Hukum & Kriminal

Kejaksaan Beberkan Dua Pejabat Disdik Sampang Ditetapkan Tersangka

Sampang (beritajatim.com) – Penanganan kasus dugaan korupsi terhadap ambruknya proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di SMPN 2 Ketapang, Kabupaten Sampang, Tahun Anggaran 2017 lalu, kini ada tiga nama masuk dalam daftar Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) penyidik Polres Sampang yang sudah dilayangkan ke pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat.

“Sudah ada SPDP dari penyidik Polres yang dikirim ke kami beberapa hari yang lalu. Ada tiga nama dalam SPDP tersebut, dua diantaranya pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang, yakni inisial J dan R serta satu nama yaitu dari konsultan pengawas proyek itu,” terang Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sampang, Edi Sutomo, Jumat (12/7/2019).

Bahkan pihaknya menyatakan bahwa ketiga nama yang sudah masuk dalam SPDP tersebut dinyatakan sebagai tersangka. “Dalam SPDP itu, diberitahukan kalau ketiganya tersangka,” tegasnya.

Sebelumnya, pihak kejaksaan sempat mengembalikan berkas perkara tersangka Abd Azis, kasus dugaan korupsi SMPN 2 Ketapang lantaran dinilai belum lengkap. Selain itu pihaknya juga menilai ada potensi tersangka lainnya seperti PPK, Konsultan Perancanaan, Konsultan Pengawas karena terlibat langsung terhadap kegiatan tersebut.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Sampang, Ipda Puji Eko Waluyo tampak enggan membeberkan penanganan kasus tersebut secara gamblang. Hanya saja pihaknya menyatakan bahwa kasus tersebut masih dalam proses lidik dan sidik serta pemeriksaan saksi-saksi. Bahkan selain itu, pihaknya belum menyatakan ada tersangka baru dalam kasus tersebut

“Belum tersangka, kasus itu masih dalam proses lidik dan sidik dan pemeriksaan saksi-saksi,” singkatnya.

Sekadar diketahui, CV Amor Palapa milik Abd Azis dipinjam oleh MT (inisial) untuk kepentingan yang berkaitan dengan legitimasi memperoleh dan menjadi pelaksana proyek. Kemudian, Abdul Azis diberi uang Rp 2,5 juta karena telah meminjamkan CV nya.
Akhirnya, MT berhasil menjadi pelaksana proyek pembangunan RKB SMPN 2 Ketapang, senilai Rp 134 juta. Sayangnya, MT tidak mengerjakan sendiri proyek tersebut. Melainkan orang lain yang inisial NR.

Parahnya, MT tidak menyerahkan biaya proyek Rp 134 juta tersebut secara utuh kepada NR melainkan hanya menyerahkan sebesar Rp 75 juta. Meski begitu, NR tetap mengerjakan proyek pembangunan RKB tersebut sesuai anggaran yang diterimanya.

Hasilnya, gedung RKB ambruk tak lama setelah dinyatakan tuntas. Sejak itu, proyek tersebut jadi sorotan karena diduga kuat pelaksanaan pengerjaannya tak sesuai RAB.[sar/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar