Hukum & Kriminal

Kejari Kabupaten Mojokerto: Belum Tetapkan Tersangka Proyek Irigasi

Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Hingga kini Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto belum menetapkan tersangka indikasi perbuatan pidana dalam proyek pembangunan irigasi sumur dangkal di Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto tahun 2016. Penyidik menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp519.716.400 dari proyek dengan nilai pagu sebesar Rp 4,1 miliar.

Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono mengatakan, tidak ada kendala dalam kasus tersebut meski hingga kini pihaknya belum menetapkan tersangka. “Kita baik-baik saja. Saya tunggu teman-temannya penyidik ekspos ke saya untuk menetapkan tersangka,” ungkapnya, Rabu (9/10/2019).

Masih kata Kajari, pihaknya ingin dalam kasus tersebut Kajari Kabupaten Mojokerto fair. Sehingga untuk menentukan nama tersangka, pihaknya harus berhati-hati.

“Saya mau ini benar-benar fair, benar-benar tidak ada tumpangan, tidak ada beban. Jadi proses ini dari awal, saya hati-hati. Dari pengumpulan data teman-temannya intelejen kemudian diserahkan ke pak Agus (Kasi Pidsus), saya tanda tangani penyelidikan untuk perkara ini kemudian saya berani memutuskan ini naik penyidikan. Mereka (penyidik) belum ekspos, sabar lah,” katanya.

Terkait siapa saja yang bakal terseret menjadi tersangka dalam kasus tersebut, Kajari menegaskan, semua itu bukan rananya. Namun semua rana penyidik, sesuai dengan tahapan penyelidikan hingga penetapan nama-nama tersangka dalam kasus korupsi.

“Tanya pak Agus (nama-nama), saya tidak punya kewenangan. Kan Itu rana penyidik, ketua timnya kan pak Agus. Mereka (penyidik) belum ekspos (nama-nama). Tahapannya, teman-teman penyidik itu harus ekspos seluruh ke saya. Sebab ini kenapa melawan hukum itu? Supaya fair, supaya tidak ada dugaan saya tebang pilih,” tegasnya.

Namun, lanjut Kajari, dalam kasus korupsi menurutnya tidak mungkin dilakukan satu tersangka saja. Namun akan ada tersangka lain yang turut serta dalam sebuah kasus korupsi.

“Dan satu poin, tidak mungkin sendiri. Korupsi tidak mungkin sendiri, walaupun dia cuma. Ada yang membiarkan itu terjadi, biasanya dia mencegah. Pidana juga,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto, Agus Haryono menambahkan, jika tim penyidik sudah siap namun masih menunggu semua sudah siap. “Kita siap saja, moment itu pasti ada dan kita akan share ke teman-teman (media, red),” tambahnya.

Terkait pengunduran diri Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Kabupaten Mojokerto, Agus mengaku tidak tahu kebenaran kabar tersebut. Ia mengetahui kabar tersebut dari media massa saja. Terkait pengunduran diri Kadisperta apa ada kaitannya dengan kasus yang ditanggapinya, Agus tak mau berandai-andai.

“Tidak tahu (pengunduran diri Kadisperta), saya tidak update. Saya hanya baca di media massa saja. Saya tidak mau berandai-andai (keterlibatan Kadisperta), tunggu saja. Tidak lama, pasti teman-teman kita undang (ekspos penetapan tersangka),” tegasnya.

Sekedar diketahui, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kejari Kabupaten Mojokerto tengah menyelidiki indikasi perbuatan pidana dalam proyek pembangunan irigasi sumur dangkal di Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto tahun 2016. Penyidik juga menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp519.716.400 dari proyek dengan nilai pagu sebesar Rp 4,1 miliar.

Pembangunan irigasi air tanah dangkal atau sumur dangkal di Kabupaten Mojokerto ini terbagi dalam lima paket untuk pembangunan di 38 yang tersebar di 10 kecamatan. Berdasarkan kontrak, proyek untuk mendukung pengairan sawah petani itu menelan anggaran sebesar Rp3.709.596.000. Namun, dari nilai kontrak itu, anggaran yang diserap hanya Rp2.864.190.000.

Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Kabupaten Mojokerto Suliestyawati mengajukan pengunduran diri sebagai pejabat eselon II. Sumber menyebutkan, Sulies telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sejak 25 September lalu.

Surat pengunduran diri tersebut disampaikan ke meja Wakil Bupati Mojokerto, Pungkasiadi. Sumber menyebutkan pengunduran diri perempuan yang juga memegang kendali sebagai Plt Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto ini lantaran penyakit diabetes.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar