Hukum & Kriminal

Lahan RSUD Sampang Digugat Ahli Waris

Sampang (beritajatim.com) – Lahan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mohammad Zyn yang ada Kabupaten Sampang masih menyisakan persoalan. Pasalnya, rumah sakit berplat merah tersebut dibangun di atas lahan sengketa.

Hingga saat ini, polemik sengketa lahan tidak kunjung selesai antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dengan ahli waris.

Singkat cerita, menurut pengakuan ahli waris, tanah tersebut awalnya milik Marhatib/Marhallan yang diwariskan kepada Sidi/Rosidi. Kemudian Sidi/Rosidi mewariskan kepada Salim.

Secara dokumentasi, sebagaimana dalam peta desa, rumah sakit tercatat pada persil 76 dan 77. Di persil 76 status tanahnya adalah milik ahli waris, sedangkang pada persil 77 status lahannya adalah tanah pecaton.

Tapi ditemukan kejanggalan di peta desa. Yakni pada persil 76 berbunyi sebagai tanah percaton padahal persil 76 status tanahnya adalah milik ahli waris.

“Saya memiliki bukti dokumen kepemilikan tanah yaitu persil 76 atas nama Marhatib/ Marhallan berpetok D dengan nomor 353 yang diwariskan kepada Sidi petok C dengan nomor 590,” kata Salim sebagai ahli waris. Kamis (14/3/2019).

Baca Juga:

    Maka Salim mengklaim sebagain lahan RSUD adalah miliknya. Bahkan kepada kantor BPN Sampang, Salim meminta agar tidak menindak lanjuti proses sertifikasi lahan di RSUD.

    “Kami sudah melayangkan surat keberatan persoalan ini,” imbuhnya.

    Sementara itu, Kabag Hukum Sekretariat Pemkab Sampang, Harunur Rosyid membenarkan bahwa saat ini lahan di RSUD dilakukan proses sertifikasi ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat. Langkah itu dilakukan untuk menyelamatkan aset daerah.

    Tindakan ini berdasarkan pada proses sidang gugatan sengketa sudah ada kejelasan bahwa majelis hakim menolak syarat formil dari penggugat. “Syarat formil dari penggugat ditolak oleh majelis hakim. Maka Pemkab melakukan tahapan sertifikasi untuk menyalamatkan aset negara,” tegasnya. [sar/but]

    Apa Reaksi Anda?

    Komentar