Hukum & Kriminal

Pelajar Bunuh Begal Karena Lindungi Pacar, Ini Tanggapan Mendikbud

Mendikbud RI, Muhadjir Effendy.

Malang (beritajatim.com) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy memberikan komentar terkait tindakan heroik yang dilakukan ZA  (17), pelajar asal Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. ZA  membunuh seorang begal karena berusaha mempertahankan kehormatan sang kekasih.

Menurut Muhajir itu sebagai tindakan yang bertanggungjawab karena berusaha melindungi kehormatan kekasihnya. Namun, Muhadjir menyerahkan proses hukum ZA ke polisi. “”Saya kira bagus. Menjadi contoh yang baik sebagai orang yang punya tanggungjawab. Soal meninggal dunia itu urusan polisi, saya tidak bisa banyak berkomentar,” ujar Muhadjir di Malang, Sabtu (14/9/2019).

Sebelumnya,  pada Minggu (8/9/2019) malam, ZA bersama kekasihnya berinisial V didatangi oleh kawanan begal. Misnan dan Ali Wafa yang menghampiri mereka berdua. Sedangkan dua rekannya standby di atas motor. Saat itu, Misnan meminta ZA menyerahkan harta bendannya, yakni handphone dan motor. ZA menuruti. Namun Misnan meminta pacar ZA juga diserahkan. Misnan berencana memperkosa V.

Hal itulah yang mematik emosi ZA. Dia sadar menyimpan pisau prakarya sekolah di dalam jok motor. ZA kemudian mengambilnya untuk melindungi diri dan pacarnya. Pisau itu ditusukan ke Misnan hingga tewas. Misnan menderita luka sedalam 6 hingga 8 centimeter.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung memastikan, demi masa depan ZA yang masih pelajar tidak dilakukan penahanan. Menurutnya, ZA tetap harus menjalani wajib lapor. Namun jadwal wajib lapornya akan diatur diluar jam sekolahnya.

Ujung mengatakan, Polisi sesuai kewenangannya hanya dapat melakukan proses penyidikan dan memberkas perbuatan materiil dalam perkara ini dan alat-alat buktinya. Hanya saja, tentu dengan memasukkan fakta-fakta sesuai cerita tersangka dan saksi-saksu di tempat kejadian perkara (TKP) sebagaimana latar belakang di atas.

Berdasarkan isi berkas perkara yang disajikan penyidik, baru nanti hakim di pengadilan yang akan memutus apakah perbuatan tersangka masuk kategori pasal 49 KUHP yang merupakan alasan pembenar sehingga bisa saja tersangka dibebaskan oleh Hakim.

“Namun perlu kembali digarisbawahi kalau hal ini menjadi ranah kewenangan hakim. Polisi atau penyidik tidak berwenang memutus ini dalam tahap penyidikan. Artinya, penyidik tidak punya kewenangan hukum menerapkan pasal-pasal alasan pemaaf maupun pembenar, harus tetap dengan putusan Hakim,” kata Ujung memaparkan.

Ia menambahkan, penyidik Polres Malang dapat menerapkan diskresi tidak melakukan penahanan berdasarkan pertimbangan kronologi cerita dan alasan subjektif lainnya. Tersangka ZA tidak dilakukan penahanan. Pertimbangannya,  ZA masih berstatus pelajar yang tetap harus melanjutkan studinya.

“Sementara hanya dikenakan wajib lapor di luar jam sekolah. Sementara untuk 2 orang teman dari begal yang meninggal sudah ditangkap dan kita tahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan begalnya,” ucap Ujung.

Ujung mengatakan, pihaknya berharap penanganan perkara ini tidak menjadi polemik karena pada prinsipnya penyidik adalah praktisi hukum yang hanya bisa melakukan semua tindakan sesuai hukum yang ada dalam hal ini KUHP dan KUHAP.

“Namun kembali lagi bahwa berdasarkan pertimbangan subjektif dan sosiologis, penyidik tidak menahan ZA selaku penikaman begal yang masih berstatus pelajar,” tandasnya. [luc/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar