Hukum & Kriminal

Miras Maut Trenggalek

Polres Trenggalek Gerebek Home Industri Miras Palsu dari Kediri

Trenggalek (beritajatim.com) – Polres Trenggalek menggerebek home industri pembuatan minuman keras (miras) palsu di wilayah Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Petugas mengamankan empat orang tersangka beserta barang bukti ratusan botol berisi miras palsu beserta peralatan produksi.

Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo mengatakan, penggerebekan industri pembuatan miras palsu rumahan ini bermula dari kasus overdosis (OD) miras di wilayah Watulimo dengan korban tujuh orang. Dimana, tiga diantaranya meninggal dunia.

Korban tewas antara lain, Novian Mardiansyah (30) dan Hariyadi (45) keduanya warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek serta Endo (34) warga Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Sementara korban selamat Asep (26), Nanang (30), Rafli (27) dan Eko (27) keempatnya warga Desa Margomulyo. Keempatnya masih menjalani perawatan di RSUD dr. Iskak Tulungagung dengan kondisi mengalami gangguan penglihatan.

“Tim Gabungan dari Satreskrim, Narkoba dan Polsek Watuliomo mengungkap kasus yang berawal dari korban mengkonsumsi miras oplosan. Dari penyelidikan, miras yang dikonsumsi ini merupakan kandungan terdapat beberapa zat melebihi dari jenis metanol dan esen vodka yang dioplos oleh pelaku dan sudah diamankan dari Kabupaten Kediri,” kata AKBP Didit dalam pres rilis, Rabu (13/2/2018).

Keempat tersangka yang diamankan petugas masing-masing Hadi Suwito warga Desa Jati, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri yang berperan sebagai produsen miras, Sugiono warga Desa Wonosari Pagu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri sebagai pengecer, Samsul Anamm warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo sebagai pembeli dan Arik Setiawan beserta Rudi Sukamto, keduanya warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek sebagai pengoplos.

Tersangka Hadi Suwito mengakui, telah memproduksi miras palsu selama kurang lebih 10 tahun terakhir. Miras yang diproduksinya dari bahan air mineral, alkohol 98 persen dan esen vokda dengan takaran sendiri. Campuran miras itu kemudian dimasukkan ke dalam botol bekas miras berbagai merk seperti red label dan vokda. Sementara keahliannya ini didapat saat ia menjadi karyawan dari sebuah pabrik miras palsu.

“Untuk takarannya, setiap 1 liter alkohol saya campur dengan 1,5 liter alkohol dan 5 mililiter cairan esen. Kemudian saya aduk dalam sebuah ember. Setelah beberapa saat dilarutkan, kemudian saya tuang ke botol bekas minuman keras,” aku Hadi Suwito.

Residivis miras palsu ini biasa mendapatkan botol bekas miras dari kafe-kafe di luar Kediri dengan harga 30 ribu tiap botol. Sementara satu botol miras palsu buatannya dijual dengan harga Rp 98 ribu. Hadi berkilah, hanya melayani pembuatan dari pemesan. Biasanya, pesanan dari dari tempat-tempat hiburan.

Yang lebih ironis, proses pembuatan miras palsu ini dilakukan Hadi di kandang sapi miliknya. Lokasinya sangat kumuh dan berada di tepi sungai. Dia beralasan untuk menghindari petugas kepolisian.

Dalam kasus OD miras di Watulimo, miras buatan Hadi dibeli oleh Samsul kemudian dioplos oleh kedua tersangka, Arik dan Rudi. Miras itu, kemudian dikonsumsi oleh para korban. Para tersangka dijerat dengan pasal 204 ayat 1 dan ayat 2 dengan ancaman hukuman maksimal selama 15 tahun.

Diberitakan sebelumnya, tujuh orang warga Watulimo, Trenggalek menjadi korban overdosis setelah menggelar pesta minuman keras, pada 8 Februari 2019 lalu. Tiga orang korban tewas dalam perawatan di puskesmas dan rumah sakit. Sementara empat lainnya masih dirawat intensif.

Dari medical record rumah sakit, para korban mengalami OD miras. Dimana konsentrasi alkohol dalam darah sangat tinggi sehingga mengakibatkan korban lemas, pandangan kabur, sesak nafas dan gagal jantung yang mengakibatkan meninggal dunia. [nng/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar