. Tubuhnya diseret keluar rumah, kemudian dipukuli bertubi-tubi. Korban meregang nyawa karena mengalami sejumlah luka robek di kepala dan punggungnya. Dari kasus tersebut, dalam waktu enam hari penyelidikan, Polres Malang bersama Polsek Turen berhasil menangkap para pelakunya pada Sabtu (1/12/2018) dini hari. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar