Hukum & Kriminal

Pelajar Bunuh Begal demi Bela Pacar ternyata Sudah Beristri dan Punya Anak

Malang (beritajatim.com) – Fakta baru tewasnya seorang begal ditangan pelajar sekolah terungkap. ZA (17), korban begal sekaligus tersangka penusukan begal warga Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang itu, ternyata sudah beristri dan mempunyai seorang anak.

Kepastian itu disampaikan Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, Selasa (17/9/2019) siang di sela-sela pemeriksaan.

“Tersangka ZA ini ternyata sudah punya istri dan seorang anak. Sementara gadis yang dibawa ZA ketika diancam akan diperkosa kawanan begal, adik kelasnya yang masih sekolah kelas 2,” ungkap Iriana.

Menurut Iriana, meski sudah berstatus tersangka, sejauh ini ZA belum ditahan. Ia juga masih di bawah umur. “ZA ini sudah menikah secara sah tapi usianya masih muda. Proses menikahnya, ZA ini punya pacar, kemudian pacaran dan hamil. Lalu dinikahkan,” beber Iriana.

Sementara itu, DR. Wahyu Priyo Djatmiko SH.M.Hum, M.Sc selaku Saksi Ahli Hukum Pidana dalam kasus ZA ini mendukung upaya Satreskrim Polres Malang dalam menegakkan hukum.

Apa yang dilakukan ZA ini, bukanlah sebuah pembelaan diri yang wajar. Namun, lebih pada pembelaan diri yang berlebihan untuk to kill atau membunuh.

“Yang perlu dipahami masyarakat luas, kasus ZA ini berbeda dengan kasus pembegalan di Jakarta yang tersangkanya membawa senjata tajam. Pada kasus ZA ini, pelaku begal tidak bersenjata. Hanya memberikan ancaman jika akan memperkosa pacarnya apabila tidak menyerahkan ponsel. Tapi ternyata, ZA sendiri sudah menikah. Lalu siapa gadis yang bersama ZA itu,” terang Wahyu Priyo, Ahli Hukum Pidana Alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Kata Wahyu, upaya to kill atau membunuh yang dilakukan ZA lebih dari sekadar membela diri. ZA bahkan lebih dulu mengambil pisau dan menusukkan tepat di bagian yang mematikan. “Kenapa ZA harus menusuk di bagian jantung, kenapa tidak melukai mulut atau wajah dari begal itu, padahal pelaku begal tidak bersenjata. Setelah menusuk, ZA juga masih mengejar tersangka begal lainnya sambil membawa pisau,” ulas Wahyu.

Wahyu menambahkan, Polres Malang sudah tepat menetapkan ZA sebagai tersangka. Jangan sampai apa yang dilakukan ZA, justru dijadikan pembenaran untuk main hakim sendiri dan membunuh untuk membela diri. Harus dilihat secara utuh fakta-fakta dalam kasus ini. Analisa Polisi harus lengkap. Termasuk melihat kejiwaan ZA.

“Saya malah memohon agar ZA ditahan. Karena umurnya sudah 17 tahun, sudah menikah kok. Justru kalau gak ditahan, wah enak kok membunuh tidak ditahan karena berlindung di bawah Undang-Undang. Atau kalau tidak ditempatkan pada save house, untuk melihat kejiwaanya. Karena jika dibiarkan bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” papar Wahyu yang juga mantan dosen Unair Surabaya.

Masih kata Wahyu, undang-undang jangan dibaca hanya tekstual saja, tapi harus kontekstual. “Kata-kata membela diri, harus di dahului dengan tindakan penyerangan. Sementara dalam kasus ZA, pembegal tidak melakukan penyerangan,” pungkasnya. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar