Hukum & Kriminal

Pagar Nusa: Aksi Bom Bunuh Diri Tidak Dibenarkan Dalam Ajaran Agama

Jakarta (beritajatim.com) – Aksi bom bunuh diri di Polrestabes Medan diduga dilakukan oleh anak muda/mahasiswa bernama Rabbial Muslim Nasution. Ledakan bom bunuh diri ini mengakibatkan enam orang luka-luka.

“Pagar Nusa mengutuk aksi kekerasan bom bunuh diri. Apalagi yang disasar simbol aparat keamanan negara, yakni Polrestabes Medan,” ujar Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Muchamad Nabil Haroen, Rabu (13/11/2019).

Dia menegaskan, tidak dibenarkan dalam ajaran agama untuk aksi bom bunuh diri. Jihad atas nama agama dengan bom bunuh diri juga tidak relevan, apalagi Indonesia negara demokratis yang damai dan memberi kebebasan beribadah bagi semua pemeluk agama.

Menurutnya, saat ini aksi bom bunuh diri menyasar simbol keamanan negara. Setelah penusukan Jenderal Wiranto (saat itu jadi Menko Polhukam) di Pandeglang, Oktober 2019 lalu, kini bom bunuh diri menyasar aparat keamanan. Pelaku, baik personal maupun dengan jaringan, berupaya meruntuhkan kepercayaan publik pada negara.

“Aksi-aksi kekerasan dan bom bunuh diri begini tidak bisa dianggap enteng,” kata Gus Nabil.

Dia menilai, peristiwa ini merupakan ujian bagi pemerintahan Jokowi. Presiden Jokowi telah menunjuk beberapa Menteri yang memiliki fokus penanganan radikalisme. Jadi, aksi bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, merupakan ujian penting keseriusan negara menangani aksi radikalisme dan terorisme, serta mengantisipasi aksi serupa di waktu mendatang.

Dia mengatakan, Pagar Nusa menginstruksikan seluruh pendekar dan kader untuk siaga, menunggu komando dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Selama ini, pasca pengumuman Menteri Kabinet Indonesia Maju, PBNU telah percaya pemerintah siap dan sigap menangani radikalisme-terorisme.

“PBNU akan fokus mengurus peningkatan sumber daya umat, kesejahteraan ekonomi dan sosial,” ujarnya.

Gus Nabil juga mengatakan, Pagar Nusa menimbang program deradikalisasi perlu ditinjau ulang. Selama ini deradikalisasi hanya jadi seremoni. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, BNPT, dan sederet lembaga punya program deradikalisasi.

“Perlu ada rumusan ulang deradikalisasi, dengan mencontoh dan mereplika upaya deradikalisasi yang selama ini dikerjakan kiai-kiai dengan mengajar santri di pesantren,” kata Gus Nabil. (hen/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar