Hukum & Kriminal

Akibat Tergiur Keuntungan Bagi Hasil

Puluhan Korban PT RHS Group Melapor ke Polres Kota Mojokerto

Puluhan warga korban investasi bodong saat melaporkan PT RHS Group ke Polres Kota Mojokerto. Foto : misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan korban investasi PT Rofiq Hanifah Sukses (RHS Group) di Mojokerto mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kota Mojokerto, Selasa (3/9/2019). Mereka melaporkan PT RHS Group setelah menjadi korban investasi bodong.

“Saya mendampingi perwakilan para korban investasi bodong, mereka yang selama ini percaya pada PT RHS. Bukan hasil yang didapat tapi kerugian. Bujuk rayu saudara Rofiq sebagai Direktur, jika investasi akan mendapatkan bagi hasil,” ungkap Kuasa Hukum Tuty Rahayu Laremba.

Masih kata Tuty, investasi sebanyak 110 korban tersebut bervariasi besarannya. Mulai dari Rp5 juta hingga Rp1 miliar. Namun investasi yang ditanam para korban tidak langsung, karena rata-rata para korban dibujuk rayu oleh terlapor untuk menambah investasi.

“Satu kali diberikan bagi hasil 5 persen, kemudian diiming-iming dikasih bonus lagi 10 persen dan 5 persen. Rata-rata tiga kali mendapatkan keuntungan bagi hasil, korban diiming-iming lagi sehingga kembali menanamkan investasi. Investasi ke bahan bangunan ke suplyaer tapi ternyata tidak ada,” katanya.

Sebanyak 110 korban tersebut dengan total kerugian kurang lebih Rp7 milyar berasal dari warga Mojokerto dan sekitarnya. Setidaknya ada tiga nama yang dilaporkan dalam kasus penipuan dan penggelapan investasi bodong tersebut yakni Direktur Moh Ainur Rofiq warga Blitar, Kepala Cabang Dwi dan Korlap Margi warga Kabupaten Mojokerto.

“Kantor di Jalan Ijen Kota Mojokerto tutup, buka cabang kota lain. Ada tiga nama yang dilaporkan untuk saat ini, direktur kepala cabang Dwi dan Margi. Mungkin bisa bertambah lagi karena saya sebut ini konspirasi kejahatan karena jumlahnya banyak. Yang bersentuhan langsung dengan korban kepala cabang dan korlap,” ujarnya.

Pasalnya, Kepala Cabang dan korlap yang mencari korban untuk didekati dan dibujuk rayu agar mau ikut investasi bahan bangunan. Menurutnya, sebelum para korban sepakat untuk melapor ke Polres Kota Mojokerto, para korban sudah pernah berkoordinasi dengan PT RHS Group terkait bagi hasil yang dijanjikan.

“Tapi hanya janji. Bukan hanya satu kali, tapi karena tidak ada itikad baik sehingga para korban memutuskan melaporkan ke sini (Mapolres Kota Mojokerto, red),” tegasnya.

Sementara itu, salah satu korban, Safi warga Kedungkwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini mengaku, sudah investasi sebesar Rp172 juta sejak tahun 2016 lalu. “Awalnya saya didatangi saat pengajian, mengenalkan diri dan menerangkan tentang investasi penanaman modal bidang bangunan,” tuturnya.

Investasi tersebut ada Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar 5 persen. Awal investasi sebesar Rp10 juta, keuntungan bagi hasil lancar hingga bulan ke 23. Ia kemudian menambah investasi sebesar 50 juta dan tambah lagi Rp112 juta. Namun setelah investasi ketiganya, keuntungan bagi hasil tersebut tidak diberikan.

“Setelah Rp112 juta itu tidak cair, sekitar 1,5 tahun ini tidak cair. Kantor yang di Jalan Ijen tutup, buka kantor di Sidoarjo tutup dan sekarang buka di Brangkal. Harapan kita uang kembali. Awalnya memang saya tergiur investasi ini karena tergiur keuntungan bagi hasilnya,” pungkasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar