Hukum & Kriminal

Keluarga Betty Sayangkan Klaim PT Kasih Jatim

Sidoarjo (beritajatim.com) – Pernyataan Kuasa Hukum PT Kasih Jatim Sudiman Sidabukke soal klaim tanah seluas 29,19 hektar di Banyu Urip Kec. Kedamean Gresik dengan bukti 2 sertifikat terbitan 1997 dari BPN Gresik, milik kliennya, disayangkan keluarga ahli waris Bernadine Hendrika (Betty).

Keluarga Betty ahli waris dari Rasmani meminta agar tidak ada saling klaim kepemilikan tanah seluas 29,19 hektare tersebut. Karena saat ini tanah tersebut masih terjadi sengketa milik dan dalam proses Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung.

Penasihat hukum Betty dari Lembaga Bantuan Hukum (lbh) Wong Cilik, Jafaruddin Abdullah mengatakan, meski PT Kasih Jatim memiliki dua bukti sertifikat tanah di Banyu urip, pihaknya masih mengajukan PK terkait sengketa tanah tersebut.

“Novum yang kami sampaikan dalam PK semuanya baru dan otentik. Jadi jangan asal main klaim terhadap tanah tersebut,” kata Jafaruddin di kantor LBH Wong Cilik, di Sedati, Rabu (27/1/2019).

Jafaruddin mengungkapkan, karena masih terjadi sengketa milik, maka diharapkan PT Kasih Jatim tidak mengklaim kepemilikan terhadap tanah tersebut. “Kita tunggu keputusan hingga inkrah,” katanya.

Menurutnya, dalam putusan MA tidak ada satu pun ayat yang menyatakan jika tanah tersebut milik PT Kasih Jatim. Namun, sengketa itu harus diselesaikan dalam kasus perdata. Karena itu diharapkan, proses hukum terakhir melalui PK bisa ditunggu sehingga tidak ada klaim dari pihak manapun.

“Kita menghargai hukum dan menunggu hasil PK. Dan insya Allah dengan bukti yang asli, bukan dengan fotokopi, tanah tersebut akan kembali kepada pemiliknya,” terangnya.

Direktur LBH Wong Cilik Lukman Mualim dan Ricky memegang foto tahun 1994 Betty bersama lainnya saat berada di tanah yang disengketakan.

Ricky Gusnanto anak dari Betty menambahkan, novum yang dilampirkan dalam PK berisi lima bukti baru. Di antaranya, surat bukti kepemilikian mutlak eigendom atas nama Rasmani yang merupakan nenek dari Betty.

Surat tersebut dikeluarkan oleh kantor pendaftaran tanah pemerintah Hindia Belanda tangal 24 Juli 1933. Selain itu, juga diserahkan acte van eigendom verpondings nummer 148 atas nama Rasmani. Surat itu dikeluarkan oleh Dewan Kehakiman Pemerintah Hindia Belanda tanggal 15 Juli 1938. “Bukti-bukti otentik itu yang kami jadikan dasar bukti,” papar Ricky.

Direktur LBH Wong Cilik Lukman Mualim berharap, sebelum ada putusan inkrah dari sengketa milik tersebut tidak ada saling klaim. Sehingga, proses hukum bisa berjalan dengan lancar, adil dan jujur. “Kami juga punya bukti otentik yang sah,” tukasnya.

Seperti diketahui, Betty yang merupakan pejuang perang berupaya agar tanah seluas 29,19 hektare bisa kembali menjadi milik keluarga. Tanah bekas pabrik yodium dan kini masih terdapat bongkahan bekas tembok pabrik itu digunakan oleh keluarganya menjadi benteng perjuangan mengusir penjajah.

Sebelumnya, Kuasa Hukum PT Kasih Jatim Sudiman Sidabukke menegaskan, tanah itu bersertifikat dua buah. Keduanya atas nama kliennya PT Kasih Jatim. Tanah tersebut didapat PT Kasih Jatim usai kliennya mengajukan Surat keputusan Pemberian Hak (SKPH) kepada negara.

“Dan permohonan SKPH keluar pada tahun 1995 atas nama PT Kasih Jatim. Dan tahun 1997 keluarlah 2 sertifikat atas klien saya seluas 29 hektar itu,” dalih Sudiman Sidabukke kepada beritajatim.com. [isa/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar