Hukum & Kriminal

Diduga Potong Jasa Pelayanan, Kepala Puskesmas Widang Jadi Tersangka

Surabaya (beritajatim.com) – SP alias dr Shinta ditetapkan sebagai tersangka oleh Subdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim. SP diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan pada Senin (20/3/2019) lalu.

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan mengungkapkan, dr Shinta yang merupakan Kepala Puskesmas Widang Tuban ditangkap lantaran diduga kerap memotong Jasa Pelayanan (Jaspel) dari para karyawan Puskesmas.

“Bahwa kami Direktorat Kriminal Khusus Polda Jatim, khususnya Subdit Tipikor dibawah kepemimpinan daripada AKBP Rama telah melakukan kegiatan OTT di Puskesmas Widang yang ada di Tuban,” ucap Yusep, Kamis (28/3/2019).

Selain menangkap dr Shinta, dalam OTT petugas kepolisian juga mengamankan dana yang diduga hasil dari pemotongan dana Jaspel. Yakni, uang tunai sebesar Rp171 juta.

Selama pemeriksaan, dikatakan Yusep bahwa tersangka mengaku melakukan aksinya tersebut sejak empat bulan yang lalu. Dengan kisaran yang dipotong sebesar 40 persen dari dana Jaspel yang diterima. Nilainya, dari Rp100 ribu hingga Rp1 juta rupiah per karyawan dengan total 36 karyawan yang ada di Puskesmas Widang.

“Adapun dari pemotongan dari masing-masing karyawan yang dilakukan oleh Kepala Puskesmas dimana 40 persen dari hasil pemotongan ini masuk le rekening daripada Kepala Puskesmas ini,” lanjutnya.

Meski ditetapkan sebagai tersangka, dr Shinta tidak ditahan oleh Polda Jatim. Keputusan ini menurut Yusep, karena untuk sementara tenaga yang bersangkutan masih diperlukan di Puskesmas Widang.

“Namun apabila hasil penyelidikan dipandang perlu maka tidak menutup kemungkinan akan kita lakukan penahanan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Rama S Putra menjelaskan, dana Jaspel merupakan honor yang diberikan kepada tenaga medis dari BPJS berdasar jam pelayanan sehingga besaran dana Jaspel yang diterima antar pegawai bervariasi.

“Ketika dana Jaspel itu diterima oleh pegawai (Puskesmas) per bulan, ini si tersangka SP itu membuat perincian hitungan masing-masing pegawai itu dipotong berapa agar segera dibayarkan,” jelas AKBP Rama.

Karena dana Jaspel yang diterima setiap pegawai berbeda, dana yang dipotong untuk disetor kepada Kepala Puskesmas Widang pun berbeda. Salah satu petugas Puskesmas pun ditinjuk tersangka sebagai penampung yang tugasnya mengumpulkan semua hasil pemotongan dana Jaspel tersebut.

“Salah satu pegawai inisial M, itu ditunjuk untuk menagih. Kamu kena potongan sekian, kamu kena potongan sekian,” ucapnya.

Namun, M dalam penyelidikan kasus hingga saat ini masih berstatus sebagai saksi.

Lebih jauh disampaikan Rama, supaya kebijakan pemotongan dana Jaspel yang dibuat dr Shinta berjalan lancar tanpa timbul keberatan dari pegawainya. Tersangka sempat membuat surat pernyataan bermaterai yang berisi ketidak keberetannya atas pemotongan dana Jaspel mereka.

Untuk diketahui, kasus pemotongan dana Jaspel bukan kali ini berhasil diungkap jajaran Subdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim. Sebelumnya, kasus yang sama juga terjadi di Puskesmas Porong yang dilakukan oleh oknum dokter berinisial E.

Dokter E merupakan satu-satunya tersangka dalam kasus yang sebelumnya sempat memeriksa lima orang pegawai Puskesmas tersebut. Pengungkapan ini terjadi pada hari Minggu tanggal 16 September 2018 lalu. Dana Jaspel pada Puskesmas Porong tersebut sudah lama dilakukan pemotongan sebesar 15 persen dengan alasan untuk gaji tenaga honorer. [uci/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar