Hukum & Kriminal

Keluarga Terlambat Lapor Dugaan Kejanggalan Kematian, Polisi Terpaksa Bongkar Makam

Sumenep (beritajatim.com) – Kematian Mistoyo (45), warga Desa Batang-batang laok, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, dinilai tidak wajar. Keluarga korban menduga, korban meninggal karena dibunuh.

“Keluarga korban akhirnya melaporkan dugaan ketidakwajaran dalam kematian korban. Kejadiannya tanggal 13 Desember 2018, namun keluarga korban baru melaporkan ke polisi pada 15 Desember 2018,” kata Kapolres Sumenep, AKBP Muslimin melalui Kasat Reskrim, AKP Tego S. Marwoto, Senin (04/04/2019).

Saat keluarga melaporkan ke kepolisian, jenazah korban telah dimakamkan. Untuk mengungkap kasus tersebut, maka aparat kepolisian pun terpaksa melakukan pembongkaran makam pada 18 Desember 2018.

“Kami juga mendatangkan tim dari laboratorium forensik (labfor) Cabang Surabaya untuk mengambil sampel cairan dari lambung dan kandung kemih korban, dan diteliti di labfor,” ungkapnya.

Kematian Mistoyo itu memang langsung menjadi perbincangan warga setempat. Mistoyo pertama kali ditemukan Hasiatun, anaknya, dalam kondisi kejang-kejang dan tidak sadarkan diri. Menurut keterangan istri korban, IS, Mistoyo baru saja menenggak minuman bersoda dicampur susu sachet dan telur yang dituangkan dalam sebuah gelas plastik.

Hosiatun yang melihat ayahnya kejang-kejang, langsung berteriak memanggil Haris, yang masih saudaranya. Korban kemudian dilarikan ke Puskesmas Batang-batang menggunakan mobil milik Haris. Namun nyawa korban tidak tertolong.

Sementara tiga saksi lain yakni Fawait, Syaiful, dan Purahya mengaku menemukan sebuah tas kresek hitam di WC belakang rumah korban. Setelah diambil, ternyata tas kresek itu berisi sebuah amplop putih. Dalam amplop itu terdapat bungkusan serbuk warna coklat.

Bungkus serbuk itu sudah terbuka, dengan bau yang sangat menyengat. Baunya persis dengan bau di gelas plastik yang digunakan Mistoyo minum susu soda. Saat sisa susu soda itu dicoba diminumkan pada ayam, hanya sekitar 3 menit berikutnya, ayam itu mati.

Istri korban, tersangka pelaku pembunuhan suaminya

“Hasil uji di labfor, ada kesesuaian antara cairan di tubuh korban, dengan barang bukti berupa sisa minuman yang diduga dibubuhi serbuk racun sianida. Dengan begitu, bisa dipastikan, sebab meninggalnya korban bukan karena penganiayaan, tapi karena diracun,” ungkap Tego.

Ia menjelaskan, polisi mengarahkan dugaan pelaku pembunuhan berencana itu kepada IS, istri korban. Mengingat usai kejadian, saat polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), IS gelisah dan berniat melarikan diri.

“Istri korban ini kemudian mengamankan diri di Polres, karena merasa takut dengan keluarga suaminya,” ujarnya.

Di hadapan penyidik, IS akhirnya mengakui perbuatannya, bahwa dialah yang membubuhkan racun sianida ke minuman suaminya. Saat itu suaminya meminta dibuatkan minuman berupa susu, fanta merah, dan telur. IS kemudian membubuhkan sianida, kemudian mengaduknya, dan menyajikan pada suaminya.

“IS kami tetapkan sebagai tersangka, dijerat pasal 338 subsider 340 KUHP, dengan ancaman pidana mati, atau seumur hidup, atau hukuman penjara 20 tahun,” terang Tego. (tem/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar