Hukum & Kriminal

Polres Gresik Bongkar Prostitusi Bertarif Rp 100 Ribu Keatas

Gresik (beritajatim.com)- Aparat Kepolisian Resort (Polres) Gresik, kembali membongkar pratek prostitusi dengan tarif Rp 100 ribu keatas di sebuah warkop Kecamatan Cerme, Gresik. Dalam kasus tersebut, petugas penegak hukum setempat mengamankan mucikari bernama Hermin Hidayati (48) yang saat itu berada di dalam warkop.

“Ada dua wanita yang ditawarkan kepada pengunjung warkop oleh mucikari. Keduanya warga Bangkalan, Madura dan Surabaya usianya 46 tahun,” kata Wakapolres Gresik, Kompol Dhyno Indra Setyadi di Mapolres Gresik, Jum’at (24/1/2020).

Tersangka Hermin Hidayati sudah hampir satu tahun menjalankan bisnis prostitusi. Penghasilannya pun tidak menentu. Saat digrebek polisi, baru satu wanita yang laku kepada lelaki hidung belang.

“Tarifnya Rp 100 ribu. Dibagi dua, wanitanya dapat Rp 75 ribu sedangkan tersangka dapat Rp 25 ribu buat sewa kamar,” ungkap Dyno.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti. Diantaranya, satu buku catatan, uang sebesar Rp 100 ribu dan sprai di warkop tersangka.

Dalam praktiknya, para pengunjung warkop bisa memilih dua wanita penghibur yang disediakan Hermin. Kedua wanita asal Madura dan Surabaya itu tarifnya sama, yaitu Rp 100 ribu.

Selain menjual makanan, minuman, warkop milik Hermin juga dimodifikasi memiliki sebuah kamar untuk prostitusi. Kasus prostitusi tersebut juga terjadi di warung kopi di Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Gresik.

Warkop tersebut seperti warkop biasa. Kopi sachetan dipajang berjejer lengkap dengan gorengan. Selain memberikan layanan free wifi. Warkop tersebut ternyata menyediakan jasa esek-esek.

Ada tiga wanita penghibur duduk di dalam warkop. Mereka ditawarkan oleh seorang mucikari bernama Karni kepada para pengunjungnya. Saat siang hari, Karni nekat menawarkan ketiga wanita tersebut mulai siang hingga malam. “Untuk kasus ini kami juga mengamankan mucikarinya Karni,” papar Dyno.

Ketiga wanita yang ditawarkan adalah C dan A berusia 24 tahun, warga Lamongan dan S asal Nganjuk berusia 33 tahun.

Tarif yang ditawarkan tersangka sama. Ketiga wanita penghibur ditawarkannya kepada lelaki hidung belang dengan tarif Rp 120 ribu. Tersangka hanya mendapatkan Rp 20 ribu.

Atas perbuatannya itu, kedua mucikari tersebut dijerat dengan pasal 296 KUHP dan pasal 506 KUHP ancaman hukuman pidana penjara paling 1,4 tahun penjara.

Masih maraknya prostitusi di Gresik membuat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik, KH. Mansyur Shodiq miris. Menurutnya, prostitusi di Gresik didominasi pemain lama. Ada tiga wilayah yang menjadi lokasi prostitusi di Gresik.

“Gresik prostitusi masih ada di beberapa titik. Apalagi ini pelaku lama di Kecamatan Cerme, Kecamatan Kedamean dan Kecamatan Dukun,” katanya.

Dirinya mendukung penuh upaya pemberantasan praktik prostitusi di Gresik yang dijuluki Kota Wali. Gresik sebagai kota agamis ternyata masih disuguhkan oleh praktik prostitusi. Apalagi, berkedok warung kopi.

“Prostitusi di Gresik harus ditutup total. Prostitusi di Surabaya bisa ditutup kenapa di Gresik kok tidak bisa,” pungkasnya. (dny/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar