Hukum & Kriminal

Gugatan Praperadilan Penyitaan Barang Bukti

Polres Lumajang dan QNet Sama-sama Optimistis Menang

Kediri (beritajatim.com) – Polres Lumajang optimistis bakal memenangkan gugatan praperadilan yang diajukan oleh Gita Hartanto selaku Direktur PT Amoeba Internasional dan Hendri Faizal, dari PT Akademi Wirausaha Indonesia (AWI) terkait dengan penyitaan barang dalam kasus MLM QNet. Pasalnya, pemohon justru lebih fokus pada materi pokok perkara dugaan penipuan investasi, bukan pada praperadilannya.

“Jalannya persidangan terkait praperadilan, bukan terkait materi pokok perkara. Ini hanya terkait proses pelaksaannya, apakah sudah sesuai apa belum,” kata Abdul Rohim, kuasa hukum Polres Lumajang usai sidang di Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Senin (2/12/2019).

Pemohon justru ‘masuk’ ke dalam materi pokok perkara yang akan diujikan pada persidangan pidana nantinya. Menurut Kasatreskrim Polres Lumajang AKP Hasran yang juga hadir di PN Kabupaten Kediri, tindakan yang dilakukan penyidik sudah profesional. Dalam perkara ini materi pokok adalah tindakan penggeledahan dan penyitaan dari lokasi yang diduga kantor dari salah satu direksti PT Amoeba.

“Kami datang sesuai prosedur, yang mengeluarkan izin dari Pengadilan Negeri. Jika dipandang melanggar pengadilan yang putuskan. Apa yang kami lakukan sudah profesional,” ujar AKP Hasran.

Pada sidang kali ini, Polres Lumajang menyerahkan dua bukti surat dan mendatang dua orang saksi dari penyidik. Mereka menerangkan saat melaksanakan tugasnya. “Insya Allah kita tunggu keputusannya hari Rabu. Karena besok masih kesimpulan. Mudah-mudahan tugas yang dijalankan Polres Lumajang sudah sesuai,” pintanya.

Rasa optimisme juga datang dari kubu pemohon. Melalui kuasa hukumnya, M. Solikin, berpendapat bahwa, ‘pembebasan pimpinan Qnet Madiun Karyadi oleh penyidik menjadi angin segar bagi mereka. Karyadi dilepas, karena mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Selain itu, masa penahanan tersangka sudah habis, sementara penyidik masih berusaha melengkapi berkas perkara.

“Dari saksi mereka ada dua orang anggota penyidik dan pembantu penyidik. Keterangan mereka itu terungkap bahwa pak Karyadi sudah dibebaskan dalam perkaranya yang LP-nya sama dengan klien saya,” jelas Solikin.

Pembebasan Karyadi, menurut Solikin, menunjukkan apabila perkara tersebut tidak bisa P-21 atau berkasnya tidak lengkap. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyidik kesulitan dalam melengkapi berkas.

“Maka selaras dengan pedapat ahli, yang condong bahwa kasus ini perdata. Adanya SP3 dari Mabes Polri, Polda Jatim terjawab juga, dari perkara pak Karyadi, penahanan dikeluarkan oleh penyidik, karena 29 masa pehananan habis, malam harisnya sudah dikeluarkan,” beber Solikin penuh semangat.

Pemohon mengajukan saksi ahli dari Universitas Padjajaran. Saksi menjelaskan tentang legalitas PT Amoeba dan PT AWI. Maka secara hukum, kedua perusahaan tersebut sah untuk menjalankan aktivitas atau menjual produk-produk dari PT Q.Net Indonesia.

Dengan demikian, Solikin meyakini penyidik Polres Lumajang telah menyalahi ketentuan wewenang mengadili hukum acara yang mengatur. “Penyidik yang berhak bukan dari Lumajan, kalaupun ini tindak pidana. Karena wilayahnya sempit sekitar Lumajang saja. Kalau mencoba melebarkan sayap ke Polres lain, tentunya harus ditujuk khusus dan tidak sembarangan,” ucapnya.

Sebelumnya, Direktur PT Amoeba Internasional dan PT AWI menggugat praperadilan penyitaan barang yang dilakukan Polres Lumajang di Kediri. Ada tiga poin pokok dalam materi gugatannya, pertama bahwa perusahaan tersebut legal, dan kasus serupa pernah ditangani pihak Polda Jatim dan Mabes Polri yang berujung dihentikan.

Poin terakhir, penyitaan barang oleh Tim Cobra Polres Lumajang terkait pengembangan kasus dugaan MLM milik Q-Net di Lumajang. Solikin menegaskan, tidak ada sangkut pautnya barang barang yang disita dengan perkara tersebut. Pemohon menuntut ganti rugi senilai Rp 10 rupiah, dari nominal ganti rugian sebelumnya Rp 100 miliar yang sudah direvisi. [nng/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar